BERITA TIMNAS JADWAL KLASEMEN LAINNYA

30 Kalimat Jawa Kuno, Inspirasi Pedoman Hidup

03-08-2020 15:26 | Richard Andreas

Ilustrasi (c) Bola.com/Pixabay
Ilustrasi (c) Bola.com/Pixabay

Bola.net - Wong Jawa aja lali jawane. Salah satu pepatah paling tua yang meminta masyarakat jawa untuk tetap menjaga budaya yang diturunkan oleh nenek moyang.

Satu di antara adi luhur yang hingga saat ini masih dijaga dan digunakan oleh kebanyakan masyarakat Jawa untuk menjalani kehidupan adalah pepatah Jawa kuno.

Pepatah Jawa kuno masih dicari di tengah modernitas karena memiliki makna mendalam yang dapat memberikan banyak pelajaran bijak untuk menjalani kehidupan.

Selain itu, di dalam makna yang terkandung pada pepatah Jawa memiliki ajaran yang kaya akan nilai-nilai moral, yang dapat dijadikan sebagai penuntun untuk menyikapi sebuah permasalahan.

Kamu dapat menjadikan pepatah Jawa sebagai dorongan untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana sehingga memiliki kehidupan yang lebih baik. Kamu dapat ikut melestarikan kebudayaan Jawa.

Kamu pun bisa berbagi kata-kata pepatah Jawa kuno kepada orang lain sehingga mereka mendapatkan pencerahan yang sama.

Berikut 30 kata-kata pepatah Jawa kuno, yang dapat kamu jadikan sebagai suntikan motivasi dan inspirasi:

1 dari 2 halaman

Kata-kata Pepatah Jawa Kuno

1. "Bibit, bebet, bobot."

(Menilai kualitas secara mendetail berdasar asal muasal, peranan, dan kiprah yang telah diperbuat)

2. "Beda-beda pandumaning dumadi."

(Tuhan Yang Maha Adil memberikan anugerah yang adil kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya)

3. "Cakra manggilingan."

(Kehidupan itu dinamis seperti roda yang berputar, tidak tinggi ketika dipuji tidak jatuh ketika dimaki. Tetap berbuat baik, benar serta senantiasa mengingat Tuhan)

4. "Ana catur mungkur."

(Adu mulut pertentangan, percekcokan sebisa mungkin untuk dihindari agar senantiasa bisa menyelesaikan masalah secara bijak)

5. "Bener saka kang Kuwasa iku ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan bener kang ora cocok karo benering Pangeran.

(Kebenaran di alam semesta itu ada dua jenis, kebenaran yang selaras dengan ajaran Tuhan dan kebenaran yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Benar ketika selaras dengan tuntunan/ajaran Tuhan dan salah ketika bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Tuhan)

6. "Anak polah bapa kepradah."

(Tingkah laku anak mempunyai imbas bagi orang tua, tingkah laku anak yang buruk orang tua ikut terdampak buruk, begitu pula sebaliknya, jika perilaku anak baik, orang tua pun akan ikut terdampak baik)

7. "Crah agawe bubrah."

(Pertentangan atau konflik menyebabkan perpecahan/kerusakan)

8. "Dhuwur wekasane, endhek wiwitane."

(Kesengsaraan yang membuahkan kemuliaan)

9. "Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira."

(Terjadinya dirimu karena diciptakannya ibu bapakmu sehingga kedua orang tua harus dimuliakan)

10. "Gupak pulut ora mangan nangkane."

(Tidak turut menikmati manisnya keberuntungan, tetapi ikut terseret ketika datang kesengsaraan atau penderitaan)

11. "Ana dina, ana upa."

(Tiap perjuangan selalu ada hasil yang nyata)

12. "Adhang-adhang tetese embun."

(Berharap sesuatu dengan hasil apa adanya, seperti berharap pada tetes embun)

13. "Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh."

(Upaya yang dilakukan perlahan, tetapi akhirnya tujuannya akan tercapai)

14. "Kena iwake aja nganti buthek banyune."

(Berusahalah mencapai tujuan tanpa menimbulkan kerusakan)

15. "Sepi ing pamrih, rame ing gawe."

(Melakukan suatu pekerjaan tanpa merasa pamrih)

2 dari 2 halaman

16. "Ngundhuh wohing pakerti."

(Apa pun yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang sepadan)

17. "Mikul dhuwur mendhem jero."

(Seorang anak yang menjunjung tinggi derajat orang tua)

18. "Sabar sareh mesthi bakal pikoleh."

(Pekerjaan apa pun jangan dilakukan dengan tergesa-gesa agar berhasil)

19. "Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah."

(Hidup rukun pasti akan hidup sentosa, sebaliknya jika selalu bertikai pasti akan bercerai)

20. "Tuna sathak bathi sanak."

(Merugi harta, tetapi mendapatkan sahabat)

21. "Iro yudho wicaksono."

(Satria yang berani berperang membela kebenaran, menegakkan keadilan dengan berlandaskan prinsip kebijaksanaan)

22. "Jaman iku owah gingsir."

(Ruang, waktu, serta zaman akan selalu dinamis dan berubah)

23. "Kakehan gludhug, kurang udan."

(Terlalu banyak berbicara tapi minim usaha, satu aksi lebih baik daripada satu juta kata-kata)

24. "Kaya banyu karo lenga."

(Tidak pernah rukun ibarat air dan minyak)

25. "Kebo nyusu gudel."

(Kaum tua menimba ilmu atau berguru kepada kaum muda)

26. "Lamun sira durung wikan alamira pribadi, mara takona marang wong kang wus wikan."

(Jikalau engkau belum memahami alam pribadimu, hendaknya engkau bertanya kepada yang telah memahaminya)

27. "Manunggaling kawula gusti."

(Manunggalnya atau bersatunya antara kawula (hamba) dengan sifat-sifat Tuhannya)

28. "Manungsa iku kanggonan sipating Pangeran."

(Manusia itu memiliki sifat Tuhan)

29. "Nabok nyilih tangan."

(Memanfaatkan atau mempergunakan tangan orang lain untuk melakukan suatu kejahatan)

30. "Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake."

(Menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan lawan, sifat kesatria yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur)


Disadur dari: Liputan6 (Penulis: Anugerah Ayu Sendari, Editor: Nanang Fahrudin. Published: 10/12/2019), Narasi Inspirasi

KOMENTAR