BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Timnas Indonesia di Piala AFF 2014 dan 2016, Pelatih Sama, Performa Berbeda

25-06-2020 11:10 | Gia Yuda Pradana

Alfred Riedl (c) AFF Alfred Riedl (c) AFF

Bola.net - Timnas Indonesia masih mendambakan trofi juara Piala AFF. Hingga gelarannya yang ke-12 sejak pertama kali pada 1996, belum sekalipun Tim Garuda mampu menjadi juara. Sejauh ini, prestasi terbaik Timnas hanya 5 kali menjadi runner-up.

Dalam perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF, satu nama yang cukup diingat adalah sosok Alfred Riedl, pelatih asal Austria yang pertama kali menangani Tim Garuda di Piala AFF 2010, di mana saat itu Indonesia menjadi tuan rumah fase grup bersama Vietnam. Tim Garuda tampil atraktif saat itu dan menjadi runner-up untuk keempat kalinya dalam sejarah turnamen.

Setelah itu, Timnas Indonesia dua kali ditangani lagi oleh Alfred Riedl, yaitu di Piala AFF 2014 dan Piala AFF 2016. Tidak hanya ditangani oleh pelatih yang sama, persiapan yang dijalani Tim Garuda saat itu hampir serupa.

Alfred Riedl harus mempersiapkan tim dengan kondisi yang tidak ideal. Pada 2014, Alfred Riedl mempersiapkan tim dalam fase gejolak kepengurusan PSSI yang belum berakhir, di mana sebelumnya ada dualisme kompetisi antara Indonesia Super League dan Indonesia Premier League.

Sementara pada 2016, Alfred Riedl harus mempersiapkan tim setelah Indonesia lepas dari sanksi FIFA. Apalagi saat itu tim-tim yang berkompetisi di Torabika Soccer Championship 2016, yang menjadi pengganti vakumnya kompetisi resmi, hanya mengizinkan Riedl mengambil maksimal dua pemain. Bisa dibayangkan bagaimana pusingnya kepala Riedl saat itu.

Namun, satu hal yang aneh adalah hasil yang diraih Timnas Indonesia dalam dua gelaran Piala AFF itu berbeda jauh. Tim Garuda tidak bisa banyak berbuat pada edisi 2014, di mana Zulham Zamrun dkk. tak mampu melaju jauh dan terhenti di fase grup.

Sementara pada 2016, Zulham Zamrun dkk. mampu berusaha keras untuk lolos dari fase grup hingga akhirnya melangkah hingga laga final, meski lagi-lagi harus merasakan pahitnya kegagalan menjadi juara dan hanya menjadi runner-up untuk kelima kalinya dalam sejarah. Bagaimana perjalanan Timnas Indonesia dalam dua edisi Piala AFF itu? Berikut ulasannya.

1 dari 2 halaman

Awal yang Cukup Baik, Kemenangan yang Terlambat

Pada Piala AFF 2014, Alfred Riedl membawa sejumlah pemain yang pernah menjadi kesayangannya saat membimbing Timnas Indonesia di Piala AFF 2010. Sebut saja Zulkifli Syukur, Cristian Gonzales, Firman Utina, dan Muhammad Ridwan.

Riedl juga membawa sejumlah pemain bintang lain, seperti Kurnia Meiga, Boaz Solossa, Rizky Pora, Imanuel Wanggai, Supardi Nasir, Hariono, Manahati Lestusen, dan Fachruddin Aryanto.

Sejumlah pemain naturalisasi selain Cristian Gonzales juga diberikan kepercayaan masuk skuat Garuda. Raphael Maitimo, Victor Igbonefo, dan Sergio van Dijk masuk dalam tim.

Selain itu, Alfred Riedl juga membawa Evan Dimas Darmono yang cemerlang bersama Timnas Indonesia U-19 saat menjuarai Piala AFF U-19 2013 dan membawa timnya lolos ke Piala AFC U-19 2014.

Namun, Timnas Indonesia dihadapkan oleh tim kuat sejak pertandingan pertama fase grup. Vietnam, yang merupakan tim tuan rumah, menjadi lawan dan kedua tim bermain imbang 2-2. Zulham Zamrun dan Samsul Arif menjadi pencetak gol Tim Garuda yang sempat dua kali tertinggal lebih dulu.

Bermodalkan satu poin menghadapi tim kuat di laga pertama, Timnas Indonesia cukup optimistis menghadapi laga kedua kontra Filipina. Namun, The Azkals bukan lagi seperti tim yang dikalahkan oleh Indonesia di semifinal Piala AFF 2010.

Alfred Riedl harus melihat tim asuhannya dibombardir oleh Filipina dan menyerah 0-4 pada akhir laga. Kekalahan yang tentu saja memperkecil peluang Timnas Indonesia untuk lolos ke semifinal.

Meski pada akhirnya menang telak 5-1 atas Laos dalam laga terakhir fase grup, di mana Evan Dimas mencetak gol pembuka dalam pertandingan tersebut, Tim Garuda harus pulang dari Vietnam dengan kepala tertunduk.

