Program Naturalisasi untuk Timnas Indonesia, Sampai Kapan akan Dilakukan?

Gia Yuda Pradana | 18 Juli 2022, 09:08
Calon pemain naturalisasi, Sandy Walsh. (c) PSSI
Calon pemain naturalisasi, Sandy Walsh. (c) PSSI

Bola.net - Sampai kapankah program naturalisasi pemain-pemain keturunan untuk Timnas Indonesia akan dilakukan? Anggota Exco PSSI, Hasani Abdulgani memberikan sebuah jawaban yang menarik.

Program naturalisasi terus dilakukan untuk kepentingan Timnas Indonesia, terutama naturalisasi pemain keturunan. Sejauh ini, ada tiga pemain keturunan yang sedang diproses untuk menjadi WNI.

Mereka adalah Jordi Amat, Sandy Walsh, dan Shayne Pattynama. Proses naturalisasi ketiganya sudah berlangsung sejak tahun 2021 lalu.

Program naturalisasi ini bukan kali pertama dilakukan Indonesia. Sudah ada puluhan pemain lain yang dinaturalisasi sejak tahun 2010 silam.

Kini, timbul pertanyaan. Sampai kapan program naturalisasi ini dilakukan? Apakah mungkin di masa depan kita melihat 11 pemain yang menjadi starter di skuad Timnas semuanya pemain keturunan?

1 dari 4 halaman

Batasannya Lebih pada Etika

Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 2023 (c) PSSI

Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 2023 (c) PSSI

FIFA memang belum merumuskan regulasi mengenai peraturan pemain naturalisasi dalam sebuah tim, apalagi buat negara yang memperbolehkan dwikewarganegaraan. Contohnya adalah Michail Antonio, yang memiliki paspor Inggris dan Jamaika.

"Tidak ada batasan naturalisasi dari FIFA. Tidak ada hukumnya, tapi lebih pada etika kita. Mau enggak kita diisi oleh pemain luar semua? Saya rasa tidak lah," kata Hasani Abdulgani.

Hasani lantas memiliki standar atau acuan mengenai seberapa banyak pemain naturalisasi yang bisa membela Timnas Indonesia. Menurutnya, maksimal ada empat pemain naturaliasi.

"Tiga atau empat oke lah, tapi kalau 11 ya enggak lah," sambungnya.

2 dari 4 halaman

Jadi Pemicu Perkembangan Pemain Lokal

Shayne Pattynama, calon pemain naturalisasi Timnas Indonesia (c) dok. PSSI

Shayne Pattynama, calon pemain naturalisasi Timnas Indonesia (c) dok. PSSI

Ada anggapan, kedatangan pemain keturunan di Timnas Indonesia punya dampak buruk. Utamanya adalah terhadap perkembangan pemain lokal, mengenai kesempatan mereka untuk bermain di Timnas Indonesia.

Hasani justru melihat hal yang sebaliknya. Ia merasa kedatangan pemain keturunan justru bisa menjadi pemicu bagi pemain lokal untuk lebih berkembang.

"Sifat manusia kalau enggak dikasih tantangan dia manja, comfort, tapi kalau dikasih challenge, dia selalu ingin lebih," ujar Hasani.

"Berbicara aspek sepak bola, tentu ini soal kompetisi. Kalau kita ambil pemain luar, tentu mereka (pemain lokal) harus bersaing," sambungnya.

3 dari 4 halaman

Membuka Jalan ke Eropa

Jordi Amat bergabung dengan Johor Darul Tazim (JDT) (c) Instagram JDT

Jordi Amat bergabung dengan Johor Darul Tazim (JDT) (c) Instagram JDT

Lebih lanjut, Hasani kemudian menyatakan keuntungan lain memakai pemain keturunan, terutama mereka yang lama bermain di Eropa. Misalnya saja, Jordi Amat, Sandy Walsh, dan Shayne Pattynama.

Ketiganya bisa menularkan pengalaman kepada pemain lokal, terutama kepada para pemain muda. Selain itu, ketiganya juga bisa membuka jalan bagi pemain muda Indonesia untuk mencoba berkarier di Eropa.

"Jordi misalnya, dia kan lama di Eropa. Pemain muda kita bisa belajar dari dia juga, dan membuka jalan ke Eropa," tandas Hasani.

4 dari 4 halaman

Beda Kewarganegaraan Ganda dan Naturalisasi

Suporter Timnas Indonesia (c) Bola.com/M. Iqbal Ichsan

Suporter Timnas Indonesia (c) Bola.com/M. Iqbal Ichsan

Indonesia adalah satu dari sedikit negara yang tidak memberlakukan kewarganegaraan ganda. Dengan demikian, tak ada warga negaranya yang memiliki dua paspor.

Berbeda dengan negara-negara lain di Eropa, Amerika Selatan, maupun Afrika, mereka menerapkan kewarganegaraan ganda. Dalam konteks sepak bola, kita bisa mengambil contoh Jorginho (Italia-Brasil), Thiago Alcantara (Spanyol-Brasil), dan Jonathan Cantillana (Chile-Palestina).

FIFA juga tidak mempersoalkan kewarganegaraan ganda. Namun, yang terpenting, pemain yang sudah pernah membela timnas senior suatu negara tertentu tidak boleh membela timnas negara lainnya.

Hal ini pernah berlaku pada Declan Rice, gelandang West Ham. Meski sempat membela Irlandia U-21, ia akhirnya mantap memilih Timnas Inggris untuk karier internasionalnya.

Disadur dari: Bola.com/Hery Kurniawan/Gregah Nurikhsani, 17 Juli 2022

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR