BERITA JADWAL KLASEMEN LAINNYA

Ducati: Bahaya MotoGP Tak Cuma Dipicu Top Speed, Moto3 Lebih Ngeri

14-07-2021 13:45 | Anindhya Danartikanya

Pembalap Pramac Racing, Johann Zarco (c) Pramac Racing
Pembalap Pramac Racing, Johann Zarco (c) Pramac Racing

Bola.net - Sporting Director Ducati Corse, Paolo Ciabatti, angkat bicara soal topik serius yang belakangan dibahas di paddock Grand Prix, yakni anggapan bahwa motor-motor MotoGP masa kini makin berbahaya karena kecepatan puncaknya (top speed) juga kian tinggi. Lewat Speedweek, Selasa (13/7/2021), Ciabatti mengaku tak sepakat.

Rasa cemas soal risiko kecelakaan di MotoGP mendadak melambung usai Johann Zarco (Pramac Racing) mematahkan rekor top speed di atas Ducati dengan 362,4 km/jam di Losail, Qatar. Rekor ini pun disamai oleh Brad Binder (Red Bull KTM) di Mugello, Italia. Dua momen bersejarah ini pun menimbulkan pro-kontra di paddock.

Sebagian pihak yakin ini tanda MotoGP harus mulai meminimalisasi risiko kecelakaan dengan cara mereduksi tenaga mesin. Namun, sebagian lagi merasa hal ini tak perlu diributkan karena ini adalah konsekuensi dari terus berkembangnya teknologi. Ducati, yang dikenal dengan mesinnya yang sangat bertenaga, ada di kelompok kedua.

Ciabatti menyebut insiden rider Moto3, Jason Dupasquier, di Mugello sebagai bukti kecelakaan tak selalu diakibatkan top speed tinggi. Terlebih, tewasnya rider Swiss itu juga dipengaruhi hantaman para rider di belakang yang tak bisa menghindar. Perlu diingat, hal serupa juga jadi penyebab tewasnya Shoya Tomizawa dan Marco Simoncelli.

1 dari 3 halaman

Insiden Jason Dupasquier Bukti Ini Bukan Soal Top Speed

Pembalap CarXper PrustelGP, Jason Dupasquier (c) MotoGP.com
Pembalap CarXper PrustelGP, Jason Dupasquier (c) MotoGP.com

"Jika Anda melihat insiden yang terjadi di Mugello (kecelakaan Dupasquier), Anda pasti tahu bahwa insiden itu terjadi pada motor yang sangat ringan dan tak terlalu cepat. Namun, konsekuensi dari kecelakaan tersebut nyatanya tetap ekstrem. Inilah alasan kita tak seharusnya terlalu menyalahkan top speed," ungkap Ciabatti.

"Kita memang melihat rekor top speed Johann di Doha, tapi kala itu ia dapat slipstream dan gagal mengerem di akhir trek lurus. Selain itu, Brad menyamai rekor ini dengan KTM di Mugello. Namun, level bahaya dunia balap motor datang dari dinamika beberapa insiden, dan kecepatan bukanlah faktor yang paling menentukan," lanjutnya.

Ciabatti menyatakan, tabrakan dalam kecepatan 50-60 km/jam saja sudah berakibat fatal pada tubuh manusia. Inersia pada motor seberat 200 kg juga punya efek kuat dan bisa mengakibatkan kerusakan besar, bahkan pada kecepatan rendah sekalipun. Alhasil, ia yakin top speed motor MotoGP tak perlu jadi hal yang kelewat dirisaukan.

"Bahaya lain juga bisa datang jika Anda jatuh dan motor Anda mengikuti tepat di jalur yang sama dan menabrak Anda di pembatas. Alhasil, saya rasa menurunkan kapasitas tangki bahan bakar takkan mengatasi masalah ini," ungkap Ciabatti, merujuk pada jenis kecelakaan yang merenggut nyawa Luis Salom di Catalunya pada 2016.

2 dari 3 halaman

Moto3 Lebih Mencemaskan Karena Lebih Ketat

Pembalap Red Bull KTM Factory Racing, Brad Binder (c) KTM Images/Rob Gray (Polarity Photo)
Pembalap Red Bull KTM Factory Racing, Brad Binder (c) KTM Images/Rob Gray (Polarity Photo)

Ciabatti bahkan menyatakan, daripada meributkan top speed MotoGP, lebih baik orang-orang fokus mencari solusi untuk level bahaya di Moto3. Belakangan, kelas ini memang mendapat kritik dari para rider MotoGP, karena dianggap mengerikan berkat gaya balap para pembalapnya yang agresif dan level persaingan yang sangat ketat.

Seperti yang diketahui, nyaris di setiap balapan Moto3, sebanyak kurang lebih 10-15 rider bertarung sengit memperebutkan kemenangan sampai lap terakhir dengan jarak yang sangat berdekatan. Bahkan, lima rider sekaligus bisa bersisian ketika memasuki tikungan. Menurut Ciabatti, 'pemandangan' itu lebih mencemaskan.

"Bahaya tak terlalu ada kaitannya dengan performa mesin atau top speed, melainkan terkait dengan dinamika tertentu yang tak bisa dihindari di dunia balap motor. Menurut saya, level bahaya di Moto3 justru lebih tinggi ketika 20 pembalap melaju berdekatan. Anda bisa lihat pada lap-lap terakhir di Catalunya," tuturnya.

"Ketika rider wheel-to-wheel begitu dekat, dan performa semua motor setara, barulah berbahaya. Di Moto3, level bahayanya terus naik karena para rider sangat berdekatan dan reaksi motor mereka bisa memicu insiden-insiden mengerikan. Kadang, Moto3 hanya soal keberuntungan, antara Anda jatuh atau bertahan di atas motor," tutupnya.

Sumber: Speedweek

3 dari 3 halaman

Video: Angka Covid-19 Meningkat, Australia Batalkan MotoGP dan Formula 1

KOMENTAR