BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Seperti Liverpool Dahulu, Sekarang MU Hidup dalam Kejayaan Masa Lalu

03-06-2020 05:00 | Richard Andreas

Skuat Manchester United merayakan gol Anthony Martial ke gawang Watford (c) MUFC Official Skuat Manchester United merayakan gol Anthony Martial ke gawang Watford (c) MUFC Official

Bola.net - Keterpurukan Manchester United sejak kepergian Sir Alex Ferguson sepertinya bisa jadi masalah yang lebih besar. Jika tidak segera bangkit, MU bisa semakin tenggelam dan hidup dalam kejayaan masa lalu.

Peringatan di atas disampaikan oleh mantan pemain The Reds, John Barnes. Menurutnya, situasi MU saat ini nyaris persis dengan situasi Liverpool beberapa tahun lalu.

Barnes pindah ke Liverpool pada tahun 1987 silam, dia menjadi bagian skuad Liverpool yang terakhir kali menjuarai Liga Inggris. Karena itulah dia memahami langsung apa yang terjadi, sama dengan yang dialami MU sekarang.

Apa maksud Barnes? Baca selengkapnya di bawah ini ya, Bolaneters!

1 dari 2 halaman

Sangat Mirip

Kini, berdasarkan pengalamannya di masa-masa kesulitan Liverpool puluhan tahun silam, Barnes tahu situasi MU sekarang tidak berbeda. Artinya, MU mungkin tidak akan bisa cepat bangkit dan terus mengungkit-untkik kesuksesan beberapa tahun terakhir.

"Saya melihat banyak kemiripan antara MU dengan Liverpool, sungguh banyak yang mirip dan saya akan jelaskan pada Anda," kata Barnes kepada beIN Sports.

"Ketika saya pertama kali tiba di Liverpool, ada tim sukses di sana sebelumnya dan tuntutan serta tekanan untuk terus menang adalah yang paling penting."

"Tekanan untuk menang sangat tinggi. Lalu, tiba-tiba, MU muncul di awal tahun 1990-an dan segalanya berubah," imbuhnya.

2 dari 2 halaman

Sekarang Berubah

Intinya, dahulu Liverpool yang sangat kuat bisa digusur oleh MU yang bangkit di bawah Sir Alex. Kini, Barnes melihat situasi yang sama. MU yang pernah berjaya, mulai digusur oleh Manchester City dan Liverpool yang mulai bangkit.

"Lalu, saya berpikir bahwa setelah Man City mengambil alih, MU memang masih klub terbesar, dan para pemain senang bisa berada di MU tanpa menyadari tanggung jawab untuk terus menang,"lanjut Barnes.

"Sebab, ketika mereka finis di peringkat ketiga dan Tottenham finis di atas mereka, pemain MU masih merasa mereka lebih besar dari pemain Tottenham hanya karena mereka membela MU."

"Masalah seperti itu pernah terjadi pada Liverpool," pungkasnya.

Sumber: beIN Sports

KOMENTAR