BERITA JADWAL KLASEMEN LAINNYA

Ikon Balap Motor Dunia: Inilah Perjalanan Gemilang Valentino Rossi di MotoGP

05-08-2021 21:57 | Anindhya Danartikanya

Pembalap Monster Energy Yamaha, Valentino Rossi (c) Yamaha
Pembalap Monster Energy Yamaha, Valentino Rossi (c) Yamaha

Bola.net - Pembalap Petronas Yamaha SRT, Valentino Rossi, akhirnya mengumumkan keputusannya untuk pensiun dari MotoGP pada Kamis (5/8/2021) di sela Seri Styria yang digelar di Sirkuit Red Bull Ring, Austria. Keputusan ini jelas mematahkan hati banyak penggemar balap di seluruh dunia, terutama para penggemar Rossi sendiri, Popolo Giallo.

Rossi yang lahir di Urbino, Italia, pada 16 Februari 1979, merupakan anak dari eks pembalap GP250 dan GP500, Graziano Rossi. Awalnya, Graziano ingin sang anak menjadi pembalap mobil saja karena lebih aman, dan Rossi Kecil juga menikmati balapan gokart, bahkan sempat jadi juara regional dalam usia 11 tahun pada 1990.

Namun, biaya balap mobil yang selangit, ditambah Rossi yang ternyata lebih suka roda dua, akhirnya mengikuti jejak menjadi pembalap motor seperti sang ayah. Pada 1993, barulah Rossi benar-benar banting setir ke ajang balap motor, mengendarai motor Cagiva 125cc di ajang Kejuaraan Sport Production Italia dan jadi juara pada tahun kedua.

Juga pada 1994, Rossi mendapatkan kontrak empat tahun dari Aprilia, yakni dua tahun untuk Kejuaraan Eropa 125cc dan dua tahun kejuaraan dunia GP125. Pada 1995, Rossi pun menjadi runner up Kejuaraan Eropa di belakang Lucio Cecchinello (kini bos LCR Honda), dan kemudian menjalani debutnya di GP125 pada 1996.

1 dari 11 halaman

Debut Grand Prix dan Gelar Dunia Perdana

Valentino Rossi saat masih membela Aprilia di GP125 1996. (c) MotoGP.com
Valentino Rossi saat masih membela Aprilia di GP125 1996. (c) MotoGP.com

Rossi pun membela Scuderia AGV Aprilia pada tahun debutnya di GP125 1996 dan tampil konsisten, hanya gagal finis di Paul Ricard dan Assen. Ia meraih podium perdananya di A1-Ring, yang kini bernama Red Bull Ring, usai bertarung sengit dengan Jorge Martinez (kini bos Aspar Team) dan finis di posisi ketiga.

Pada balapan selanjutnya, yakni di GP Ceko yang digelar di Automotodrom Brno, Rossi sukses merebut pole sekaligus meraih kemenangan pertamanya, lagi-lagi usai bertarung sengit dengan Martinez. Ia pun mengakhiri musim di peringkat 9 pada klasemen pembalap, dengan koleksi 111 poin.

Pada 1997, Rossi pindah ke Nastro Azzurro Aprilia, tim pabrikan Aprilia di GP125 kala itu. Ia pun langsung mendominasi musim balap, dimulai dengan kemenangannya di Sirkuit Shah Alam, meski sempat gagal finis di Suzuka pada seri selanjutnya.

Dari 15 seri yang digelar, Rossi selalu naik podium kecuali di Suzuka dan Phillip Island. Selebihnya, ia meraih 11 kemenangan, termasuk di Sentul, ditambah finis kedua di A1-Ring dan finis ketiga di Brno. Alhasil, Rossi mengakhiri musim sebagai juara dunia, unggul 83 poin atas Noboru Ueda.

2 dari 11 halaman

Naik ke Kelas GP250 dan Rebut Gelar Kedua

Ivano Beggio, Valentino Rossi, dan Loris Capirossi pada 1999. (c) Aprilia
Ivano Beggio, Valentino Rossi, dan Loris Capirossi pada 1999. (c) Aprilia

Berkat dominasinya di GP125 1997, Nastro Azzurro Aprilia pun memperpanjang kontrak Rossi, dan menurunkannya di kelas GP250 pada 1998, bertandem dengan Loris Capirossi dan Tetsuya Harada. Ia memulai musim dengan gagal finis di Suzuka dan Johor, lalu tiga kali finis di posisi kedua secara beruntun di Jerez, Mugello, dan Paul Ricard.

Ia kembali gagal finis di Madrid, namun bangkit dengan kemenangan di Assen. Ia gagal finis lagi di Donington Park, lalu finis ketiga di Sachsenring, dan gagal finis lagi di Brno. Saat kembali ke Imola, Rossi menang lagi, dan meneruskan tren ini di Catalunya, Phillip Island, dan Buenos Aires. Ia pun mengakhiri musim dengan duduk di peringkat 2, tertinggal 23 poin dari Capirossi.

Pada 1999, Rossi menjadi rider tunggal Nastro Azzurro Aprilia, dan kembali ke gayanya yang dominan. Ia hanya finis di posisi 5 dan 7 di Sepang dan Motegi, namun menang di Jerez. Setelahnya, ia selalu naik podium kecuali di Paul Ricard dan Valencia. Ia pun mengoleksi sembilan kemenangan, dengan tambahan tiga podium, dan keluar sebagai juara dunia.

Berkat kedekatannya dengan bos Aprilia, Ivano Beggio, Rossi sempat ingin bertahan di GP250 bersama Aprilia. Namun, tawaran dari Honda untuk turun di GP500 2000 tak bisa ditolak. Meski sedih, Beggio melepas Rossi, karena ia yakin rider dengan talenta sehebat Rossi tak seharusnya bertahan di GP250 begitu lama dan memang harus naik ke kelas para raja.

3 dari 11 halaman

Debut di Kelas Para Raja

Valentino Rossi saat membela Nastro Azzurro Honda pada 2000. (c) MotoGP.com
Valentino Rossi saat membela Nastro Azzurro Honda pada 2000. (c) MotoGP.com

Usai juara di dua kelas yang lebih ringan, Rossi membela Honda di GP500 2000, usai lima kali juara dunia, Mick Doohan pensiun akibat cedera lutut yang sangat parah. Rossi diturunkan di tim satelit Nastro Azzurro Honda, namun dapat dukungan teknis sepenuhnya dari Honda Racing Corporation (HRC) dan dikelilingi kru lama Doohan, termasuk crew chief legendaris, Jeremy Burgess, mekanik Alex Briggs dan Bernard 'Bernie' Ansiau.

Mengendarai NSR500 dan dibimbing Doohan yang kala itu banting setir menjadi penasihat balap HRC, Rossi gagal finis di Welkom dan Sepang, serta hanya finis ke-11 di Suzuka. Namun akhirnya ia meraih podium perdananya di kelas tertinggi usai finis ketiga di Jerez. Rossi akhirnya juga merebut kemenangan perdana di Donington Park.

Pada akhir musim, ia duduk di peringkat runner up dengan koleksi 10 podium, termasuk dua kemenangan di Donington Park dan Rio de Janeiro. Ia tertinggal 49 poin dari Kenny Roberts jr yang sukses jadi juara bareng Suzuki. Untuk ukuran debutan, tentu prestasi Rossi ini sangat baik. Ia pun jadi favorit juara setahun setelahnya.

Benar saja. Masih di tim yang sama, Rossi mendominasi musim 2001, mengoleksi 13 podium, yang 11 di antaranya kemenangan. Alhasil, ia sukses merebut gelar dunia, unggul 109 poin atas Max Biaggi. Rossi juga sekaligus menjadi juara dunia GP500 terakhir dalam sejarah, karena kelas itu digantikan MotoGP 990cc 4-tak pada 2002.

4 dari 11 halaman

Petualangan dan Perceraian dengan Repsol Honda

Valentino Rossi di MotoGP Valencia 2003. (c) Twitter/MotoGP
Valentino Rossi di MotoGP Valencia 2003. (c) Twitter/MotoGP

Rossi dipromosikan ke Repsol Honda, yakni tim pabrikan HRC, pada 2002, saat era MotoGP dimulai. Mengendarai RC211V, Rossi langsung tampil superior. Dari 16 seri yang digelar, Rossi hanya sekali gagal podium, yakni saat gagal finis di Brno. Selebihnya, ia mengoleksi 11 kemenangan dan empat kali finis kedua. Ia pun menjadi juara dunia MotoGP pertama dalam sejarah.

Tahun berikutnya, Rossi bahkan tak sekalipun turun dari podium, mengoleksi sembilan kemenangan, lima kali finis kedua, dan dua kali finis ketiga. Meski begitu, Rossi jengah dengan dominasinya ini. Ia merasa kekurangan tantangan, ditambah mentalitas Honda yang menganggap kesuksesan Rossi hanya berkat performa RC211V, tanpa andil besar dari talentanya sendiri.

Dari luar, Rossi tampak di atas angin bersama pabrikan Sayap Tunggal. Prestasi yang mentereng membuatnya diperkirakan bakal bertahan di Repsol Honda pada 2004. Namun, pada akhir musim, usai digosipkan bakal pindah ke Ducati, Rossi secara mengejutkan mengumumkan kepindahannya ke Yamaha, pabrikan yang sudah tak lagi juara sejak 1992 bersama Wayne Rainey.

Dalam buku otobiografinya yang berjudul 'What If I Had Never Tried It?', Rossi menjelaskan alasannya menolak tawaran Ducati adalah karena pabrikan Italia itu memiliki mentalitas yang sama dengan Honda. Alhasil, ia menandatangani kontrak dua tahun dengan Yamaha, dan isunya digaji sebesar USD 12 juta, gaji yang tak berani ditawarkan oleh Ducati dan Honda.

5 dari 11 halaman

Tantangan Baru Bersama Yamaha

Valentino Rossi pada 2004 (c) MotoGP.com
Valentino Rossi pada 2004 (c) MotoGP.com

Banyak pihak meragukan keputusan Rossi pindah ke Yamaha, dan mereka justru menjagokan Biaggi dan Sete Gibernau bersinar karena keduanya membela Honda yang terbukti superior. Namun, Rossi justru membungkam para kritikus dan haters dengan meraih pole dan kemenangan besar atas Biaggi di seri perdana musim 2004 di Welkom.

Tak hanya itu, Rossi juga tampil dominan sepanjang musim, hanya dua kali gagal finis di Rio de Janeiro dan Losail. Ia pun keluar sebagai juara atas Gibernau, mempersembahkan gelar perdana Yamaha sejak 1992, usai mengoleksi sembilan kemenangan, dan tiga kali finis kedua. Dominasi ini pun berlanjut pada 2005, di mana ia jauh lebih konsisten.

Dari 17 seri yang digelar sepanjang 2005, Rossi terhitung hanya sekali gagal finis, yakni di Motegi. Selebihnya, ia tak pernah turun dari podium. Total, ia mengoleksi 11 kemenangan, tiga kali finis kedua, dan tiga kali finis ketiga. Ia pun meraih gelar dunia lagi, unggul 147 poin atas Marco Melandri.

6 dari 11 halaman

2 Kali Kalah, 2 Kali Juara Lagi

Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo di Catalunya 2009. (c) MotoGP.com
Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo di Catalunya 2009. (c) MotoGP.com

Pada musim 2006, Rossi mulai menemukan tantangan serius. Musim balap yang ketat, membuatnya tak lagi jadi favorit utama untuk menjadi juara dunia. Ancaman besar pun datang dari eks tandemnya di Repsol Honda, Nicky Hayden. Sepanjang musim, Rossi hanya meraih lima kemenangan dan lima podium tambahan.

