BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Pecco Bagnaia Sudah Mimpi Jadi Rider Pabrikan Ducati Sebelum Juarai Moto2 2018

30-09-2020 17:09 | Anindhya Danartikanya

Pembalap Pramac Racing, Francesco Bagnaia (c) Pramac Racing Pembalap Pramac Racing, Francesco Bagnaia (c) Pramac Racing

Bola.net - Francesco Bagnaia senang bukan kepalang akhirnya diumumkan sebagai salah satu rider Ducati Team, menjadi pengganti Andrea Dovizioso, di MotoGP 2021. Sekali lagi, ia akan bertandem dengan Jack Miller, yang kini juga tandemnya di Pramac Racing. Lewat Instagram, Rabu (30/9/2020), Bagnaia pun mengaku impiannya sudah terwujud.

Bagnaia masuk ke dalam radar Ducati sejak akhir 2016, yakni ketika Sporting Director Aspar Team, Gino Borsoi, mengajaknya bertaruh: jika ia mampu meraih dua kemenangan di Moto3, ia akan diperbolehkan menjajal Desmosedici GP14 dalam uji coba MotoGP Valencia, dan ide ini disetujui oleh General Manager Ducati Corse, Gigi Dall'Igna.

Sejak itu, Bagnaia bermimpi jadi rider Ducati Team. Uji coba itu ternyata juga bikin Ducati memperhatikannya. Pada 2017, 'Pecco' pun naik ke Moto2 dan mampu meraih hasil baik dengan duduk di peringkat 5 pada akhir musim. Pada Januari 2018, Ducati pun bertaruh dengan menggaetnya untuk diturunkan di Pramac Racing pada 2018.

Kepercayaan Ducati, begitu juga kepercayaan Valentino Rossi sebagai mentornya di VR46 Riders Academy, sama sekali tak disia-siakan Bagnaia. Rider Italia itu pun langsung menggebrak dengan delapan kemenangan di Moto2, dan mengunci gelar dunia di Sepang, Malaysia.

1 dari 3 halaman

Debut Tak Mulus, Ducati Tetap Percaya

Francesco Bagnaia saat menjajal Ducati pada 2016 (c) Aspar Team Francesco Bagnaia saat menjajal Ducati pada 2016 (c) Aspar Team

"Saya sudah memilih jadi rider Ducati bahkan sebelum jadi juara dunia Moto2 2018, dan mereka memilih saya bahkan sebelum mereka tahu saya bakal jadi juara suatu saat nanti. Ini adalah 'judi' kami, karena kala itu saya memang sudah jadi pembalap yang cepat, namun belum punya bukti nyata," kisah Bagnaia.

"Meski begitu Ducati memutuskan mempercayai saya sebelum didahului siapa pun. Kala itu kami tak tahu bagaimana kerja sama kami akan berjalan, tapi hari ini, jika kembali memutar waktu, saya akan melakukan hal yang sama lagi," lanjut rider berusia 23 tahun ini.

Sayang, mengendarai Desmosedici GP18 sepanjang 2019, Bagnaia menjalani debut MotoGP yang berat. Ia sulit tampil kompetitif dan masuk 10 besar. Meski begitu, sejak Seri Thailand, Ducati memintanya adaptasi pada karakter motornya. Ia pun menurut, dan ini terbukti lewat hasil finis keempat di Australia, saat ia bertarung dengan Miller sampai garis finis dalam memperebutkan posisi ketiga.

"Ducati tak pernah meragukan saya, selalu memberi dukungan dan kepercayaan yang dibutuhkan debutan dan membiarkan 2019 jadi pengalaman saya. Saya mendengar dan percaya pada mereka, kami belajar saling memahami, dan kini kami akan membentuk tim hebat. Mereka mengajarkan saya metode kerja yang bisa membuat kami meraih hasil baik dan saya rasa ini baru awalnya," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Semua Berkat Sistem Suport yang Baik

View this post on Instagram

A post shared by Francesco Bagnaia (@pecco63) on

Bagnaia pun mengaku impiannya kini jadi nyata, dan ia yakin ini terwujud berkat dukungan orang-orang di sekelilingnya, termasuk Rossi dan VR46 Riders Academy, begitu juga empat bos besar Ducati Corse. "Hari ini saya orang paling bahagia di dunia, impian saya jadi nyata: jadi rider tim pabrikan Ducati selalu jadi ambisi saya dan saya mewujudkannya bersama semua orang yang percaya pada saya, bahkan saat situasi tak mendukung," ungkapnya.

"Terima kasih banyak kepada Claudio Domenicali, Gigi Dall'Igna, Paolo Ciabatti, dan Davide Tardozzi atas kepercayaan mereka, begitu juga pada Pramac Racing Team yang menyambut saya sebagai keluarga, dan pada VR46 Riders Academy yang selalu mendukung saya selama ini," pungkas Bagnaia.

Saat ini, Bagnaia berada di peringkat 13 pada klasemen dengan koleksi 39 poin. Meski peringkat dan jumlah poinnya rendah, ini bukan cerminan performa Bagnaia yang sesungguhnya. Ia merupakan salah satu rider yang paling mengancam, terbukti saat ia sempat duduk di posisi 2 selama 8 lap sebelum mesinnya mengalami kerusakan.

Ia juga mengalami retak tulang tibia kaki kanan usai terjatuh di Ceko dan harus absen tiga balapan. Saat kembali balapan di San Marino, ia langsung meraih podium dan finis kedua. Di Emilia Romagna, ia bahkan memimpin balapan selama 15 lap sebelum ban depannya selip. Ia pun diprediksi akan lebih garang lagi di sisa musim 2020.

Sumber: Instagram/Pecco63

3 dari 3 halaman

Video: 5 Pembalap Hebat WorldSBK yang Tak Sukses di MotoGP

KOMENTAR