BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Wawancara Khusus Tommy Welly: Mempertanyakan Konsistensi Pelatih Timnas Indonesia

21-06-2019 20:01 | Serafin Unus Pasi

Pengamat Sepakbola, Tommy Welly (c) Bola.com/Tengku Sufiyanto Pengamat Sepakbola, Tommy Welly (c) Bola.com/Tengku Sufiyanto

Bola.net - Kekalahan 1-4 Timnas Indonesia dari Yordania pada uji coba bertajuk FIFA Matchday, 11 Juni 2019, masih terekam dalam ingatan Tommy Welly. Pengamat sepak bola yang wajahnya kerap menghiasi layar televisi ini melontarkan sejumlah kritikan kepada pelatih Skuat Garuda, Simon McMenemy.

Towel, panggilannya, mengkritisi pakem 3-4-3 yang dikembangkan Simon. Pasalnya, lini belakang dinilainya menjadi titik terlemah Timnas Indonesia.

Formasi 3 bek tersebut telah dicoba oleh Simon pada partai debutnya sebagai pelatih Timnas Indonesia ketika mengalahkan Myanmar 2-0 pada 25 Maret 2019.

Saat menantang Yordania pada partai latih tanding keduanya bersama Timnas Indonesia, formasi tersebut gagal total. Skuat Garuda digempur tuan rumah dari wingback. Otomatis, tiga bek sejajar kelimpungan.

Setelah kekalahan menyakitkan itu, Tommy Welly menyinggung pemilihan formasi tiga bek Simon, juga lisensinya sebagai pelatih yang lebih rendah dibanding dua asistennya, Yeyen Tumena dan Joko Susilo.

Simon pemegang lisensi A AFC, sementara kedua asistennya mengantungi AFC Pro.

Bola.net berkesempatan untuk mewawancarai Tommy Welly secara singkat mengenai pandangannya terhadap Timnas Indonesia saat ini. Berikut petikannya:

Setelah Timnas Indonesia kalah 1-4 dari Yordania, Bung Towel menyentil strategi yang dipakai oleh Simon di akun Instagram pribadi. Memangnya, kenapa?

Kritikan atau masukan saya adalah terhadap sosok Simon Mcmenemy sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia senior. Jadi catat tuh. Pelatih Timnas Indonesia. Bukan pelatih tarkam (antar kampung). Artinya, tentu kalau jadi pelatih Timnas Indonesia siap untuk ada di kursi panas. Kenapa kalimat saya adalah kekalahan ini (dari Yordania) tanda-tanda alarm nyaring karena saat itu, Simon bermain dengan konsep 3-4-3 dan 3-5-2.

Soal konsep bermain itu haknya pelatih, mau tiga kek mau empat kek itu urusan pelatih. Tapi waktu lawan Yordania jelas terlihat bahwa Simon tidak bisa melakukan konsep itu kepada para pemain. Jadi pada waktu uji coba melawan Yordania, yang saya soroti adalah Simon tidak bisa menerapkan konsep bermain dengan menggunakan tiga bek atau tiga centre back. Tidak bisa menerapkannya, tidak bisa mengimplementasikannya di lapangan. Anak-anak kikuk bermain, serba salah. Kan itu poinnya tuh, pelatih Timnas Indonesia gagal.

Jadi mau bermain berapapun (konsep) terserah karena dia punya gagasan. Tapi gagasannya tidak bisa diwujudkan di lapangan, itu poinnya. Kenapa dalam tulisan itu kaitannya saya bilang bahwa di kompetisi jarang sekali atau tidak ada tim yang menggunakan konsep itu, karena harusnya, ini kritikan saya lagi, bahwa kompetisi itu produknya adalah Timnas Indonesia.

Timnas Indonesia itu produk dari kompetisi. Kenapa Inggris menunjukkan perbaikan kualitas terutama di Piala Dunia 2018 masuk ke babak semifinal, karena di kompetisinya juga terjadi peningkatan. Sehingga Inggris sebagai muara kompetisi mendapatkan manfaatnya. kan itu kalau saya memberikan argumen contoh, makanya saya kaitkan dengan kompetisi.

Baca lanjutan wawancaran kami dengan Bung Towel di bawah ini

1 dari 2 halaman

Komentar Bung Towel

Lalu mengapa Bung Towel juga menyinggung masalah Lisensi yang dimiliki Simon?

Kenapa saya kritik juga menyangkut soal lisensi, karena lisensi menang tidak bisa menjadi faktor utama kualitas seorang pelatih. Tapi dalam sepak bola modern tidak bisa begitu. Syarat utama seorang pelatih tim nasional adalah minimum A (konfederasi). Kan begitu. Seharusnya pro lisensi (konfederasi) karena kebanyakan negara sudah menggunakan pro lisensi.

Yang saya mau soroti sebetulnya adalah paradoks. Asistennya Simon yang orang Indonesia, yang lokal itu, sudah mengenyam pro lisensi, generasi pertama pro lisensi. Jadi kalau secara lisensi, secara edukasi, asisten pelatihnya memiliki lisensinya memiliki lisensi lebih tinggi dari pada pelatih kepalanya.

