Piala AFF: Mengenang Surat Terbuka Eli Cohen dan Rumor Suap pada Piala AFF 2010

Asad Arifin | 2 Desember 2021, 15:26
Kolase - Timnas Indonesia 2 di Piala AFF. (c) Bola.com/Adreanus Titus

Bola.net - Piala AFF 2020 bakal segera digelar. Ajang ini bakal dihelat di Singapura, 5 Desember 2021 - 1 Januari 2022.


Dalam ajang ini, Timnas Indonesia tergabung di Grup B. Selain Skuad Garuda, grup ini dihuni VIetnam, Kamboja, Laos, dan Malaysia.

Bagi para pencinta sepak bola Indonesia, ajang ini merupakan gelaran yang dinanti-nanti. Pasalnya, Piala AFF diharapkan bisa menjadi ajang bagi Timnas Indonesia menghapus dahaga gelar mereka.

Harapan itu muncul seiring beberapa kali Timnas Indonesia melaju ke partai puncak turnamen tersebut. Salah satu momen 'hampir' tersebut terjadi pada tahun 2010.

Simak artikel selengkapnya di bawah ini.

1 dari 8 halaman

Antiklimaks di Partai Puncak

Timnas Malaysia ketika menjuarai Piala AFF 2010. (c) AFP/Adek Berry

Pada gelaran AFF 2010, Timnas Indonesia melaju mulus ke partai puncak. Di partai penentuan -yang dihelat dalam dua leg- Timnas Indonesia bertemu dengan Malaysia, yang pada babak kualifikasi dikalahkan dengan skor 5-1.

Secara matematis, tak akan sulit bagi skuad besutan Alfred Riedl tersebut melewati adangan Malaysia dan menjuarai ajang ini. Namun, perjalanan Skuad Garuda justru antiklimaks di partai puncak.

Pada leg pertama, yang diwarnai insiden laser, Skuad Garuda kalah dengan skor 0-3. Tiga gol Malaysia pada laga yang dihelat di Stadion Bukit Jalil, 26 Desember 2010, dicetak Safee Sali (dua gol) dan Mohd. Ashaari Shamsuddin.

Kemudian, pada leg kedua yang dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 29 Desember 2010, Skuad Garuda mampu mengalahkan Malaysia dengan skor 2-1. Tertinggal lebih dulu melalui gol Safee Sali, Timnas Indonesia mampu membalas melalui gol-gol M. Ridwan dan M. Nasuha.

Kendati menang pada leg kedua, Timnas Indonesia harus gagal meraih gelar juara. Secara akumulasi gol, mereka kalah dari Harimau Malaya, julukan Timnas Malaysia.

2 dari 8 halaman

Berbuah Surat Kaleng

Kegagalan Timnas Indonesia pada ajang ini berbuntut panjang. Sekitar sebulan setelah gelaran Piala AFF 2010 usai, beredar surat kaleng dari seseorang yang mengaku bernama Eli Cohen. Eli Cohen adalah nama samaran dari sosok yang mengaku sebagai pegawai Dirjen Pajak.

Surat kaleng ini dikirim Cohen ke alamat surel dinas Presiden RI waktu itu, Susilo Bambang Yudhoyono, dan redaksi dua media olahraga nasional. Namun, salinan surat tersebut sempat beredar luas melalui media sosial.

Berikut selengkapnya isi surel Eli Cohen:

From: eli cohen <pengawaipajak@gmail.com>
Date: Sun, 30 Jan 2011 14:36:16 +0700
To: <Sby@presiden.go.id>; <redaksi@bolanews.com>; <topskor@cbn.net.id>

Subject: Mohon Penyelidikan Skandal Suap saat Piala AFF di Malaysia

Kepada Yth.
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Republik Indonesia
Di Jakarta

Dengan Hormat,

Perkenalkan nama saya Eli Cohen, pegawai pajak di lingkungan kementrian Keuangan Republik Indonesia. Semoga Bapak Presiden dalam keadaan sehat selalu. Minggu ini saya membaca majalah tempo, yang mengangkat tema khusus soal PSSI. Saya ingin menyampaikan informasi terkait dengan apa yang saya dengar dari salah satu wajib pajak yang saya periksa dan kebetulan adalah pengurus PSSI (maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya).

Dari testimony yang disampaikan ternyata sangat mengejutkan yaitu adanya dugaan skandal suap yang terjadi dalam Final Piala AFF yang dilangsungkan di Malaysia.

Disampaikan bahwa kekalahan tim sepak bola Indonesia dari tuan rumah Malaysia saat itu adalah sudah ditentukan sebelum pertandingan dimulai. Hal ini terjadi karena adanya permainan atau skandal suap yang dilakukan oleh Bandar Judi di Malaysia dengan petinggi penting di PSSI yaitu XX* dan XXX*. Dari kekalahan tim Indonesia ini baik Bandar judi maupun 2 orang oknum PSSI ini meraup untung puluhan miliar rupiah.

Informasi dari kawan saya, saat dikamar ganti dua orang oknum PSSI ini masuk ke ruang ganti pemain (menurut aturan resmi seharusnya hal ini dilarang) untuk memberikan instruksi kepada oknum pemain. Insiden "laser" dinilai sebagai salah satu desain dan pemicunya untuk mematahkan semangat bertanding.

Keuntungan yang diperoleh oleh dua oknum ini dari Bandar judi ini digunakan untuk kepentingan kongres PSSI yang dilangsungkan pada tahun ini. Uang tersebut untuk menyuap peserta kongres agar memilih XX* kembali sebagai Ketua Umum PSSI pada periode berikutnya.

Saya bukan penggemar sepak bola, namun sebagai seorang nasionalis dan cinta tanah air saya sangat marah atas informasi ini. Nasionalisme kita seakan sudah dijual kepada bandar judi untuk kepentingan pribadi oleh oknum PSSI yang tidak bertanggung jawab. Oleh karenanya saya meminta Bapak Presiden untuk melakukan penyelidikan atas skandal suap yang sangat memalukan ini.

Semoga Tuhan memberkati negara ini.

Hormat Kami,
Eli Cohen
Pegawai Pajak

Tembusan
1. Menteri Olah Raga
2. Ketua KPK
3. Ketua DPR
4. Ketua KONI

catatan: XX dan XXX adalah dua nama pejabat PSSI. Eli Cohen mengungkap inisial dua pejabat ini. Namun, demi alasan etis, inisial ini disamarkan.

3 dari 8 halaman

PSSI Kebakaran Jenggot

PSSI (c) Bola.com/Nicklas Hanoatubun

PSSI sendiri kebakaran jenggot dengan adanya rumor tersebut. Humas PSSI waktu itu, Tubagus Adhi, menyebut bahwa adanya aksi pengaturan skor ataupun penjualan hasil laga leg pertama Piala AFF 2010 adalah omong kosong.

"Saya rasa mustahil bakal terjadi suap atau semacam itu. Apalagi ini sebuah momen yang berat bagi PSSI. Ada banyak hal yang menghambat langkah PSSI baik dari luar maupun dalam," tutur Tubagus Adhi, kepada Bola.net, waktu itu.

Menurutnya, wajar jika ada pengurus PSSI yang masuk ke ruang ganti pemain di laga itu. Bukan untuk memberikan instruksi kotor, ia menyebut, masuknya pengurus PSSI ini justru untuk menyuntikkan semangat kepada tim.

"Nggak masalah. Asalkan mendapat izin dari head coach saya rasa nggak apa-apa. Mereka ke kamar ganti itu untuk menunjukkan rasa kepedulian terhadap perjuangan skuad timnas Indonesia," tegasnya.

4 dari 8 halaman

Riedl Bantah Timnya Kebobolan

Alfred Riedl. (c) AFP

Bantahan terkait isi surat Cohen juga datang dari Alfred Riedl. Pelatih Timnas Indonesia pada ajang AFF 2010 ini menampik ada dua orang petinggi PSSI masuk ke ruang ganti dan mengondisikan sejumlah oknum pemain.

"Saya berada di dalam ruang ganti dan tidak ada orang lain masuk ruang ganti. Kalau ada pasti langsung saya usir. Tidak masalah siapa pun orangnya," kata Riedl.

