Hampir Mirip Luis Milla, Inilah 3 Taktik Shin Tae-yong untuk Timnas Indonesia

Ari Prayoga | 7 Juni 2020, 17:17
Shin Tae-yong (c) Fitri Apriani
Shin Tae-yong (c) Fitri Apriani

Bola.net - Dilihat dari sisi teknis, Timnas Indonesia era kepelatihan Shin Tae-yong tak mengalami perubahan terlalu drastis dengan era Luis Milla. Pasalnya, keduanya memiliki strategi yang hampir serupa.


Saat ini Shin Tae-yong memang masih mengalami kendala untuk mempersiapkan dan membangun skuat asuhannya. Pandemi virus corona COVID-19 membuatnya harus memantau anak-anak asuhnya dari jauh, terutama Timnas Indonesia U-19 yang dipersiapkan untuk Piala Dunia U-20 2021.

Namun, harapan pencinta sepak bola Indonesia tinggi terhadap mantan pelatih Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2018 itu. Pendukung Tim Garuda berharap Shin bisa membawa Timnas Indonesia menjadi tim yang cukup diperhitungkan di level internasional.

Sayangnya, Timnas Indonesia U-19 di bawah Shin Tae-yong belum menunjukkan tajinya pada awal-awal kedatangannya. Tim Garuda Muda kalah dalam tiga laga uji coba terakhir, yakni melawan Busan IPark, Kyung Hee University, dan Seongnam FC.

Namun, itu masih laga uji coba. Hasil tersebut tak begitu membebani Shin Tae-yong. Menurut mantan pelatih Korea Selatan itu, hasil dalam laga uji coba itu bukan tujuan utamanya. Mengacu pada hal tersebut, Shin Tae-yong tidak tinggal diam.

Kini pelatih asal Korea Selatan itu tengah memantau pemusatan latihan virtual yang dilakukan Timnas Indonesia U-19. Tim ini memang yang akan cukup menjadi sorotan. Selain akan tampil di Piala AFC U-19 2020, tim ini akan dipersiapkan untuk tampil di Piala Dunia U-20 2021.

Satu hal yang menarik, Bola.net menemukan fakta tentang rencana Shin Tae-yong yang mulai terbaca. Ada setidaknya tiga strategi Shin Tae-yong yang hampir mirip dengan milik Luis Milla. Berikut perinciannya.

1 dari 3 halaman

Regenerasi Pemain

Seperti halnya ketika Luis Milla baru tiba di Indonesia, Shin Tae-yong juga menerapkasn regenerasi pemain dalam skuatnya. Sebagai bukti, dalam daftar pemain yang dipanggil mengikuti TC Kualifikasi Piala Dunia 2022, yang kemudian harus ditunda karena pandemi COVID-19, cukup banyak pemain berusia muda.

Pada 2017, Luis Milla juga sempat menerapkan strategi yang sama ketika mempersiapkan tim senior. Luis Milla kerap memanggil lebih banyak pemain muda demi menyukseskan persiapannya untuk SEA Games 2017 dan Asian Games 2018. Namun, hal itu berubah setelah kedatangan Simon McMenemy.

Pelatih asal Inggris itu lebih mempercayakan pemain kaya pengalaman dalam skuatnya. Sebelum dirombak Shin Tae-yong, ada sembilan pemain di atas 30 tahun yang dipanggil Simon McMenemy untuk Kualifikasi Piala Dunia 2022.

2 dari 3 halaman

Penguasaan Bola

Luis Milla menegaskan filosofi gaya permainan yang akan diterapkannya untuk Timnas Indonesia U-22 untuk SEA Games 2017 adalah sepak bola menyerang. Namun, tentunya bukan asal menyerang begitu saja.

Pelatih asal Spanyol itu terus melatih timnya dengan small side games saat menggelar pemusatan latihan. Metode latihan tersebut terbukti ampuh ketika dalam pertandingan, di mana para pemain Timnas Indonesia mampu mengalirkan bola dengan baik dengan umpan-umpan pendek dan jarak antarpemain yang begitu terjaga.

Ya, poinnya ada di penguasaan bola. Itu mirip dengan strategi Shin Tae-yong saat ini bukan? Shin juga berusaha agar pemainnya bisa cukup lama mengendalikan bola.

Itu sebabnya, Shin menyuruh pemain Timnas Indonesia U-19 berlatih teknik-teknik dasar terlebih dahulu ketimbang muluk-muluk berlatih skill kelas bintang.

3 dari 3 halaman

Tak Perlu Banyak Striker

Masih pada tahun yang sama, Luis Milla tercatat hanya memanggil empat pemain yang berposisi sebagai striker, yakni Dendy Sulistyawan (Bhayangkara FC), Ahmad Nur Hardianto (Persela Lamongan), Muhammad Dimas Drajad (PS TNI), dan Marinus Mariyanto Wanewar (Persipura Jayapura) dalam skuatnya.

Luis Milla memang tak ingin punya banyak striker di skuat racikannya saat itu. Menurut Milla, tak seharusnya kewajban mencetak gol hanya dibebankan kepada penyerang.

Masih ada pemain di posisi lain yang juga bisa diandalkan, seperti pemain sayap atau geladang. "Jadi menyerang untuk mencetak gol itu bisa melalui penyerang dan sayap kanan serta kiri," ucap Milla.

Lagi-lagi, hal itu mirip dengan strategi Shin Tae-yong. Saat ini, pelatih asal Korea Selatan itu juga hanya merekrut empat striker ketika baru menggelar pemusatan latihan perdananya pada awal 2020, yakni Ilija Spasojevic, Lerby Eliandry, Irfan Jauhari Bali, dan Muhammad Rafli.

Sementara untuk posisi sayap dan gelandang, Shin Tae-yong memanggil setidaknya 14 orang.

Disadur dari: Bola.com (Benediktus Gerendo Pradigdo, Yus Mei Sawitri)

Published: 7 Juni 2020

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR