SOS Sebut Penerapan VAR di Indonesia Tak Mudah

Serafin Unus Pasi | 30 Oktober 2021, 23:42
Video Assistant Referee (VAR) (c) UFA
Video Assistant Referee (VAR) (c) UFA

Bola.net - Rencana PT Liga Indonesia Baru (PT.LIB) menerapkan teknologi Video Assistant Referee pada gelaran kompetisi Liga-1 dan Liga-2 musim depan mendapat tanggapan dari Save Our Soccer (SOS). Lembaga yang concern dengan perbaikan tata kelola sepak bola Indonesia ini menilai penerapan teknologi VAR di Indonesia bukan perkara mudah.


"VAR tidak mudah," ucap Koordinator SOS, Akmal Marhali, Sabtu (30/10).

"Penerapan VAR tidak seperti membeli televisi di toko elektronik yang langsung bisa digunakan semaunya," sambungnya.

Sebelumnya, muncul sejumlah tuntutan dari publik agar teknologi VAR diterapkan di kompetisi sepak bola Indonesia. Tuntutan ini tak lepas dari banyaknya keputusan salah dari petugas pertandingan.

Tuntutan ini direspons PT Liga Indonesia Baru. Operator kompetisi Liga 1 dan Liga 2 ini berencana memenuhi tuntutan publik tersebut dan menerapkan teknologi VAR pada musim mendatang.

Simak artikel selengkapnya di bawah ini.

1 dari 4 halaman

Perlu Banyak Wasit

Menurut Akmal, perlu waktu paling tidak 1,5 tahun untuk menerapkan VAR. Pasalnya, menurut law of the games, ada 18 kriteria yang harus dipenuhi untuk penerapan teknologi VAR.

Pada saat penggunaan VAR, harus ada tiga operator yang selalu stand by mengawasi. Dua di antara tiga operator tersebut haruslah wasit yang sudah berlatih soal VAR dan ada wasit yang sudah dilatih menggunakan alat komunikasi yang terhubung dengan VAR.

"Jadi, dalam satu laga minimal butuh 4 wasit. Ada cadangan 1 untuk asisten wasit. Dengan VAR, tambah di belakang dua wasit. Jadi harus ada 7 wasit per laga yang sudah dilatih FIFA selama 6-8 bulan," papar Akmal.

Setelahnya, Akmal menambahkan, akan ada asistensi dari FIFA selama setahun pertama. Selain itu, ada beberapa dasar dari FIFA yang harus dipatuhi sebelum bisa diaplikasikan secara penuh. Salah satunya adalah jumlah minimum wasit yang berlisensi mengoperasikan VAR.

2 dari 4 halaman

Banyak Kamera

Selain itu, menurut Akmal, dalam penggunaannya, VAR memerlukan ketersediaan banyak kamera di stadion. Diperlukan sekurangnya 20 kamera dalam satu laga.

"Stadion di Indonesia memasang delapan kamera saja sulit. Jadi, VAR selain soal anggaran, infrastruktur, juga soal kompetensi," tuturnya.

"Bisa jadi bila digunakan setiap saat terjadi masalah di lapangan, wasit jadi bulan-bulanan," Akmal menambahkan.

3 dari 4 halaman

Benahi Wasit

Alih-alih menerapkan VAR, ada solusi yang paling rasional untuk membenahi kualitas kompetisi. Hal tersebut, sambung mantan wartawam olahraga ini, adalah membenahi kualitas wasit.

"Pilihan paling rasional saat ini adalah pembenahan wasit. Jangan lagi ada wasit titipan, wasit arisan, dan wasit bagi hasil," tegas Akmal.

"PSSI dan LIB harus membongkar mafia wasit dulu sebelum bicara VAR. Berani?" tandasnya.

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR