Kisah Ali Adrian, Rider Indonesia Usung Impian ke MotoGP

Bola.net | 4 September 2016, 15:00
Kisah Ali Adrian, Rider Indonesia Usung Impian ke MotoGP
Ali Adrian (c) Bola.net
- Penggemar balap motor di Indonesia pasti sudah tak asing dengan nama Ali Adrian. Ya, rider muda ini belakangan menjadi perbincangan hangat setelah diketahui bernaung di bawah didikan David Garcia, pengamat balap asal Spanyol yang juga merupakan mentor dan manajer juara dunia Moto2 2014 sekaligus rider Estrella Galicia 0.0 Marc VDS Honda MotoGP, Tito Rabat.


Baru-baru ini, tim Bola.net pun berkesempatan bertemu dan mengobrol santai dengan pebalap yang akrab disapa Adrian ini. Dalam obrolan kami, Adrian pun mengisahkan perjalanannya menjadi pebalap profesional, yakni dari pertama kali ia mengendarai motor hingga melebarkan sayap ke Spanyol seperti sekarang.


Dengan ambisi turun di MotoGP melalui Moto2, Adrian pun kini disibukkan dengan berbagai kegiatan dan latihan di Sirkuit Almeria, Spanyol, sirkuit yang juga dimiliki oleh Garcia. Simak kisah perjalanan Adrian yuk, Bolaneters! [initial]  (bola/kny)

1 dari 5 halaman

Kendarai Motor Sejak Balita

"Saya pertama kali naik motor pada usia tiga tahun, setelah mendapatkan hadiah Yamaha PeeWee 50cc. Ayah saya merupakan penggemar balap, beliau pernah ikut balap mobil dan touring. Ibu saya juga pernah turun di balap reli. Ayah saya membelikan motor tersebut sebagai kado," ujarnya.

Adrian pun mengaku kerap mengendarai motor itu setiap pulang sekolah, namun ketika jalanan di depan rumahnya mulai ramai, sang ayah, Erin Rusmiputro membuat sirkuit mini dengan beberapa gundukan kecil di tanah kosong di dekat rumahnya. Sejak itu pula, Adrian lebih serius belajar mengendarai motor.

"Saya juga sempat serius mendalami motocross, namun suatu saat ayah mengajak saya ke sirkuit aspal untuk mengendarai minimoto. Seiring berjalannya waktu, saya lebih menyukai balapan di aspal. Saya suka sensasi ketika lutut saya menyentuh aspal. Sejak itu, saya menyukainya. Keluarga juga sangat mendukung, meski balap motor berbahaya. Semua pekerjaan pasti memiliki risiko masing-masing, namun saya menyukai risiko yang saya dapat dari dunia balap motor," tutur rider berusia 22 tahun ini.
2 dari 5 halaman

Jadi Rider Profesional

Adrian mengaku telah berkomitmen menjadi pebalap motor profesional sejak usia 12 tahun, dengan turun di kejuaraan-kejuaraan nasional underbone. Setelah giat berlatih dan bekerja keras, ia pun sukses menjadi juara nasional Indonesia Motorsport Championship 250cc pada tahun 2011.

Pada tahun 2012, Adrian merebut peringkat runner up di Losail Asia Championship 600cc, yang mengantarkannya ke ajang European Junior Cup pada tahun 2013, yakni supporting event untuk WorldSBK. Pada musim itu, ia menyelesaikan musim di peringkat ketujuh.

Pada tahun yang sama, ia pun bertemu dengan Garcia, yang saat itu dikenal tengah mengasah kemampuan Rabat dan rider wanita asal Spanyol, Ana Carrasco. "Saat menjalani uji coba Superstock bersama Suzuki di Almeria, saya berkenalan dengan David. Saya pun menjalani latihan selama beberapa hari di sirkuitnya, dan pada hari kelima, David menyodorkan kontrak kepada saya. Menurutnya, saya punya talenta spesial dan semangat tinggi," ujar Adrian.

Adrian pun mengaku tak berpikir panjang dan langsung menerima tawaran tersebut. "Ini adalah impian jadi nyata, karena sejak 2010, saya ingin pergi ke Spanyol, berlatih di sana dan turun balapan di Moto2. Saya pun langsung memberikan tanda tangan karena ini impian saya. Ada tiga syarat yang tidak David tuliskan, yakni saya harus tinggal di Spanyol, berlatih setiap hari dan mengikuti semua sarannya," tambahnya.
3 dari 5 halaman

Berkompetisi di Spanyol

Tak hanya berlatih, Adrian juga diwajibkan turun di beberapa kejuaraan lokal di Spanyol. Menurutnya, selama ini ada 5-6 kejuaraan yang ia ikuti, dan dua yang paling bergengsi adalah RFME Campeonato de Espana de Velocidad (CEV) dan FIM European Moto2 Championship.

Dalam kejuaraan RFME CEV, Adrian turun di Seri Aragon, Spanyol di mana ia finis keempat. Sementara di FIM European Moto2 Championship, ia turun sebagai pebalap wildcard dengan Tim Ciatti di Seri Albacete, Spanyol, di mana ia finis di posisi ke-22. "Untuk 2016, sejatinya saya belum dipatok untuk meraih prestasi tertentu, melainkan lebih fokus untuk persiapan masa depan, karena saya diharapkan turun di Grand Prix Moto2," jelasnya.

"Untuk tahun ini, saya turun di Kejuaraan Eropa Moto2 yang digelar di Albacete. Selain itu, saya turun di kejuaraan-kejuaraan lokal di Spanyol, seperti Campeonato de Espana, Andalucia Championship dan Winter Race. Ada sekitar 5-6 kejuaraan yang saya ikuti. Untuk Kejuaraan Eropa Moto2, saya akan turun lagi di Jerez dan Valencia," tambah pebalap yang hobi bermain gokart ini.
4 dari 5 halaman

Langkah ke Grand Prix Moto2

Adrian yang ditunjuk langsung oleh Menpora Imam Nahrawi sebagai duta MotoGP dari Indonesia, tak memungkiri dirinya ingin segera naik ke Moto2. Asa dan ekspektasi masyarakat Tanah Air padanya pun kian melambung tinggi, apalagi ia dijuluki sebagai 'The Next Rossi from Indonesia'. Meski begitu, Adrian mengaku tak ingin terbebani hal-hal ini.

"Saya jelas mengidolakan para pebalap MotoGP, tentunya Valentino Rossi. Ketika ada yang menyebut saya sebagai 'The Next Rossi from Indonesia', saya belum percaya soal itu karena perjalanan saya masih sangat panjang, dan masih harus bekerja keras. Saya menyadari bahwa tak mudah menyamai prestasi Rossi, tapi semoga saya bisa melakukannya," ujarnya.

Usai rider SAG Racing Team Moto2, Luis Salom tewas akibat kecelakaan hebat di Moto2 Catalunya, Spanyol bulan Juni lalu, Adrian bahkan sempat santer dikabarkan akan menjadi penggantinya. Meski begitu Adrian menampik kabar ini, meski tak memungkiri tengah berusaha untuk turun di Moto2 secepat mungkin.

"Kabar bahwa saya akan menggantikan Luis Salom itu tidak benar. Namun saya memang kerap berhubungan dengan SAG karena saya membela mereka di RFME. Saya kerap berlatih dengan Luis dan juga Jesko Raffin. Jadi mungkin dari sanalah rumor itu beredar. Untuk tahun depan, arah saya memang ke Kejuaraan Dunia Moto2, namun masih tergantung hasil balap saya tahun ini," jelasnya.
5 dari 5 halaman

Tips untuk Pebalap Muda

Tak hanya Adrian, dua pebalap Indonesia yang lain, yakni Dimas Ekky Pratama dan Rafid Topan juga tengah malang melintang di kejuaraan Spanyol dan Eropa. Menurut Adrian, banyak pebalap Indonesia yang bisa mendapatkan peluang emas seperti ketiganya, asal giat berlatih dan pantang menyerah.

"Untuk pebalap pemula, menurut saya harus rajin-rajin menambah kilometer bersama motor di lintasan balap. Tentu harus di sirkuit, jangan di jalan raya. Tak usah terlalu memikirkan catatan waktu, dan lebih rajin berlatih. Tubuh dan motor harus menyatu, namun hal ini jelas tak bisa dilakukan dalam jangka 1-2 tahun untuk mencapai level tinggi. Dengan begitu, lambat laun pasti akan memahami karakter motor dan menemukan teknis tersendiri untuk balapan," pungkasnya.

Nah, bagaimana, Bolaneters? Seru 'kan perjalanan Adrian? Meski perjalanan selanjutnya menuju kejuaraan dunia masih panjang dan tak mudah, mari kita berikan dukungan dan semangat bagi Adrian demi mengharumkan nama bangsa di kancah internasional!

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR