BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Mengapa Virus Corona Mudah Menjangkiti Sel Manusia?

07-04-2020 21:35 | Serafin Unus Pasi

Ilustrasi virus corona (c) Public Domain/Centers for Disease Control and Prev Ilustrasi virus corona (c) Public Domain/Centers for Disease Control and Prev

Bola.net - Selama hampir empat bulan terakhir, penyebaran virus corona di seluruh dunia mulai mengkhawatirkan. WHO mencatat bahwa virus yang berasal dari Wuhan, China ini sudah menyebar luas hampir ke seluruh penjuru dunia.

Begitu cepatnya penyebaran COVID-19 membuat masyarakat di dunia memberlakukan ketentuan social distancing atau jaga jarak. Dalam perkembangannya, anjuran ini diubah WHO menjadi physical distancing.

Sosok misteri virus corona sampai saat ini masih terus diteliti para ahli. Mereka coba membongkar rahasia di balik apa itu virus corona.

Mengutip laman livescience.com, virus Covid-19 ternyata bisa dengan mudah menempel pada sel manusia melalui apa yang disebut spike protein. Namun pada Covid-19, struktur protein lonjakannya berbeda.

Setelah protein tersebut berikatan dengan reseptor sel manusia, maka protein pada permukaan sel akan berfungsi sebagai pintu masuk. Protein tersebut akan masuk ke dalam membrane sel virus dan bergabung dengan membrane sel manusia. Sehingga memungkinkan untuk genom virus untuk masuk ke dalam sel manusia.

Pada Februari, peneliti di University of Texas di Austin dan di National Institutes of Health, memetakan struktur molekul protein lonjakan COVID-19. Struktur protein lonjakan pada COVID-19, berbeda dengan virus corona sebelumnya.

Para peneliti menggunakan sinar-x untuk mengeksplorasi lebih lanjut terkait spike protein dan reseptor sel manusia yang diikatnya. Tujuannya adalah untuk mengetahui mengapa protein lonjakan pada COVID-19 sangat baik dalam menginfeksi sel manusia, bila dibandingkan dengan virus corona serupa yang dikenal sebagai SARS-CoV, yang menyebabkan wabah sindrom pernafasan akut (SARS) pada 2003.

1 dari 8 halaman

Mengapa Covid-19 dapat menginfeksi dengan sangat baik pada sel manusia?

Baik SARS-CoV dan SARS-CoV-2 mengikat ke reseptor sel manusia yang sama, yang dikenal sebagai ACE2. Penelitian dari University of Minnesota menemukan beberapa mutasi genetik memimpin protein lonjakan SARS-CoV-2 untuk mengembangkan "punggungan" molekuler yang lebih kompak daripada SARS-CoV.

Struktur yang lebih ringkas dan beberapa perbedaan kecil lainnya, memungkinkan SARS-CoV-2 menempel lebih kuat pada reseptor ACE2 manusia. Sehingga memungkinkannya untuk menginfeksi sel lebih baik dari SARS-CoV. Dengan demikian COVID-19 dapat menyebar lebih cepat daripada coronavirus SARS.

Fang Li, seorang profesor di Departemen Ilmu Hewan dan Biomedis di University of Minnesota mengatakan, "Secara umum, dengan mempelajari fitur struktural dari protein virus yang paling penting dalam membangun kontak dengan sel manusia, kita dapat merancang obat kemudian mencari virus tersebut dan memblokir aktivitas mereka - seperti mengacaukan radar mereka.”

2 dari 8 halaman

Temuan Para Ahli

Dengan mempelajari secara spesifik virus Covid-19 dan bagaimana ia melekat pada sel, para peneliti juga memperoleh beberapa wawasan tentang bagaimana virus itu dapat melompat dari hewan ke manusia.

Mereka menemukan bahwa virus corona pada kelelawar juga berikatan dengan reseptor ACE2. Beberapa mutasi bisa meningkatkan kemampuan virus kelelawar untuk menempel pada reseptor manusia yang memungkinkan lompatan ke manusia. Para peneliti juga menganalisis struktur protein lonjakan pangolin, yang bisa menjadi inang antara kelelawar dan manusia.

Mereka menemukan bahwa salah satu pangolin virus corona berpotensi mengikat reseptor manusia. Mendukung gagasan bahwa trenggiling adalah inang perantara virus. Tetapi hipotesis itu " perlu diverifikasi secara eksperimental," tulis mereka dalam penelitian tersebut.

Temuan ini dipublikasikan pada 30 Maret di jurnal Nature.

3 dari 8 halaman

Waspada! Inilah Gejala yang Tidak Biasa pada Penderita Corona COVID-19

Di tengah beredarnya berbagai informasi mengenai pandemi Corona Covid-19 di masyarakat, masih banyak sekali hal yang belum kita ketahui terkait virus ini. Termasuk cara mencegah dan gejalanya yang bisa bervariasi pada setiap orang.

Secara umum, gejala khas yang muncul pada penderita Covid-19 adalah batuk kering, demam, dan kesulitan bernapas. Bahkan sebagian orang tidak memiliki gejala sama sekali, meskipun sangat menular.

