BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Termasuk Henry dan Coutinho, Mereka Merajalela di Premier League tapi Ompong di Serie A

19-07-2020 22:30 | Dimas Ardi Prasetya

Thierry Henry (c) AFP Thierry Henry (c) AFP

Bola.net - Ada sejumlah pemain bintang yang moncer di Premier League, akan tetapi mereka justru melempem ketika bermain di pentas Serie A.

Sebelum Premier League menjelma menjadi liga paling gemerlap di dunia, reputasi itu dulunya menjadi milik Serie A. Pada era 1990-an, Serie A adalah surga bagi bintang sepak bola dunia.

Namun, pamor Serie A akhirnya meredup karena berbagai faktor, satu di antaranya skandal pengaturan skor yang dikenal dengan sebutan Calciopoli. Seria A sulit kembali mengembalikan reputasi besarnya meskipun telah mencoba berbagai cara.

Premier League dan Serie A jelas sangat berbeda. Satu di antara perbedaan besarnya adalah gaya permainan. Inggris dikenal dengan gaya yang lebih lugas dan mengandalkan fisik, Italia identik dengan taktik permainan yang rumit dan memuja pertahanan yang solid.

Tak heran, beberapa pemain tak selalu cocok ketika pindah dari Serie A ke Premier League atau sebaliknya. Mereka dituntut pintar beradaptasi. Jika tidak, konsekuensinya adalah nama mereka tenggelam dan dilupakan.

Seperti dilansir dari The Sun, berikut nama-nama pemain bintang yang menderita di Serie A, tapi bersinar terang saat bermain di Premier League.

1 dari 7 halaman

Ian Rush

Ian Rush adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa Liverpool. Ia menyumbangkan 346 gol dalam dua periode memperkuat The Reds. Di antara dua periode itu, ia mencicipi bermain untuk Juventus.

Pengalaman di Juventus dijalaninya pada musim 1987-1988. Rush menderita di sana karena kesulitan menembus rapatnya pertahanan bek-bek Italia.

Setelah terbiasa mencetak 30 gol lebih per musim, di Juventus ia hanya mengukir tujuh gol dalam 29 pertandingan. Meskipun mengaku selalu kangen kampung halaman, Rush mengklaim kepindahannya ke Italia adalah momen terbaik yang pernah dialaminya.

2 dari 7 halaman

Aaron Ramsey

Gelandang asal Wales, Aarom Ramsey, terpuruk pada musim pertamanya di Juventus pada 2019. Padahal ia disebut-sebut digaji sangat besar, mencapai 400 ribu pounds per pekan.

Rangkaian cedera dan performa yang menurun membuat Ramsey hanya tampil dalam 31 laga untuk Juventus dan mencetak hanya 4 gol.

Padahal di Arsenal Ramsey adalah legenda. Dia sangat piawai menerobos ke kotak penalti dan mencetak gol dengan mudah. Ramsey menyumbangkan 64 gol selama kariernya di Arsenal.

3 dari 7 halaman

Joe Hart

Joe Hart tengah menikmati karier yang gemilang di Manchester City dan dianggap sebagai salah satu kiper muda terbaik di Eropa.

Namun, semuanya berubah ketika Pep Guardiola didaulat menjadi manajer City. Dia disingkirkan oleh Guardiola, karena dianggap kurang mumpuni di bawah mistar gawang. Hart kemudian dipinjamkan ke Torino pada 2016.

Namun, kepindahan ke Serie A berubah menjadi bencana bagi Joe Hart. Pertama, ejaan namanya yang tertera di daftar susunan pemain ditulis salah. Kedua, ia menyebabkan timnya kebobolan gol dengan cara konyol saat melawan Sampdoria.

Saat itu, suporter mungkin sudah lupa Joe Hart mengantongi 75 caps bersama Timnas Inggris dan baru berusia 33 tahun.

4 dari 7 halaman

Des Walker

Bagi Nottingham Forest, Sheffield Wednesday, dan Timnas Inggris, Des Walker adalah tembok kukuh di barisan pertahanan. Walker dikenal solid dalam membaca permainan, bisa berduel di udara dengan baik, menekel dengan bersih, cepat, dan sulit dilewati pemain lain.

Di Serie A, di mana pertahanan adalah raja, Walker seperti menghilang begitu saja. Kemungkinan itu terjadi karena di Sampdoria ia dimainkan sebagai fullback oleh sang pelatih, Sven-Goran Eriksson.

Setelah semusim dan menjalani 30 laga, Walker kembali ke Inggris pada 1993.

5 dari 7 halaman

Philippe Coutinho

Di Liverpool, Philippe Coutinho menjelma menjadi salah satu gelandang paling ditakuti di Premier League. Gol-gol dan visi bermainnya kerap mengundang decak kagum.

Penampilan brilian itulah yang membuat Barcelona tergoda merekrutnya. Mereka rela merogoh kocek hingga 142 juta pounds untuk memboyongnya ke Camp Nou pada Januari 2018.

Transfer itu sangat menguntungkan bagi Liverpool. Saat Brendan Rodgers membawanya ke Anfield pada 2013, The Reds hanya mengeluarkan 8,5 juta pounds. Penyebabnya, Coutinho melempem di Italia.

6 dari 7 halaman

Thierry Henry

Thierry Henry adalah legenda Arsenal yang sangat dicintai suporter. Pemain Prancis itu berstatus top scorer sepanjang masa The Gunners. Henry benar-benar menikmati karier terbaik di London Utara.

Namun, sebelum bersinar di Premier League berkat skill dan gaya mainnya, Henry kesulitan menemukan irama terbaik bersama Juventus.

Fans Juventus berharap banyak ketika ia diboyong dari Monaco dengan banderol 10,5 juta pounds. Namun, impian tak seindah kenyataan. Henry hanya mencetak tiga gol dalam 19 pertandingan.

Dia pernah bermain sebagai wing-back, wide midfield, tapi tak pernah maksimal. Semuanya berubah setelah Arsene Wenger mengubahnya menjadi salah satu penyerang terbaik pada masanya.

7 dari 7 halaman

Dennis Bergkamp

Satu lagi pahlawan Arsenal, Dennis Bergkamp, ada dalam daftar ini. Bergkamp dianggap sebagai salah satu pemain terbaik Eropa pada awal 1990-an, saat masih memperkuat Ajax Amsterdam.

Jadi, tak mengherankan ketika ia pindah ke Inter Milan pada 1993 dengan banderol 7,1 juta pounds. Saat itu, Serie A berstatus sebagai liga terhebat di dunia dan menjadi tujuan para pemain terbaik dunia.

Namun, kepindahan itu berubah menjadi bencana bagi Bergkamp. Dia bermain bukan di posisi idealnya. Alih-alih diberi peran lebih ke dalam seperti biasanya, ia malah diplot sebagai target man dan diharapkan mencetak banyak gol.

Bahkan, ia pernah mendapat kritik keras dari salah satu media lokal Italia karena dianggap bermain sangat buruk. Setelah menjalani 74 laga bersama Juventus dan menyumbang 22 gol, ia hengkang ke Arsenal pada 1995 dengan banderol 7,5 juta pounds. Sisanya adalah sejarah. Bergkamp cukup cepat mememangi hati fans Arsenal dengan performanya yang fantastis.

Sumber Asli: The Sun
Disadur dari: Bola.com/Penulis Yus Mei Sawitri
Published 19 Juli 2020

KOMENTAR