BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Serial No.10 Juventus: Liam Brady dan Perpisahan yang Menyakitkan Hati

16-04-2020 09:11 | Yaumil Azis

Mantan pemain Juventus, Liam Brady, berselebrasi dalam laga Serie A kontra Catanzaro di musim 1981/82. (c) Wikipedia Mantan pemain Juventus, Liam Brady, berselebrasi dalam laga Serie A kontra Catanzaro di musim 1981/82. (c) Wikipedia

Bola.net - Bicara soal No.10 seharusnya tidak melulu soal legenda paling tersohor Juventus, Alessandro Del Piero. Dari rekam sejarah, Liam Brady pun pernah mengenakan angka keramat itu meski dalam waktu singkat.

Pria kelahiran Dublin, Irlandia, tersebut dikenal sebagai salah satu sosok penting dalam dunia sepak bola. Kebintangannya mulai terpapar sejak dirinya memperkuat Arsenal selama tujuh musim.

Ia mengakhiri perjalanannya yang indah di Highbury tepat pada tahun 1980, hanya demi memenuhi pinangan Juventus. Atau lebih tepatnya untuk mengikuti langkah sang pendahulu, Keevin Keegan.

Meskipun singkat, Brady berhasil mendapatkan tempat khusus di hati penggemar Juventus. Sayangnya, Brady pergi dengan sedikit rasa pahit di hatinya karena tergantikan oleh sosok lain.

Scroll ke bawah untuk membaca informasi selengkapnya

1 dari 4 halaman

Mencapai Puncak Bersama Arsenal

Brady merupakan salah satu pemain binaan tim akademi dan sudah bergabung dengan Arsenal sejak masih berusia 15 tahun. Dua tahun berselang, tepatnya pada tahun 1973, ia mendapatkan kesempatan untuk melakoni laga debutnya melawan Birmingham City.

Brady harus jatuh bangun untuk mendapatkan tempat di skuat inti Arsenal. Musim perdananya berlangsung cukup buruk. Namun, ia berhasil menunjukkan secercah talenta miliknya pada musim berikutnya.

Ia menjadi senjata utama Arsenal pada saat itu. Para penyerang the Gunners, seperti Malcolm Macdonald dan Frank Stapleton, dibuat terbuai oleh umpan-umpannya yang memanjakan. Kehadiran Brady dalam skuat membuat Arsenal berhasil memenangkan satu dari tiga partai final FA Cup dalam kurun waktu tiga musim berturut-turut, mulai dari 1978 hingga 1980.

Pada musim 1979/80, Brady bertemu dengan Juventus sebagai lawan di babak semi-final Cup Winners' Cup. Performanya membuat Bianconeri terkesima dan tanpa pikir panjang langsung merekrutnya dengan nilai transfer 500 ribu pounds.

Brady, dengan berat hati, harus berpisah dengan Arsenal yang telah mengorbitkan namanya. Namun ia punya alasan yang jelas. Pertama adalah masalah finansial, di mana Arsenal pada saat itu merekrut pemain baru dan rela membayarnya tiga kali lipat dari Brady.

"Terdengar konyol sekarang, tapi saya dibayar senilai 200 pounds per pekan. Dan ada pemain baru - saya takkan menyebut nama - yang dibayar tiga kali lipat lebih besar," ujar Brady dalam sebuah wawancara, dikutip dari Balls.ie.

"Juventus mau membayar saya 10 kali lipat dari nilai bayaran saya di Inggris," lanjutnya.

2 dari 4 halaman

Mengikuti Jejak Kevin Keegan

Dan seperti yang diketahui, Brady bergabung dengan Juventus pada tahun 1980. Ia langsung diberi nomor punggung 10 yang pernah dikenakan sosok legendaris berdarah Argentina, Omar Sivori.

Keputusan Brady untuk keluar dari Inggris, apalagi hanya untuk ke Serie A yang kala itu belum sepopuler sekarang, membuat publik mengernyitkan dahi. Namun ambisi Brady untuk mengikuti langkah Kevin Keegan membuatnya yakin untuk bertolak ke Italia.

"Pada waktu itu, Kevin Keegan pindah ke Hamburg. Dia menjuarai Bundesliga bersama Hamburg. Mereka adalah klub papan atas. Dan Keegan adalah sosok yang sangat besar dalam sepak bola Inggris," ingatnya.

"Ada pemberitaan dengan jumlah yang besar soal dirinya pergi. Mereka mengikutnya ke sana dan menunjukkan gaya hidupnya."

Pada awalnya, Brady benar-benar ingin mengikuti langkah Keegan secara persis. Ia sudah memilih Jerman sebagai destinasi berikutnya. Dan kala itu, ia hampir bergabung dengan Bayern Munchen. Namun karena suatu alasan, kedua belah pihak gagal menemukan kata sepakat.

Baru setelahnya, Brady memutuskan untuk bergabung dengan Juventus yang kala itu dipegang pengusaha kaya bernama Gianni Agnelli. Inilah awal mula kisah pahit dari seorang Brady di Italia.

3 dari 4 halaman

Kisah Perpisahan yang Pahit

Perjalanan Brady terbilang sangat singkat, yakni selama dua musim saja, walaupun performanya tak bisa dibilang buruk. Malah sebaliknya, ia turut membantu Juventus meraih Scudetto di dua musim itu.

Brady juga berhasil mendapatkan tempat di hati fans Juventus pada waktu itu. Uang pun tidak jadi masalah. Lantas, apa yang membuatnya harus pergi?

Pada musim debutnya, Brady tidak hanya mempersembahkan trofi Serie A kepada Juventus. Ia pun menjadi gelandang dengan gol terbanyak. Tidak, ia tidak menorehkan jumlah gol fantastis. Delapan gol untuk satu musim dirasa normal kala itu. Tetapi, itu sudah cukup untuk membuat fans Juventus terpana.

Performa Brady pada musim berikutnya menunjukkan sedikit penurunan, tapi tidak memengaruhi prestasi Juventus. Ya, Bianconeri tetap mampu menutup musim 1981/82 dengan raihan Scudetto.

Namun itu tidak cukup untuk membuat Brady bertahan di Juventus. Brady tidak menginginkan kepindahan ini. Tapi Bianconeri juga tak memiliki pilihan.

Saat itu Juventus sangat kepincut dengan pemain asal Prancis, Michel Platini. Membawanya ke Turin bukanlah masalah besar. Namun, regulasi ketat kompetisi yang membatasi jumlah pemain asing di sebuah klub membuat Juventus harus membuat keputusan berat.

Brady tahu bahwa karirnya di Juventus akan berakhir. Meski begitu, ia tetap profesional dan membantu Juve sampai pertandingan terakhir melawan Piacenza. Bahkan, ia sukses mengkonversi penalti menjadi gol di partai tersebut. Sebelum pergi, Brady memberikan sedikit bumbu drama sebagai memento perpisahannya kepada manajemen tim.

"Berita ini terkuak di surat kabar saat liga tinggal menyisakan tiga pertandingan. Mereka punya lima surat kabar sepak bola dan mereka tahu apa yang terjadi. Mereka mendapatkan bocoran informasi," ungkap Brady.

"Pelatihnya pada saat itu adalah [Giovanni] Trappatoni. Saya mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan 'mereka akan merekrut Platini'. Dan saya bilang 'Tidak, tidak, tidak,' Kemudian saya menutup telepon dan berpikir 'apakah mungkin...' Jadi saya mengunjungi Trap usai latihan pagi itu. Dan dia bilang 'tidak, tidak, tidak...' tapi saya tahu dia berbohong. Saya bisa lihat itu di wajahnya. Dia berada di posisi yang sulit."

"Saya pulang usai latihan dan mendapatkan panggilan untuk kembali ke klub. Dan [Giampiero] Boniperti, dengan gaya Italia yang khas, berkata, 'sungguh berat hati tapi... kami telah membuat keputusan ini. Bila kami mempertahankan anda kami bakalan... ini adalah aturan konyol, bahwa anda hanya bisa memiliki satu atau dua pemain asing."

Brady menjawabnya dengan perkataan yang cukup keras. Lantas, Boniperti berkata: "Tidak, kita sedang mengejar trofi, tinggal tiga pertandingan tersisa! Anda harus profesional!".

Tentu saja, Brady hanya mencoba memanas-manasi legenda Juventus tersebut. Pada akhirnya, Brady tetap melakoni pertandingan sisa dan menunjukkan sisi profesionalnya.

Pada pertandingan terakhir, yakni melawan Piacenza, Juventus butuh tiga poin. Mereka mendapatkan penalti pada menit-menit akhir. Brady maju untuk mengeksekusi, sambil diselimuti rasa kekhawatiran fans Juventus yang menduga bahwa Brady akan menggagalkan penalti tersebut. Setelah semua drama itu, Brady melesakkan bola ke gawang Piacenza tanpa ragu. Penonton Juventus bersorak dan berterimakasih kepada Brady.

4 dari 4 halaman

Pasca Meninggalkan Juventus

Brady masih bertahan di Italia pasca meninggalkan Juventus di tahun 1982. Setelah angkat kaki dari Turin, ia bergabung dengan Sampdoria yang merupakan tim promosi dari divisi Serie B. Perlu diketahui bahwa Sampdoria, kala itu, baru diakusisi oleh pengusaha kaya.

Bisa dikatakan, Brady datang di waktu yang tidak tepat. Ia bermain selama dua tahun. Dan pada waktu itu, Samp sedang merintis perjalanan menjadi salah satu kekuatan terbesar di Italia. Mereka kemudian meraih Scudetto di musim 1990/91 serta finalis European Cup [sekarang Liga Champions], atau tujuh tahun setelah kepergiannya.

Walau begitu, kiprah Brady di Sampdoria tidak begitu buruk. Ia turut membantu mereka menempati peringkat ke-7 dan enam di masing-masing musim. Sebuah langkah yang bagus untuk klub promosi seperti Sampdoria.

Setelah itu, Brady memilih bergabung dengan Inter Milan. Ia bertahan selama dua musim, dan berhasil mengantar klub berjuluk Nerazzurri tersebut finis di peringkat ketiga Serie A. Tidak hanya itu, ia juga ikut membantu Inter jadi semifinalis di UEFA Cup.

Brady lalu melanjutkan karirnya di Ascoli selama satu musim dengan catatan 17 penampilan tanpa mencetak gol. Pada tahun 1987, ia pulang ke London untuk bergabung dengan West Ham United dan gantung sepatu tiga musim berikutnya.

KOMENTAR