Dilansir dari Science Alert pada 1 April, ternyata ada beberapa gejala lain yang muncul pada penderita COVID-19. Berikut ini Dream akan merangkumkan informasinya untuk kamu.

4 dari 8 halaman

Masalah Pencernaan

Masalah pencernaan seperti diare dan mual mungkin merupakan gejala umum yang sudah diperkirakan. Masalah pencernaan semakin sering dikaitkan dengan infeksi virus corona. Menurut laporan Business Insider, sekitar satu dari 10 pasien virus corona mengalami beberapa gejala gastrointestinal, termasuk diare dan mual.

Sebelumnya, studi di The Lancet melaporkan bahwa hanya 3 persen pasien Cina yang mengalami diare. Dan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat sekitar 5 persen pasien corona yang mengalami mual.

Saat ini, terdapat penelitian baru yang menunjukkan bahwa jumlahnya mungkin lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, dan hingga setengah dari pasien mungkin memiliki masalah pencernaan bersama dengan gejala pernapasan.

Biasanya, pasien juga ikut mengalami gejala umum lainnya seperti kesulitan bernafas, demam, atau batuk. Menurut penelitian, hanya sekitar 3 persen yang mengalami satu gejala pencernaan saja.

5 dari 8 halaman

Merasa Letih dan Lesu

Baru–baru ini, dalam sebuah laporan, sebuah panti jompo di Washington mengungkapkan fakta baru. Hampir sepertiga dari penghuninya dinyatakan positif terkena virus corona. Namun, setengahnya tidak memiliki gejala, dan beberapa pasien lain memiliki gejala yang tidak biasa seperti perasaan tidak nyaman, sakit, atau gelisah tanpa alasan.

Dalam beberapa kasus, COVID-19 dapat muncul sebagai malaise, disorientasi, atau kelelahan. Hal ini adalah salah satu gejala atipikal yang paling sering dilaporkan, dan sering dibarengi dengan tanda-tanda lain seperti batuk atau demam. Kelelahan, yang sering menyertai gejala lain, jarang dilaporkan karena tidak adanya gejala yang lebih umum.

Pandemi, karantina, dan jarak sosial juga dapat menyebabkan stres dan kecemasan tambahan.

“Faktor-faktor psikologis ini dapat menyebabkan gejala yang sama. Jadi penting untuk tidak panik jika merasa lelah atau gelisah,” ungkap psikoterapis, Ilene Cohen dalam Psychology Today.

Menurut CDC, kebingungan atau ketidakmampuan untuk bangun dapat menjadi tanda yang perlu diwaspadai. Orang-orang yang mengalami gejala-gejala tersebut, terutama dengan tanda-tanda kritis lainnya seperti bibir kebiruan, kesulitan bernapas, atau nyeri dada, harus mencari bantuan segera.

6 dari 8 halaman

Rasa Kedinginan dan Nyeri Otot

Nyeri dan kedinginan bisa menjadi gejala dari banyak penyakit, termasuk flu. Namun beberapa pasien yang terindikasi virus corona juga melaporkan gejala yang sama. Belum jelas seberapa lazimnya gejala-gejala ini. Namun menurut laporan WHO, terdapat sekitar 11 persen orang yang diteliti melaporkan merasakan kedinginan, dan 14 persen melaporkan mengalami nyeri otot.

Gejala ini bisa diartikan sebagai tanda awal dari gejala yang lebih parah atau malah satu-satunya indikasi infeksi ringan.

Jika mengalaminya, lakukan tindakan pencegahan tambahan untuk mengisolasi diri dari orang lain, banyak istirahat dan memperbanyak minum, dan segera menghubungi dokter.

7 dari 8 halaman

Sakit Kepala dan Pusing

Menurut penelitian di The Lancet, sekitar 8 persen pasien Covid-19 melaporkan sakit kepala. Rasa pusing juga telah dilaporkan dalam beberapa kasus , bahkan beberapa merasa serangan pusing yang sangat parah atau tiba-tiba dapat menunjukkan risiko kesehatan yang lebih serius.

CDC menawarkan pemeriksa mandiri online secara gratis untuk membantu menilai apakah gejala dan keadaan seseorang menunjukkan infeksi corona atau tidak.

8 dari 8 halaman

Hidung Tersumbat

Sebagian kecil pasien Covid-19 mengalami hidung tersumbat atau pilek. Menurut laporan WHO, jumlahnya kurang dari 5 persen yang mengalami gejala ini.

Bersin sama sekali bukan gejala yang terkait dengan corona. Jika seseorang merasakan gejala ini, kemungkinan besar itu adalah alergi atau pilek.

Sakit tenggorokan kadang-kadang juga bisa menyertai infeksi corona. Namun, hal itu jarang terjadi. Sakit tenggorokan lebih sering menunjukkan tanda flu biasa atau pilek.

Sumber: Dream.co.id/Penulis: Ulyaeni Maulida, Published 6 April 2020.

KOMENTAR

Generasi Penerus Bundesliga: Erling Braut Haaland