BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Salah Satunya Bikin Rekor Apik, Ini Langkah Pesepak Bola Asal Belanda di Indonesia

05-11-2020 14:33 | Richard Andreas

Sylvano Comvalius (c) baliutd.com Sylvano Comvalius (c) baliutd.com

Bola.net - Liga Indonesia mungkin bukanlah destinasi favorit pesepak bola asal Belanda. Namun, masih ada beberapa nama yang kiprahnya patut diikuti di tanah air.

Bisa dibilang, gelombang pemain dari Negeri Kincir Angin tak semasif legiun asing dari negara-negara Amerika Selatan atau Eropa Timur.

Ada beberapa penyebab mengapa pesepak bola profesional dari Belanda dan belahan Eropa lainnya tidak begitu dilirik oleh tim-tim Liga Indonesia. Perbedaan kultur sepak bola dan cuaca umumnya jadi persoalan utama.

Berbanding terbalik dengan pesepak bola dari Amerika Selatan dan Afrika yang cuacanya relatif mirip dengan Indonesia, tidak heran banyak klub-klub Liga Indonesia lebih menyukai mengimpor legiun asing dari sana.

"Dua bulan awal merupakan masa tersulit (beradaptasi di Indonesia). Cuacanya sangat berbeda dengan Belanda. Indonesia lebih panas," ungkap Melvin Platje menceritakan awal kariernya di Liga Indonesia pada 2018.

Terlepas dari hal itu, tidak bisa dipungkiri, Belanda punya banyak 'jasa' buat sepak bola Indonesia. Naif rasanya ketika menolak anggapan jikalau bukan karena Timnas Hindia Belanda, maka tak akan pernah ada selembar sejarah bahwa Timnas Indonesia pernah ikut serta di Piala Dunia.

Satu hal menarik lainnya, Belanda adalah negara dengan penyumbang pemain naturalisasi terbanyak buat Timnas Indonesia. Raphael Maitimo, Ezra Walian, Diego Michiels, dan Irfan Bachdim adalah dua contohnya.

Jumlah tersebut masih bisa bertambah kalau pemain-pemain blasteran Indonesia-Belanda yang tersebar luas di liga-liga Eropa sana jadi dinaturalisasi. Apalagi sebagian besar dari mereka tertarik membela Timnas Indonesia.

1 dari 2 halaman

Gerbong Pemain Belanda Pertama

Sepak bola Indonesia sudah diramaikan pemain asing sejak era 1980-an, khususnya kompetisi Galatama, yang dimulai oleh duo Singapura David Lee dan Fandi Ahmad (Niac Mitra). Setelah kompetisi Galatama dilebur dengan Perserikatan jadi Liga Indonesia, jumlah pemain asing di Indonesia semakin bertambah banyak jumlahnya.

PSSI membuka keran seluas-luasnya bagi legiun impor, dengan alasan utama transfer knowledge serta menambah daya tarik kompetisi kasta tertinggi Tanah Air.

Sejak Liga Indonesia I (1994-1995) hingga era terkini Shopee Liga 1 2020, ratusan pemain asing dari berbagai negara bertarung, baik di klub level pertama maupun kedua. Pemain dari Amerika Latin cukup mendominasi pasar klub Indonesia sejak 1994 hingga sekarang.

Tapi menariknya, pemain asing dari Belanda justru masuk gerbong awal di Liga Indonesia. Selain David Lee dan Fandi Ahmad, saat era Galatama dulu, ada tiga pemain asal Belanda yang merumput.

Mozes Isaac dan Hanz Manuputty misalnya, merupakan dua pemain asing asal Belanda pertama di Indonesia. Keduanya bermain di Tunas Inti Jakarta. Masih pada periode yang sama, ada Wendel Eugene. Ia dikontrak oleh Pardedetex.

Memasuki era Liga 1, makin banyak pesepak bola asal Belanda yang membela tim-tim Liga Indonesia. Bali United dan PSM Makassar awalnya paling getol.

Sylvano Comvalius dan Nick van der Velden adalah dua pemain pertama. Corak Belanda dalam skuat Bali United makin kental dengan kehadiran Irfan Bachdim dan Stefano Lilipaly.

I Made Pasek Wijaya yang pernah menjadi asisten pelatih di klub berjuluk Serdadu Tridatu pada Liga 1 2017 terang-terangan menyebutkan alasan timnya menumpuk pemain berdarah Belanda.

"Manajemen melihat ada pasar dari pemain berdarah Belanda. Sekarang paling tidak ada sekitar 200 penonton dari Eropa, yang didominasi dari Belanda datang ke stadion memberikan dukungan," katanya.

Masih pada Liga 1 2017, PSM Makassar yang dilatih oleh Robert Rene Alberts, yang juga dari Belanda, mengandalkan dua pemain asal Negeri Kincir Angin, yakni Marc Klok dan Wiljan Pluim.

"Kami punya pemain bagus, yakni Marc Anthony Clock dan Wiljan Pluim. Duel pasti seru. Nick Van Der Velden (marquee player Bali United) dan Pluim akan bertempur di lini kedua pada pertandingan besok dan akan kita lihat siapa yang betul-betul marquee player," ulasnya ketika akan berhadapan dengan Bali United.

Pada Liga 1 2020, tercatat ada enam pemain asal Belanda yang tersebar di sejumlah klub. Mereka adalah Geoffrey Castillion, Sylvano Comvalius, Nick Kuipers, Marc Klok, Melvin Platje, dan Wiljan Pluim.

2 dari 2 halaman

Catatkan Rekor Fantastis

Musim Liga Indonesia 1995-1996 sangat berkesan buat Dejan Gluscevic. Ketika itu, Dejan Gluscevic berhasil menyabet penghargaan individu pemain dengan jumlah gol terbanyak pada 1995-1996 dengan torehan 30 gol.

Ketajaman Dejan Gluscevic juga berbanding lurus dengan penampilan Bandung Raya. Klub asal Jawa Barat itu berhasil menjadi juara liga setelah mengalahkan PSM Makassar dengan skor 2-0 di final.

Gelar Liga Indonesia 1995-1996 sangat spesial karena menjadi edisi kedua ketika itu. Namun, itu menjadi gelar satu-satunya yang diraih Dejan Gluscevic di Indonesia.

Rekor tersebut gugur pada Liga Super Indonesia 2003. Adalah Oscar Aravena tampil menggila bersama PSM Makassar dengan lesakkan 31 gol.

Setelah itu, rekor kembali disalip. Kali ini oleh Cristian Gonzales, yang pada musim 2007/2008 menorehkan 32 gil dalam semusim bersama Persik Kediri.

Adapun rekor yang bertahan lama dipegang oleh Peri Sandria. Ia berhasil mencetak 34 gol pada edisi Liga Indonesia pertama yakni pada musim 1994-1995 bersama Bandung Raya.

Namun, ketajaman Peri Sandria gagal membantu Bandung Raya menjadi juara. Klub berjulukan Maung Totol Jawa hanya mampu melaju sampai babak kedua dan tersingkir.

Rekor yang diciptakan Peri Sandria mampu bertahan sampai 22 tahun karena tak ada pemain yang mampu mendekati atau melewati jumlah gol tersebut. Hingga akhirnya Sylvano Comvalius melewati pencapaian fantastis tersebut.

Membela Bali United pada Liga 1 2017, Sylvano Comvalius berhasil mencetak 37 gol dalam semusim. Lagi-lagi, pemain yang keluar sebagai top scorer gagal membawa timnya keluar sebagai juara.

Pada Liga 1 2017, klub asal Pulau Dewata finis di urutan kedua karena kalah head to head dengan Bhayangkara FC yang jadi juara.


Disadur dari: Bola.com (Gregah Nurikhsani), published 5 November 2020

KOMENTAR