'Suzuki Hengkang Karena Para Bosnya Tak Anggap MotoGP Penting'

Anindhya Danartikanya | 27 Mei 2022, 11:40
Pembalap Suzuki Ecstar, Joan Mir (c) AP Photo
Pembalap Suzuki Ecstar, Joan Mir (c) AP Photo

Bola.net - Manajer pribadi Joan Mir, Paco Sanchez, masih menolak percaya bahwa keputusan Suzuki Motor Corporation (SMC) untuk hengkang dari MotoGP pada akhir 2022 ditengarai kendala finansial. Kepada Crash.net, Selasa (24/5/2022), Sanchez menyebut bahwa SMC ingin pergi karena para dewan pimpinannya tak menganggap MotoGP penting.

SMC memberitahukan hal ini secara tertutup kepada skuad Suzuki Ecstar di sela tes tengah musim di Jerez, Spanyol, awal Mei. Kabar ini bikin seluruh tim syok, termasuk Mir dan Alex Rins. SMC pun kemudian banjir kritik karena tak langsung memberi penjelasan secara resmi dan mendetail karena kala itu Jepang dalam masa liburan 'Golden Week'.

Pengumuman resmi akhirnya dirilis oleh SMC jelang Seri Le Mans, Prancis, dua pekan lalu. Mereka mengaku keterbatasan bujet akibat krisis ekonomi global membuat mereka terpaksa mengalihkan sumber daya yang dimiliki untuk mengembangkan teknologi baru di divisi lainnya. Namun, Sanchez yakin Suzuki sama sekali tak kekurangan biaya.

1 dari 2 halaman

Bukan Karena Kurang Sponsor

Pembalap Suzuki Ecstar, Alex Rins (c) AP Photo

Pembalap Suzuki Ecstar, Alex Rins (c) AP Photo

"Saya rasa kurangnya sponsor utama bukan faktor signifikan dalam keputusan hengkang. Kurang lebih saya tahu besaran angka yang dibayarkan sponsor, dan ini bukan dampak besar bagi pabrikan. Satu-satunya sponsor besar di sini (MotoGP) adalah Repsol. Sponsor utama lainnya cuma kacang kalau dibanding-bandingkan," tutur Sanchez.

Pria yang juga manajer Maverick Vinales dan Remy Gardner ini juga menyebut bahwa tiap pabrikan MotoGP memiliki bujet cukup besar sekalipun tanpa sponsor. Sanchez mengambil contoh Monster Energy, yang diperkirakan hanya membayar 4-6 juta euro, yakni sekitar 10% dari bujet 50-60 juta euro yang dikeluarkan Yamaha.

"Ini bukan alasan untuk hengkang dari MotoGP bagi perusahaan besar seperti Yamaha. Kalaupun tahun depan Repsol tak memperbarui kontraknya, saya yakin Honda tetap bisa balapan. Repsol mungkin kini membayar 10-12-14 juta. Dalam bujet total HRC, angka itu tak ada apa-apanya. Bagi Honda, ini hanya 0,00001%," kisah Sanchez.

2 dari 2 halaman

Usai Pengumuman Malah Liburan

Joan Mir dan Suzuki Ecstar merayakan gelar dunia MotoGP 2020. (c) Suzuki

Joan Mir dan Suzuki Ecstar merayakan gelar dunia MotoGP 2020. (c) Suzuki

Sanchez tak menjelaskan bujet SMC untuk MotoGP. Namun, meski angkanya rendah dibanding pabrikan lain, Suzuki Ecstar terbukti kompetitif dengan bujet mepet, bahkan sukses juara pada 2020 lewat Mir. "Keputusan hengkang diambil oleh orang-orang berjas yang tak suka MotoGP. Mereka tak pernah datang kemari, dan mereka sama sekali tak peduli pada orang-orang yang bekerja di sini," tuturnya.

"Tim ini dibentuk dengan bujet rendah tapi sangat sukses. Jadi juara dunia. Tahun lalu kami ada di peringkat ketiga. Tahun ini mereka sempat memimpin klasemen tim. Joan dan Alex cukup dekat dengan perebutan gelar dunia. Jadi, saya rasa tim ini telah melakukan pekerjaan luar biasa. Mereka tak layak berada dalam situasi ini," ungkap pria Spanyol tersebut.

"Mungkin ada orang-orang (di SMC) yang bilang, 'Apa itu MotoGP? Mengapa kami harus menghabiskan 30-40-50 juta? Kami bisa investasi mengembangkan mobil elektrik atau strategi pemasaran lainnya'. Jelas ada beberapa orang yang tak suka MotoGP dan mereka mayoritas dalam dewan itu. Mereka bilang kepada tim kami bahwa Suzuki akan hengkang dari MotoGP dan lalu malah pergi liburan," tutup Sanchez.

Sumber: Crashnet

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR