BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Arteta vs Lampard vs Solskjaer: Siapa yang Torehkan Musim Lebih Baik?

03-08-2020 15:15 | Richard Andreas

Gambar ilustrasi bola. (c) AP Photo Gambar ilustrasi bola. (c) AP Photo

Bola.net - Kompetisi domestik sepak bola Inggris sudah dibungkus. Liverpool jadi juara Premier League, Manchester City meraih trofi Carabao Cup, dan Arsenal merajai Piala FA.

Selain tiga kompetisi tersebut, yang tak kalah seru adalah perjuangan tim-tim yang disebut 'the big six'. Okelah, Liverpool dan Man City sudah terlalu kuat, tidak banyak cerita unik yang bisa dipetik. Namun, nasib tiga tim besar lainnya tak sebaik itu.

Tiga tim besar yang dimaksud adalah Manchester United, Chelsea, dan Arsenal. Dalam sejarah sepak bola Inggris, ketiganya tetaplah tim besar, meski MU dan Arsenal terus merosot beberapa tahun terakhir.

Musim ini ketiganya ditangani oleh pelatih baru. Frank Lampard baru menjalani debutnya sebagai pelatih Chelsea, Mikel Arteta mengambil alih tugas Unai Emery sejak Desember 2019, dan Ole Gunnar Solskjaer yang -- meski sudah mulai sejak musim lalu -- menjalani musim penuh pertamanya sebagai bos Setan Merah.

Seperti apa torehan tiga mantan pemain yang kembali ke klubnya sebagai pelatih ini? Siapa yang lebih baik di antara ketiganya? Scroll ke bawah ya, Bolaneters!

1 dari 4 halaman

Arteta: Terseok-seok, tapi dapat trofi

Manajer Arsenal Mikel Arteta. (c) AP PhotoManajer Arsenal Mikel Arteta. (c) AP Photo

Mikel Arteta sudah bekerja cukup baik, semaksimal mungkin dengan skuad warisan Unai Emery. Nahasnya, musim ini adalah musim terburuk Arsenal di Premier League.

Mereka tersingkir dari zona Eropa, hanya bisa finis di peringkat ke-8 klasemen akhir. Tercatat, ini adalah finis terburuk Arsenal dalam beberapa tahun terakhir.

Untungnya, Arsenal bisa memperbaiki musim dengan menjuarai Piala FA. Mereka mengalahkan Manchester City di semifinal (2-0) dan menaklukkan Chelsea di partai final (2-1).

Artinya, seburuk-buruknya Arsenal, mereka tetap bisa menutup musim dengan trofi. Pada akhirnya hanya torehan trofi-lah yang dihitung dalam sepak bola.

2 dari 4 halaman

Lampard: Kehabisan bensin di akhir, untung masih empat besar

Pelatih Chelsea, Frank Lampard. (c) AP PhotoPelatih Chelsea, Frank Lampard. (c) AP Photo

Di antara ketiga tim ini, seharusnya Chelsea-lah yang paling stabil, dan cukup mengejutkan. Lampard tiba di Stamford Birdge dalam kondisi sulit: embargo transfer dan kehilangan Eden Hazard.

Biar begitu, Chelsea ternyata bisa melaju cukup apik di paruh pertama. Lampard mengandalkan racikan pemain-pemain muda yang melebih ekspektasi.

The Blues bahkan sempat jadi satu-satunya tim di antara tiga rival ini yang berhasil menembus empat besar. Mereka menghuni peringkat ke-4 selama beberapa pekan, di bawah Leicester City.

Nahasnya, Chelsea seakan-akan kehabisan bensin beberapa bulan terakhir. Mereka mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama, dan kehilangan poin pada pertandingan yang seharusnya mudah.

Chelsea bahkan nyaris terlempar dari empat besar pada beberapa laga terakhir, untungnya Leicester tampil lebih buruk dari mereka.

Pada akhirnya, Lampard berhasil membawa timnnya mengamankan peringkat ke-4 dengan 66 poin, meski membuang peluang meraih trofi Piala FA.

3 dari 4 halaman

Solskjaer: Bangkit di paruh kedua, naik ke peringkat ketiga

Ole Gunnar Solskjaer (c) AP PhotoOle Gunnar Solskjaer (c) AP Photo

Solskjaer memberikan kejutan terbaik di antara Lampard dan Arteta. MU benar-benar buruk di paruh pertama musim ini, pemain-pemain terbaik mereka terpaksa menepi karena cedera panjang, kestabilan tim pun goyah.

Biar begitu, semua masalah itu bisa terselesaikan dengan satu transfer di bulan Januari 2020 lalu: Bruno Fernandes. Sejak kedatangan gelandang Portugal ini, permainan MU terus membaik.

Tidak ada yang menduga MU bisa mengamankan peringkat ke-3 klasemen akhir seperti sekarang. Jangankan peringkat ke-3, beberapa bulan lalu empat besar pun dianggap mustahil

Sebab itu, meski tak meraih trofi, musim ini tetap layak dianggap sebagai musim yang sukses untuk Solskjaer. Kekuatan skuadnya pun mulai terbentuk.

4 dari 4 halaman

Siapa lebih baik?

Merangkum torehan tiga pelatih di atas: Arteta kesulitan di Premier League, tapi bisa meraih trofi. Lampard dan Solskjaer sama-sama bisa mencapai target empat besar, yang berarti bakal bermain di Liga Champions musim depan.

Pertanyaannya, siapa yang lebih baik di antara ketiga pelatih tersebut? Sedikit sulit memberikan penilaian objektif, sebab ketiganya sama-sama membuat kejutan.

Arteta mengejutkan dengan trofi, Lampard mengejutkan dengan laju apik tanpa transfer, dan Solskjaer mengejutkan dengan kebangkitan tim yang signifikan.

Masalahnya, sepak bola cepat lupa. Pada akhirnya yang diingat hanyalah trofi, bukan peringkat ke-3 atau ke-4. Untuk satu hal ini, Arteta mungkin sedikit lebih baik dari dua rivalnya.

Bagaimana menurut Anda Bolaneters? Siapa yang lebih baik dari tiga pelatih muda ini? Tulis jawabanmu di kolom komentar ya!

KOMENTAR