BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Skuat Persiraja Mendapatkan Teror Jelang Duel Lawan Persita

17-09-2019 23:35 | Dimas Ardi Prasetya

Persiraja (c) Bola.com/Gatot Susetyo Persiraja (c) Bola.com/Gatot Susetyo

Bola.net - Skuat Persiraja Banda Aceh mendapat teror lemparan telur saat pulang dari sesi latihan jelang menghadapi Persita Tangerang, Selasa (17/9/2019) pagi.

Persiraja akan menghadapi tuan rumah Persita dalam laga lanjutan Liga 2 musim 2019, Rabu (18/9/2019) sore di Stadion Sport Centre. Selepas latihan, mereka pulang dengan menggunakan bus.

Namun bus itu kemudian diserang dengan lemparan telur. Pelaku penyerangan saat itu menggunakan sepeda motor.

Kapten Persiraja, Muklis Nakata ketika dihubungi membenarkan teror itu. "Iya, kami diteror setelah latihan, peneror itu naik motor dan ada yang pakai celana abu-abu SMA, bus kami dilempari telur," kata Muklis Nakata.

Selain itu, Muklis mengaku malam sebelumnya, mereka sudah mulai diteror sejumlah orang. Mereka saat itu terus memantau hotel tempat para pemain Lantak Laju menginap.

"Dari semalam sudah ngintai kami di depan hotel, mereka (oknum) sudah ada di depan hotel ketika kami sampai," ungkapnya.

Muklis mengaku kalau mereka tidak mempermasalahkan teror-teror itu, kejadian itu sudah biasa mereka alami ketika melakukan laga tandang ke luar. Mereka hanya fokus pada pertandingan dan ingin membawa pulang poin.

"Kalau di lapangan tidak ada teror, dan aman. Ini biasa teror kecil, pokoknya kami fokus ke pertandingan besok, mudah-mudahan dapat poin di sini," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Bingung

Sementara itu pelatih kepala Persiraja Hendri Susilo mengaku bingung dengan sikap suporter saat ini. Seharusnya rival saat bertanding tidak perlu dibawa ke luar lapangan. Karena sepakbola bukan segalanya dalam kehidupan, tetapi harus bersosialisasi dan berteman di luar itu.

“Meskipun gak semua suporter seperti itu. Kalau suporternya macam Arema mungkin lebih bagus ke depan, bisa menghasilkan keuntungan klub,” ungkap Hendri Susilo.

Menurutnya, ini sudah menjadi kultur yang tidak baik untuk kemajuan dunia sepakbola di Indonesia. Sepakbola sebenarnya harus menjadi pemersatu dari berbagai suku, etnis dan ras di Nusantara ini.

“Saya juga bingung, maksud saya begini, yang jadi masalah setelah pertandingan, apa maksud mereka. Selama 35 tahun main bola baru mengalami hal seperti itu, saya jadi pelatih dipukul. Maksud saya kalau sepakbola begini, gak bagus,” tukasnya.

Kalau bermain di Banda Aceh, sebutnya, rival hanya ada di lapangan bola. Termasuk suporter tidak pernah ada yang menggedor mobil setelah pertandingan selesai.

Menyangkut dengan persiapan Persiraja bertanding dengan Persita Tengerang, sebut Hendri, semua pemain sudah siap untuk merumput dan sudah dipersiapkan segala hal agar bisa memetik hasil yang baik. Persiraja bertanding besok tidak ada beban dan akan mengintruksikan bermain santai.

“Jangan berpikir kalah, bermain saja seperti kita berlatih dan sudah saya kasih tau sama anak-anak,” tukasnya.

Harapannya pertandingan melawan Persita bisa berjalan dengan baik dan juga memetik hasil seperti yang diharapkan. “Semua pemain Persita harus diwaspadai, kita main menghambat laju-laju serangan. Karena pemain Persita bertabur bintang dan tren sedang naik,” tutupnya.

Sumber: Merdeka.com

5 Pekerjaan Rumah Menteri Pemuda dan Olahraga di Bidang Sepak Bola

KOMENTAR