"Saya sangat tegas dengan masalah ini karena ingin melindungi pemain saya. Saya jamin hal itu 100%," tegasnya.

5 dari 8 halaman

Penjelasan Bambang Pamungkas

Bambang Pamungkas (c) ESA

Penjelasan terkait kondisi ruang ganti tim pada final Piala AFF 2010 ini juga datang dari Bambang Pamungkas. Salah seorang penggawa Timnas Indonesia ini menyebut bahwa apa yang ditulis dan disebarkan melalui surat kaleng tersebut berbeda jauh dari kenyataan yang terjadi.

"Di Bukit Jalil, tidak ada satu pun pengurus atau kerabat pengurus yang masuk ke ruang ganti, baik sebelum, saat jeda pertandingan, maupun setelah pertandingan. Yang ada di ruang ganti ketika itu hanyalah manajer (Andi Darussalam Tabussala) dan asisten manajer (Iwan Budianto)," papar Bepe -sapaan karibnya- seperti dinukil dari buku BEPE 20 PRIDE.

Alih-alih menyebut adanya upaya penyuapan atau pengaturan pertandingan, Bepe menyebut ada hal lain yang menjadi biang kekalahan Timnas Indonesia pada leg pertama lalu. Hal tersebut, sambung legenda sepak bola Indonesia ini, adalah insiden sinar laser, yang sempat memicu para penggawa Skuad Garuda mogok bermain.

"Sejujurnya, kita merespons insiden sinar laser dengan terlalu berlebihan. Hal tersebut membuat kita kehilangan konsentrasi selama sepuluh menit. Dan, dalam 10 menit itulah Malaysia mampu mengambil keuntungan dengan mencetak tiga gol," tegasnya.

6 dari 8 halaman

Tak Ada yang Janggal

Bambang Pamungkas (c) Bola.net

Bepe pun menilai tak ada yang janggal dalam permainan rekan-rekannya. Ia mengakui ada sejumlah kesalahan yang dibuat rekan-rekannya pada laga tersebut. Namun, ia tak mau buru-buru berspekulasi kesalahan tersebut merupakan hal yang disengaja.

"Menurut saya, itu manusiawi. Setiap pemain pasti pernah melakukan kesalahan di lapangan," papar Bepe.

"Di belahan dunia manapun dan sebintang apa pun, seorang pemain akan selalu berpotensi melakukan kesalahan," sambungnya.

7 dari 8 halaman

Menpora Perintahkan Usut

Ilustrasi Piala AFF. (c) Bola.com/AFF Suzuki Cup

Sengkarut yang terjadi akibat surat kaleng ini membuat Menteri Pemuda dan Olahraga waktu itu, Andi Mallarangeng berang. Ia pun meminta polisi mengusut dugaan terjadinya perilaku lancung tersebut.

Saya sudah menerima tembusan email tersebut, sudah saya baca. Dari segi substansi, saya sangat terkejut," ujar Mallarangeng, waktu itu.

"Kalau apa yang disampaikan itu benar, maka tentu saja bukan kriminalitas biasa, tapi pengkhianatan pada negara. Kita tidak mau hanya surat kaleng saja. Butuh bukti yang jelas," sambungnya.

8 dari 8 halaman

Menghilang di Awang-Awang

Namun, pengusutan kasut tersebut bak hilang di awang-awang. Tak pernah ada kepastian apakah yang terjadi di Bukit Jalil pada malam tersebut atau di Bukit Bintang, beberapa malam sebelumnya. Sempat juga muncul kabar bahwa sejumlah oknum pemain bertemu dengan bandar judi di Bukit Bintang, sebuah kawasan hiburan di Malaysia.

Pengusutan surat kaleng Eli Cohen ini seakan tenggelam dalam karut-marut konflik kepengurusan di PSSI. Belakangan ini, ketika mulai banyak whistleblower match fixing bersuara pun tak ada upaya untuk mengusut lagi kebenaran informasi Eli Cohen tersebut.

Walhasil, sejauh ini, yang muncul hanyalah dugaan dan prasangka.

(Bola.net/Dendy Gandakusumah)

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR