BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Arjen Robben Akhirnya Buka Suara Soal Busuknya Manajemen Real Madrid

26-05-2019 00:30 | Richard Andreas

Arjen Robben (c) AFP Arjen Robben (c) AFP

Bola.net - Legenda Bayern Munchen, Arjen Robben sudah mendekati akhir kariernya. Robben sudah menyampaikan salam perpisahan pada Bayern ketika mereka menjuarai Bundesliga beberapa waktu lalu, dia belum pasti bakal pensiun atau bergabung dengan klub yang masih mau menerimanya.

Kini, di ujung kariernya, Robben mengingat kembali masa-masa terbaiknya. Dia bercerita soal perkembangannya di Real Madrid yang terpaksa berakhir lebih cepat. Robben menyesali masa singkatnya di Los Blancos.

Sebagai salah satu winger terbaik, Robben hanya bisa bertahan dua tahun di Real Madrid. Dia merumput di Santiago Bernabeu pada 2007-2009. Masa yang singkat untuk pemain yang sedang berada dalam puncak permainannya.

Robben pada akhirnya tidak menyesali masa singkatnya di Madrid, sebab berkat itulah dia bisa bergabung dengan Bayern Munchen. Biar begitu, tetap saja ada perasaan mengganjal di hatinya, dia merasa diperlakukan tak adil. Apa itu? Baca ulasan selengkapnya di bawah ini ya, Bolaneters!

1 dari 2 halaman

Perubahan Presiden

Robben, ternyata, merupakan salah satu korban program Los Galacticos ala Florentino Perez. Saat itu, Perez kembali ditunjuk sebagai presiden El Real, dan dia datang dengan proyek ambisius untuk mendatangkan pemain-pemain top seperti Cristiano Ronaldo, Kaka, Karim Benzema, dan lainnya.

"Saya merasa kesulitan karena perubahan presiden di Madrid. Saat itu saya merasa sangat nyaman dan bermain dengan baik, tetapi kebijakan klub telah berubah dan saya tidak punya kesempatan," tutur Robben kepada Goal internasional.

"Itu bukan cuma karena Cristiano Ronaldo, Florentino Perez kembali sebagai presiden dan membeli Kaka, Karim Benzema, dan Xabi Alonso."

"Klub telah menghabiskan banyak uang dan berkata pada saya bahwa mereka harus mendapatkan uang [lalu menjual saya]," sambungnya.

2 dari 2 halaman

Catatan Buruk

Pada buku kariernya yang gemilang, ada dua lembaran buruk yang menghiasi perjalanan Robben. Tahun 2010 mungkin merupakan salah satu tahun terburuk baginya. Kala itu, Robben kalah di dua final penting: kalah di final Liga Champions bersama Bayern; dan kalah di final Piala Dunia bersama timnas Belanda.

"Pada satu sisi, itu sangat mengecewakan, tetapi ada begitu banyak momen hebat pada tahun itu."

"Kami boleh jadi kalah di final Liga Champions, tetapi mencapainya merupakan kejutan masif, dan kami juga meraih dua gelar domestik," imbuh Robben.

"Tidak ada yang menduga kami [Belanda] bisa mencapai final Piala Dunia, tetapi ketika anda mencapainya, anda ingin jadi juara, dan anda tak akan pernah tahu apakah akan mendapatkan kesempatan itu lagi," tutupnya.

Detik-Detik Jokowi Umumkan Kabinet Indonesia Maju

KOMENTAR