BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Perjalanan Karier Jorge Lorenzo, Tiga Kali Juara Dunia MotoGP

14-11-2019 21:35 | Anindhya Danartikanya

Jorge Lorenzo (c) HRC Jorge Lorenzo (c) HRC

Bola.net - Secara mengejutkan, Jorge Lorenzo mengumumkan keputusannya untuk pensiun dari MotoGP akhir musim ini pada Kamis (14/11/2019). Keputusan ini ia ambil setelah dirinya mengalami cedera retak tulang belakang T6 dan T8 yang tak kunjung pulih sejak kecelakaan hebat di Assen, Belanda, pada Juni lalu.

Lorenzo merupakan satu dari tiga juara dunia MotoGP yang ada di grid 2019, dan ia telah menggoreskan begitu banyak sejarah baru di kejuaraan balap motor terakbar tersebut. Dengan prestasi yang mentereng, berikut mentalitasnya yang kuat dan gaya balapnya yang berbeda dari yang lain, ia pun kerap dijadikan panutan bagi para rider muda di seluruh dunia.

Lorenzo menjalani debut Grand Prix di kelas GP125 bersama Derbi pada 2002 di Jerez, Spanyol, namun harus absen dari sesi latihan pada Jumat karena ia belum genap berusia 15 tahun. Setahun berikutnya, ia meraih podium yang sekaligus kemenangan perdananya di Rio de Janerio, Brasil.

Pada 2004, ia pun mulai menegaskan potensinya dengan duduk di peringkat keempat pada akhir musim, meraih 7 podium dan 3 kemenangan, memperebutkan gelar dunia dengan Andrea Dovizioso. Setahun setelahnya, ia pun naik ke GP250 dengan Honda, meraih enam podium.

Lorenzo mulai menggebrak dan menahbiskan dirinya sebagai bintang masa depan pada 2006, saat ia bergabung dengan Aprilia. Ia sukses meraih 11 podium, 8 kemenangan, dan 10 pole, serta meraih gelar dunia perdananya. Pada 2007, ia mempertahankan gelar ini, meraih 12 podium, 9 kemenangan, dan 9 pole.

1 dari 5 halaman

Debut dan Gelar Perdana di MotoGP

Jorge Lorenzo saat masih membela Yamaha (c) AFP Jorge Lorenzo saat masih membela Yamaha (c) AFP

Talenta Lorenzo ternyata sudah menarik mata Yamaha Factory Racing sejak 2006, bahkan sebelum ia menjadi juara dunia. Diam-diam, ia menandatangani perjanjian prakontrak dengan pabrikan Garpu Tala tersebut, untuk turun di MotoGP 2008. Pada Juli 2007, ia pun diumumkan secara resmi akan menjadi tandem Valentino Rossi di kelas tertinggi.

Pada debutnya di MotoGP, Lorenzo langsung meraih tiga podium beruntun di tiga seri pertama, termasuk kemenangan di Estoril Portugal, yang membuatnya memimpin klasemen pebalap. Dalam sesi latihan di Shanghai, China, ia terjatuh keras dan mengalami keretakan tulang engkel kaki kanan dan dislokasi ligamen pada engkel kiri. Hebatnya, ia mampu finis keempat dalam sesi balap.

Kecelakaan demi kecelakaan ia alami, dan ia mulai mengubah gaya balap demi menghindari cedera. Meski begitu, di Laguna Seca, Amerika Serikat, ia mengalami kecelakaan hebat lagi, mengakibatkan memar pada kaki kanan dan tiga patah tulang metatarsal pada kaki kirinya. Ia pun mengakhiri musim 2008 di peringkat keempat, dan menyabet gelar debutan terbaik.

Pada 2009, ia pun mulai konsisten bertarung di depan, menjadi pesaing terkuat Rossi dalam perebutan gelar, meski begitu, ia harus mengakui kekuatan The Doctor, dan mengakhiri musim sebagai runner up usai meraih 12 podium, termasuk empat kemenangan.

Tahun 2010 pun menjadi tahun gemilang bagi Lorenzo. Meski direpotkan oleh rumor kepindahan ke Ducati, Lorenzo tetap fokus di lintasan. Usai Rossi mengalami cedera patah tulang tibia dan fibula kaki kanan akibat kecelakaan di Mugello, Italia, Lorenzo menggila. Ia sukses meraih 16 podium dan 9 kemenangan, membuatnya merebut gelar dunia perdananya di MotoGP.

2 dari 5 halaman

Lima Gelar Dunia, dan Rivalitas dengan Marquez-Rossi

Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi (c) Yamaha Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi (c) Yamaha

Setelah menjadi runner up di belakang Casey Stoner pada 2011 dengan 10 podium dan 3 kemenangan, Lorenzo kembali menguasai MotoGP 2012. Bertarung sengit dengan Stoner dan rival bebuyutannya, Dani Pedrosa, sepanjang musim, Lorenzo kembali sukses merebut 16 podium dan 6 kemenangan. Prestasi ini membuatnya sukses meraih gelar dunia yang kedua di MotoGP.