2 dari 2 halaman

Perjalanan Panjang Penuh Haru yang Berakhir Tragis

Timnas Indonesia hampir saja tidak bisa mengikuti Piala AFF 2016 karena sanksi yang diberikan oleh FIFA kepada PSSI pada 2015. AFF saat itu memberikan tenggat waktu kepada Indonesia hingga 5 Agustus 2016 untuk bisa lepas dari sanksi tersebut jika ingin berpartisipasi di Piala AFF 2016.

Beruntung, sanksi tersebut dicabut FIFA dalam Kongres ke-66 Organisasi Sepak Bola Dunia itu pada Mei 2016. Tim Garuda pun bisa berpartisipasi dan Alfred Riedl kembali ditunjuk untuk menggelar pemusatan latihan.

Namun, tantangan Alfred Riedl cukup besar. Mayoritas klub yang bermain di Torabika Soccer Championship 2016 tidak ingin kehilangan pemain-pemain terbaiknya. Hingga akhirnya dari kesepakatan antara Timnas Indonesia, PSSI dan klub, Alfred Riedl diperbolehkan memanggil dua pemain dari setiap klub saat menjalani pemusatan latihan dan memboyong pemain ke Filipina.

Dalam kondisi serbaterbatas itu, Alfred Riedl yang cukup kesal tetap menerima kenyataan itu dan melakukan pemusatan latihan terus menerus hingga jelang keberangkatan ke Manila. Bahkan pada hari terakhir sebelum berangkat, pelatih asal Austria itu dibuat pusing dengan cedera yang dialami Irfan Bachdim yang kemudian tak bisa dibawanya.

Pada akhirnya Alfred Riedl membawa 23 pemain terbaik yang bisa dimilikinya. Kurnia Meiga, Boaz Solossa, Stefano Lilipaly, Ferdinand Sinaga, Zulham Zamrun, Rizky Pora, Fachrudin Aryanto, Andik Vermansah, dan Beny Wahyudi ada dalam tim tersebut.

Selain itu, tak hanya membawa Evan Dimas sebagai pemain muda yang sudah dicobanya sejak Piala AFF 2014, Alfred Riedl juga membawa serta Hansamu Yama Pranata, dan Yanto Basna sebagai pemain muda dalam tim tersebut. Terakhir, sebagai pemain pengganti Irfan Bachdim, Alfred Riedl memanggil mantan rekan setim para pemain muda itu di Timnas Indonesia U-19 yang menjuarai Piala AFF U-19 2013, Muchlis Hadi.

Dengan segala keterbatasannya, Timnas Indonesia akhirnya harus memulai turnamen dengan kekalahan 2-4 dari Thailand di laga pertama fase grup. Gol yang dicetak Boaz Solossa dan Lerby Eliandry tak mampu membantu Tim Garuda meraih poin dalam laga pertama.

Timnas Indonesia harus menghadapi Filipina di laga kedua, seperti halnya yang terjadi pada edisi 2014. Namun, kali ini Tim Garuda mampu bermain cukup baik dan meraih poin pertama setelah bermain imbang 2-2. Fachruddin Aryanto dan Boaz Solossa mencetak gol dalam laga itu.

Thailand yang sudah meraih dua kemenangan pun memastikan diri lolos meski belum memainkan laga ketiga kontra Filipina. Sementara itu, Timnas Indonesia dan Singapura yang sama-sama mengoleksi satu poin harus meraih kemenangan kala bertemu dalam laga terakhir fase grup sembari berharap Thailand tak memberikan poin kepada Filipina.

Timnas Indonesia bermain lepas. Meski sempat tertinggal lebih dulu dari Singapura, Andik Vermansah dan Stefano Lilipaly mampu mencetak gol yang mengantarkan Tim Garuda menang 2-1. Plus dengan kemenangan 1-0 yang diraih Thailand atas Filipina, Timnas Indonesia melangkah ke semifinal.

Berhasil melangkah ke semifinal dengan kerja keras, Timnas Indonesia dihadapkan dengan lawan yang kuat, Vietnam. Dalam dua laga yang digelar secara home and away, Timnas Indonesia lebih dulu menjadi tuan rumah dan meraih kemenangan 2-1 atas Vietnam di Stadion Pakansari, Cibinong. Hansamu Yama dan Boaz Solossa memberikan peluang kepada Tim Garuda untuk lolos ke final.

Namun, ketika bertandang ke Vietnam, Timnas Indonesia harus kalah 1-2 dari tuan rumah dalam waktu normal 90 menit. Hal itu membuat laga harus dibawa ke babak perpanjangan. Beruntung, dalam babak tambahan itu, Indonesia mendapatkan penalti dan Manahati Lestusen mampu mengeksekusi dengan baik untuk membawa Tim Garuda ke final.

Publik Indonesia bersiap untuk melihat Tim Garuda menjadi juara Piala AFF. Apalagi dalam leg pertama final yang digelar di Bogor, Rizky Pora dan Hansamu Yama mampu membawa Tim Garuda menang 2-1 atas tamunya.

Namun, gelar juara kembali terlepas dari Timnas Indonesia. Tim asuhan Alfred Riedl itu gagal mempertahankan keunggulan ketika bertandang ke Bangkok dan kalah 0-2 dari Thailand dalam laga tersebut.

Disadur dari: Bola.com/Benediktus Gerendo Pradigdo

Published: 25 Juni 2020

KOMENTAR