Tapi ini mindset sepak bola negeri ini rupaya, bahwa meskipun asistennya lebih tinggi mereka bersedia, atau belum punya kapabilitas menjadi pelatih kepala. Paradoks yang harus diambil, bukan ukurannya di lisensi gitu. Justru paradoksnya, justru mindset-nya yang saya mau kritisi. Yang saya kritisi adalah mindset cara berpikir sepak bola negeri ini. Anda punya lisensi yang lebih tinggi tapi anda bersedia jadi sekedar asisten karena kalau pun dinaikan menjadi pelatih kepala, anda belum punya kapabilitas untuk menduduki posisi itu, bayangkan paradoks kan.

Nah, sekarang kalau Simon merasa yakin bahwa dia mau melakukan konsep tiga bek kenapa melawan Vanuatu dia mengubahnya menjadi empat bek. Artinya, dia sendiri mengakui bahwa waktu melawan Yordania, konsep main dengan tiga pemain belakang, tiga centre back itu gagal dia terapkan. Makanya melawan Vanuatu dia main dengan empat bek di belakang. Kalau dia memang punya konsep, gagasan sejak awal mau bangun Timnas Indonesia dengan main tiga bek sejajar misalnya, tapi buktinya dia berubah lawan Vanuatu karena ketidakeyakinan dirinya.

Kan kalau dalam uji coba yang harus dilihat bukan hanya sekedar skor semata tapi juga adalah bagaimana tim itu bermain, kan begitu. Jadi kritikannya adalah terhadap seorang Simon karena tim nasional diukur dengan hasil result, goals, dan sasaran dari pelatih tim nasional adalah tomorrow berarti result. Beda dari goal seorang direktur teknik atau dirtek. Dirtek tanggung jawabnya goalnya adalah masa depan sepak bola Indonesia. Jadi dia mempersiapkan sepak bola Indonesia selama 5-10 tahun ke depan. Tapi untuk Simon, apalagi di FIFA Matchday, result tentunya.

Mau coba-coba, mau bereksperimen, mau apa itu urusan dia, tetapi eksperimen dia bisa diterapkan tidak di lapangan? Kalau waktu lawan Yordania konsep dia tidak bisa diimplementasikan oleh pemain di lapangan, kegagalan siapa, kegagagalan pelatih. Jadi ada tiga makna kalau dipakai argumen itu harus dijelaskan, kualitas pelatih, konsepnya gagal diterapkan.

Yang kedua kaitan dengan kompetisi, jangan sampai kompetisi bagaimana, tim nasional bagaimana, tidak nyambung. Yang ketiga adalah soal cara berpikir sepak bola Indonesia terhadap sosok pelatih tim nasional yang dipunya dari sudut pengetahuan lisensi maupun dari pengalaman. Jadi kendala pelatih kita, asisten kita lebih tinggi lisensinya tetapi mereka juga bersedia jadi asisten. Karena mungkin, juga dianggap belum cakap jadi pelatih kepala. Padahal lisensinya lebih tinggi. Kan begitu, itu mengkritisi cara berpikir.

2 dari 2 halaman

Lalu menurut Bung Towel, baiknya Simon memakai pola apa di Timnas Indonesia?

Apapun cocok saja asal bisa menerapkannya. Kan yang penting prinsip bermainnya benar, pemilihan pemain-pemainnya benar. Mau konsep tiga pemain di belakang, mau main empat pemain di belakang, asal pemilihan pemainnya benar dan prinsip pemainnya benar, pelatih bisa menjabarkan dengan benar pula, ya bagus-bagus saja.

Antonio Conte sewaktu di Juventus bagus dengan 3-4-3 dan 3-5-2. Massimiliano Allegri di Juventus juga bisa terapkan itu. Misalnya begitu. Kan kita bicara sepak bola modern. Jadi pelatih kepala punya wewenang untuk mainkan konsep apapun. Tapi dia harus bertanggung jawab, konsep yang dia pilih bisa dia jabarkan di lapangan. Tapi yang menyedihkan di Yordania konsep itu amburadul di lapangan. Nah, pertanyaannya buktinya kalau dia yakin dengan konsep tiga bek, teruskan dong pada uji coba berikutnya. Kan konsepnya berubah waktu melawan Vanuatu.

Mungkin, Simon masih mencari pola permainan terbaik untuk Timnas Indonesia?

Iya betul. Mencari-cari betul. Makanya saya mengkritisi waktu melawan Yordania, dia tidak bisa menerapkan konsep itu ke pemain. Saya paham dia mencari-cari, tapi karena dia pelatih tim nasional, dia bukan pelatih klub, posisinya sekarang dia adalah pelatih tim nasional suatu negara yang dalam karier kepelatihan adalah paling tinggi. Maka sekalipun dia masih coba-coba atau segala macam, dia siap untuk dipantau, dinilai. Dan penilaian saya sebagai pengamat sepak bola, dia gagal menerapkan konsep yang dia mau waktu melawan Yordania.

Kalau soal mau main tiga bek, main empat bek, monggo. Karena itu adalah otoritas dia sebagai pelatih. Tapi mau bermain dengan cara apapun kelihatan di lapangan, mainnya begitu. Alurnya, polanya itu kelihatan. Ini kan amburadul saat kalah dari Yordania. Kritikannya itu, jadi sebagai pelatih, dia gagal mempersiapkan pemainnya untuk memainkan pola itu.

Harry Maguire Resmi Jadi Bek Termahal di Dunia

KOMENTAR