Tahun 2013 merupakan tahun yang tak terlupakan bagi Lorenzo, terutama akibat kecelakaan hebat dalam sesi latihan pada Kamis di Assen, yang membuatnya mengalami patah tulang bahu. Dengan tekad bulat, ia pun bertolak ke Barcelona, Spanyol, malam itu juga untuk menjalani operasi, demi kembali pada hari Sabtu untuk menjalani balapan.

Belum pulih benar dari cedera, dan baru saja mengalami operasi, Lorenzo menahan rasa sakit menjalani balapan. Start dari posisi 12, ia finis di posisi kelima. Meski tak menang atau podium, aksi heroiknya ini pun membuatnya banjir pujian dari berbagai pihak, termasuk para rivalnya sendiri.

Meski sempat absen di Sachsenring karena kecelakaan di sesi latihan, Lorenzo tetap mampu bersaing sengit dengan debutan Repsol Honda, Marc Marquez, sampai seri penutup. Dalam balapan di Valencia kala itu, Lorenzo meraih kemenangan, sementara Marquez finis ketiga dan dinobatkan sebagai juara. Lorenzo pun mengakhiri musim sebagai runner up, hanya tertinggal 4 poin dari Marquez.

Pada 2014, Lorenzo menjalani musim dengan terlambat 'panas' dan harus mengakui dominasi Honda yang memenangi 13 seri perdana. Ia hanya meraih dua kemenangan, yakni di Aragon dan Motegi, namun tetap mampu mengakhiri musim di peringkat ketiga.

Musim selanjutnya, rivalitas antara Lorenzo dan Rossi pun bangkit, karena keduanya memperebutkan gelar dunia. Meski Rossi memimpin klasemen sejak awal musim, Lorenzo meraih kemenangan lebih banyak, yakni tujuh, dibanding Rossi yang hanya meraih empat kemenangan.

Dalam pekan balap di Malaysia, Rossi pun menuduh Marquez bermain-main dengannya di Australia, demi membantu Lorenzo merebut gelar dunia 2015. Rossi dan Marquez pun bersenggolan dalam sesi balap di Malaysia, yang membuat Rossi dihukum start dari posisi terbuncit di seri penutup, Valencia.

Dalam balapan tersebut, ketika Rossi hanya mampu finis keempat, Lorenzo meraih kemenangan dan hasil ini cukup membantunya mengunci gelar dunia tahun 2015. Hingga saat ini, Lorenzo pun tercatat sebagai satu-satunya rider yang pernah menjegal dominasi Marquez sejak debutnya pada 2013.

3 dari 5 halaman

Tinggalkan Yamaha dan Drama di Ducati

Jorge Lorenzo (c) AFP Jorge Lorenzo (c) AFP

Pada 2016, Lorenzo meraih 10 podium, dan 4 kemenangan, serta mengakhiri musim di peringkat ketiga pada klasemen pebalap. Sejak awal tahun, Por Fuera pun santer dikabarkan pindah ke Ducati, meski berkali-kali mengaku ingin pensiun di Yamaha.

Meski begitu, kontraknya dengan Ducati akhirnya diumumkan pada 18 April 2016, sepekan setelah ia finis kedua di Austin, Texas. Bertandem dengan rivalnya sejak GP125, Dovizioso, Lorenzo ditargetkan langsung merebut gelar dunia pada 2017, prestasi yang belum lagi diraih Ducati sejak 2007 lewat Stoner.

Nilai kontrak Lorenzo juga disebut-sebut sebagai nilai paling tinggi dalam sejarah MotoGP. Ia dikabarkan mendapatkan gaji 25 juta euro untuk dua musim dari pabrikan asal Italia tersebut, bukti bahwa Ducati melakukan investasi besar-besaran padanya.

Sayang, Lorenzo justru sangat sulit beradaptasi dengan Desmosedici. Sepanjang 2017, ia hanya mampu meraih podium, dan mengalami paceklik kemenangan. Usai meminta berbagai modifikasi geometri pada motornya, Lorenzo baru meraih kemenangan di Mugello pada 2018, yang sayangnya terjadi terlambat.

Sebelum menang di Mugello, berembus kabar para petinggi Ducati sudah tak lagi percaya pada kemampuan Lorenzo, dan ingin menggantinya dengan Danilo Petrucci pada 2019. Usai Lorenzo gagal finis di Jerez, CEO Ducati Motor Holding, Claudio Domenicali menyebutnya sebagai 'pebalap hebat yang tak mampu mengeluarkan potensi Desmosedici'.

Dua pekan setelahnya, yakni di Le Mans, Lorenzo pun mensinyalir dirinya akan hengkang dari Ducati pada akhir 2018, sekaligus menanggapi pernyataan Domenicali dengan kalimat yang kini menjadi slogan utamanya, "Saya bukan pebalap hebat, saya seorang juara dunia."

Dari Le Mans, mereka pun beraksi di Mugello, di mana ia akhirnya sukses mengakhiri paceklik kemenangan, serta membekuk Dovizioso, tandemnya sendiri, yang juga rider andalan Ducati sejak 2013. Uniknya, dua hari setelah kemenangan itu, Lorenzo dan Ducati mengumumkan perpisahan mereka pada akhir 2018.

Sementara Ducati benar-benar menggaet Petrucci, Lorenzo pun menuju Repsol Honda, yang juga resmi ditinggalkan Dani Pedrosa yang memutuskan untuk pensiun. Keputusan Lorenzo pindah ke Honda pun membuatnya digadang-gadang menjadi rider pertama yang mampu meraih kemenangan dengan tiga pabrikan sekaligus di MotoGP.

4 dari 5 halaman

Karier di Repsol Honda dan Awal Keterpurukan

Pebalap Repsol Honda, Jorge Lorenzo (c) HRC Pebalap Repsol Honda, Jorge Lorenzo (c) HRC

Mengawinkan 12 gelar dunia dengan Marquez, Lorenzo pun diharapkan bisa memajukan pengembangan Honda RC213V, yang selama ini dikenal hanya bersahabat dengan Marquez. Dalam uji coba pascamusim di Valencia dan Jerez, Lorenzo pun menjajal RCV versi 2018 dan merasa nyaman.

Rasa nyaman ini pun membuat Lorenzo yakin, sekalinya ia sembuh dari cedera keretakan tulang ibu jari kaki kanan akibat kecelakaan di Aragon dan cedera patah tulang pergelangan tangan kiri akibat kecelakaan di Thailand, ia bakal makin kompetitif bersama Honda pada 2019.

Nyatanya, Honda justru melakukan perubahan radikal pada motor RCV versi 2019. Mereka menambahkan tenaga pada mesinnya, demi menyaingi kekuatan Ducati di trek lurus, sesuai dengan permintaan Marquez, yang kala itu telah meraih lima gelar dunia untuk Honda. Lorenzo pun kesulitan beradaptasi dengan motor ini, yang kelincahannya di tikungan menjadi berkurang.

Kesialan pun menimpa Lorenzo lagi pada Januari 2019. Ketika kaki kanan dan tangan kirinya belum sembuh, tulang scaphoid pada tangan kirinya parah usai kecelakaan dalam latihan dirt track di Italia. Cedera ini pun membuatnya tak maksimal menjalani uji coba pramusim di Sepang dan Qatar.

5 dari 5 halaman

Memburuk di Assen dan Putuskan Pensiun

Jorge Lorenzo (c) HRC Jorge Lorenzo (c) HRC

Lorenzo pun memulai musim dengan berbagai kesialan lainnya. Dalam pekan balap di Qatar, ia kembali mengalami kecelakaan dan mengalami keretakan tulang rusuk. Di Argentina, ia melakukan kesalahan dengan memencet tombol pit limiter saat start, kemudian mengalami masalah teknis hingga gagal finis di Austin.

Tak betah dengan hasil buruk, Lorenzo pun terbang ke markas Honda di Jepang usai pekan balap di Mugello. Di sana, ia melakukan pengukuran geometri pada motor RCV demi meraih kenyamanan di seri kandangnya, Catalunya. Dalam pekan balap itu, Lorenzo mengalami kemajuan nyata, dengan melaju di posisi keempat pada lap-lap pertama.

Sayangnya, pada Lap 2, ban depannya selip di Tikungan 10. Ia pun menyeret Dovizioso, Maverick Vinales, dan Rossi, dan keempatnya kompak gagal finis. Meski gagal tampil baik, Lorenzo bertekad melanjutkan rasa nyamannya dalam balapan di Assen, dua pekan setelah Catalunya.

Sayangnya, ia justru terjatuh di Tikungan 7 pada sesi latihan pertama pada Jumat. Usai berguling-guling di area gravel, ia tampak linglung sebelum dilarikan ke Medical Center. Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan keretakan pada tulang belakang T6 dan T8.

Akibat cedera ini, Lorenzo harus absen dari pekan balap di Assen, Sachsenring, Ceko, dan Austria. Selama absen, ia pun jadi topik panas di paddock karena manajernya, Albert Valera, dikabarkan menjalani negosiasi untuk kembali ke Ducati Team dan juga mencari peluang membela Pramac Racing. Setelah rumor ini mereda, Lorenzo justru digosipkan ingin pensiun.

Lorenzo pun akhirnya kembali di Silverstone, Inggris, membantah semua rumor yang berembus. Di lain sisi, hasil balapnya dengan Honda tak mengalami kemajuan dan sakit pada punggungnya tak segera pulih. Rumor dirinya ingin pensiun pun semakin mencuat, ketika Johann Zarco diminta membela LCR Honda di tiga seri terakhir untuk menggantikan Takaaki Nakagami yang cedera bahu.

Dan akhirnya, Lorenzo benar-benar memutuskan untuk pensiun akhir musim ini, dalam usia 32 tahun, usai cedera punggung yang tak kunjung pulih.

KOMENTAR

Statistik Sepak Bola SEA Games 2019, Thailand Vs Indonesia 0-2