Rossi juga terlalu sering mengalami kesialan dan terjatuh, bahkan tiga kali gagal finis. Di lain sisi, meski hanya meraih dua kemenangan dan delapan podium tambahan, Hayden lebih konsisten meraih poin penting. Pada akhir musim, Rossi harus puas menjadi runner up dan hanya tertinggal lima poin dari Hayden yang jadi juara.

Setahun berikutnya, Rossi dapat ancaman lain, yakni dari dua rider muda yang tengah menjalani tahun keduanya di MotoGP, Casey Stoner dan Dani Pedrosa. Performa YZR-M1 yang inferior dibanding Ducati dan Honda, membuat Rossi harus puas meraih empat kemenangan saja, ditambah empat podium. Ia bahkan duduk di peringkat 3 pada klasemen akhir musim, di belakang Stoner dan Pedrosa.

Namun, Rossi seolah balas dendam pada 2008 dan 2009. Ketika orang-orang memprediksi dirinya menuju akhir kejayaan, Rossi justru menggebrak dengan meraih 16 podium, yang 9 di antaranya kemenangan, sepanjang 2008. Setahun setelahnya, ia mengoleksi 13 podium, termasuk 6 kemenangan. Ia pun sukses menambah koleksi gelarnya menjadi 9.

7 dari 11 halaman

Cedera Kaki dan Keterpurukan di Ducati

Valentino Rossi - Ducati Corse (c) AFP
Valentino Rossi - Ducati Corse (c) AFP

Menjelang musim 2010, Rossi pun kembali jadi favorit juara. Namun, kecelakaan hebat yang ia alami di Mugello membuat asanya merebut gelar dunia ke-10 pupus, karena ia mengalami patah tulang fibula dan tibia kaki kanan, harus absen untuk pertama kali dalam kariernya, dan harus menepi selama tiga bulan.

Tak hanya cedera yang membuat Rossi jadi pusat perhatian, melainkan juga keputusannya hengkang dari Yamaha menuju Ducati pada 2011. Rossi tertantang menggantikan Stoner yang kala itu pindah ke Repsol Honda. Selain itu, Rossi juga mengaku jengkel pada Yamaha yang sejak 2008 menandemkannya dengan Jorge Lorenzo, rider yang ia anggap sama kuat dengannya.

Sayangnya, Rossi memulai musim 2011 bersama Tim Merah dengan cedera bahu akibat kecelakaan motocross. Banyak pihak menantikan kesembuhannya, namun saat ia benar-benar pulih, Rossi tetap sulit tampil kompetitif dan bahkan hanya meraih satu podium saja sepanjang musim. Ia pun duduk di peringkat 7 pada klasemen akhir.

Tahun 2012 juga tak jauh berbeda. Rossi hanya naik satu peringkat pada klasemen pembalap dengan koleksi dua podium. Selama dua musim pula ia paceklik kemenangan. Saking frustrasinya, Rossi sempat terpikir untuk pensiun dalam usia 33 tahun. Namun, niatannya batal setelah Yamaha kembali membuka pintu untuknya.

8 dari 11 halaman

Pintu Yamaha yang Kembali Terbuka

Valentino Rossi di MotoGP 2013 (c) AFP
Valentino Rossi di MotoGP 2013 (c) AFP

Kembali bertandem dengan Lorenzo, Rossi pun tak keberatan. Ia fokus menunjukkan YZR-M1 sebagai motor yang memang cocok untuk dirinya usai naik podium pada seri perdana 2013, berkat finis kedua di Losail. Rossi memang tak lagi dominan, namun berhasil duduk di peringkat 4 pada klasemen pembalap, dengan koleksi enam podium dan satu kemenangan di Assen.

Pada 2014, Rossi pun kembali tampil lebih kompetitif. Sepanjang musim, ia mengoleksi 13 podium, yang dua di antaranya merupakan kemenangan. Ia bahkan duduk di peringkat runner up, di belakang Marc Marquez, yang mendominasi musim balap dengan koleksi 14 podium yang 13 di antaranya merupakan kemenangan.

Rossi pun kembali menunjukkan bahwa dirinya belum habis pada 2015. Sepanjang musim, ia tak pernah turun dari puncak klasemen pembalap, dan mengoleksi 15 podium yang empat di antaranya kemenangan. Sayangnya, ia harus kalah lima poin dari Lorenzo dan kembali duduk di peringkat runner up tepat di seri terakhir.

Pada 2016, Rossi tetap bertarung di papan atas, meraih 10 podium yang dua di antaranya merupakan kemenangan. Sayangnya, ia tak cukup garang untuk bisa melawan dominasi Marquez, yang kala itu jadi juara dunia lagi untuk ketiga kalinya di MotoGP. Lagi-lagi, Rossi harus puas jadi runner up.

9 dari 11 halaman

Cedera Kaki Lagi dan Paceklik Kemenangan

Valentino Rossi (c) AFP
Valentino Rossi (c) AFP

Pada 2017, Rossi tetap jadi salah satu favorit juara. Apalagi setelah ia mengoleksi tiga podium beruntun pada tiga seri pertama. Sayangnya, Yamaha mendadak mengalami banyak masalah teknis, dan Rossi baru naik podium lagi di Assen, saat ia meraih kemenangan. Pada sisa musim, ia hanya meraih dua podium tambahan.

Rossi pun harus puas duduk di peringkat 5 dan melihat gelar juara jatuh lagi ke tangan Marquez. Namun, kegagalannya tampil baik kala itu lebih dipengaruhi cedera kaki yang ia alami. Rossi kembali dirundung cedera patah tulang fibula dan tibia pada kaki kanan, seperti pada 2010. Namun, kali ini karena ia mengalami kecelakaan saat latihan enduro di Italia.

Rossi sejatinya masih punya motivasi tinggi pada musim 2018 dan 2019, namun Yamaha yang lamban mengatasi masalah grip dan akselerasi YZR-M1 membuat Rossi harus mengalami paceklik kemenangan sampai sekarang. Dalam kedua musim tersebut, Rossi hanya meraih tujuh podium, tanpa sekalipun pernah naik ke puncak podium.

10 dari 11 halaman

Tempat yang Diambil Alih Fabio Quartararo

Valentino Rossi dan Fabio Quartararo (c) Yamaha MotoGP
Valentino Rossi dan Fabio Quartararo (c) Yamaha MotoGP

Dengan paceklik yang ia alami, ditambah tren tim-tim MotoGP yang kini lebih fokus menggaet rider muda, Rossi pun sudah diwanti-wanti bakal digantikan Fabio Quartararo pada 2021 mendatang. Pasalnya, rider Prancis itu sukses menggebrak pada musim perdananya di MotoGP pada 2019.

Benar saja. Pada akhir Januari 2020, Yamaha memastikan Quartararo sebagai pengganti Rossi di Monster Energy Yamaha pada 2021. Rossi sendiri kala itu masih ragu soal masa depannya. Ia mengaku belum ingin pensiun, dan bertekad membela Petronas Yamaha SRT pada 2021 jika ia terbukti tampil kompetitif pada 7-8 seri perdana 2020.

Namun, musim 2020 harus tertunda selama empat bulan akibat pandemi virus corona. Rossi pun harus ambil keputusan soal masa depannya tanpa banyak bahan evaluasi dan tanpa waktu panjang. Pada pertengahan musim, tepatnya pada September, Rossi akhirnya resmi diumumkan akan pindah ke Petronas Yamaha SRT pada 2021.

Sayangnya, petualangan Rossi di SRT tak semanis harapan. Dalam sembilan seri pertama, ia hanya sekali masuk 10 besar, dan bahkan justru lima kali gagal meraih poin. Hasil kelam ini pun seolah meyakinkan Rossi bahwa inilah saat yang tepat baginya untuk gantung helm. Ia pun bertekad untuk banting setir ke ajang balap mobil pada 2022.

11 dari 11 halaman

Video: 5 Pembalap Hebat WorldSBK yang Tak Sukses di MotoGP

KOMENTAR