Persipura Degradasi, Tidak Ada Memori Indah untuk Alfredo Vera

Richard Andreas | 31 Maret 2022, 21:50
Pelatih Persipura Jayapura, Angel Alfredo Vera (c) Bola.com/Nicklas Hanoatubun
Pelatih Persipura Jayapura, Angel Alfredo Vera (c) Bola.com/Nicklas Hanoatubun

Bola.net - Persipura Jayapura jadi tim terakhir yang dipastikan terlempar dari BRI Liga 1 2021/22. Persipura finis di peringkat ke-16 klasemen akhir dan harus turun kasta ke Liga 2 untuk musim depan.

Persipura Jayapura sebenarnya mencatat kemenangan telak 3-0 atas Persita Tangerang pada plaga terakhir atau pekan ke-34 BRI Liga 1, Kamis (31/3/2022) sore WIB. Namun tambahan tiga poin itu tidak cukup.

Ketiga gol kemenangan Persipura masing-masing dilesakkan oleh Yohanes Pahabol, Yevhen Bokhasvili, dan Ramiro Fergonzi. Tim lawan, Persita tak mampu membalas satu gol pun.

Di pertandingan lainnya yang secara bersamaan, PSS Sleman sukses menang 2-0 atas Persija Jakarta. Sedangan Barito Putera bermain draw 1-1 kontra Persib Bandung.

Hasil itu berarti membuat Persipura Jayapura terkunci di posisi ke-15 dengan nilai 36. Atau sama dengan perolehan nilai Barito Putera, namun Persipura kalah secara head to head dari Laskar Antasari.

1 dari 4 halaman

Kegagalan Alfredo Vera

Ada fakta menarik dibalik kepastian Persipura terdegradasi untuk pertama kalinya sejak era Liga Indonesia tahun 1994. Adalah pelatih Alfredo Vera yang gagal menyelamatkan timnya dari lubang degradasi.

Angel Alfredo Vera bukanlah sosok yang asing bagi para pendukung Persipura. Ia pernah mempersembahkan gelar juara Torabika Soccer Championship 2016 lalu. Kejuaraan ini digelar sebagai pengganti kompetisi resmi karena adanya sanksi dari FIFA saat itu.

Bersama pelatih asal Argentina tersebut, Persipura berhasil meraih 15 kemenangan, empat hasil imbang, dan hanya dua kali kalah.

Pada gelaran BRI Liga 1 2021/2022, pria asal Argentina itu baru menjadi juru taktik Persipura saat selesainya paruh pertama kompetisi. Alfredo Vera sebelumnya membesut tim Liga 2, Persiba Balikpapan.

Selepas pemecatan Jacksen F. Tiago dari kursi kepelatihan Persipura pada Jumat (19/11/2021), klub yang berjuluk 'Mutiara Hitam' itu langsung bergegas mencari sosok pelatih pengganti.

2 dari 4 halaman

Pernah Dipecat

Pemain Persipura Jayapura, Yohanes Pahabol, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Persita Tangerang pada laga BRI Liga 1 di Kompyang Sujana, Denpasar Kamis (31/03/2022). (c) Bola.com/ M Iqba

Pemain Persipura Jayapura, Yohanes Pahabol, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Persita Tangerang pada laga BRI Liga 1 di Kompyang Sujana, Denpasar Kamis (31/03/2022). (c) Bola.com/ M Iqba

Persipura bersama Alfredo Vera menjadi tim yang kuat dan berakarakter. Meski pemecatan tetap menghampirinya, sesaat setelah keberhasilan meraih trofi Indonesia Championship 2016.

Tepatnya pada 17 April 2017, Alfredo Vera secara mengejutkan dipecat oleh manajemen dan digantikan oleh Liestiadi. Belum jelas apa yang menjadi alasan pemecatan pada saat itu, namun sempat ada rumor kalau lisensinya tidak diakui oleh PSSI.

Kini bersama Persipura di BRI Liga 1, Alfredo Vera telah memimpin 22 pertandingan bersama tim Mutiara Hitam. Hasilnya adalah sembilan kemenangan, tujuh imbang, dan enam kali menelan kekalahan.

Hasil itu tidak cukup menolong tim kebanggaan warga Jayapura untuk bertahan di kasta tertinggi. Sekaligus membuat masa depannya di Persipura juga bakal ikut dievaluasi.

3 dari 4 halaman

Rekor Terputus

Di sisi lain, rekor Persipura sebagai tim yang belum pernah terdegradasi ke kasta kedua sejak Liga Indonesia 1994 akhirnya putus. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade terakhir mereka turun kasta.

Persipura adalah klub dari era Perserikatan. Mereka lahir pada 1 Mei 1963. Saat itu, mereka bukan tim besar karena lebih banyak menghabiskan waktu di Divisi I, naik ke Divisi Utama, mengejutkan sebentar, dan turun lagi ke Divisi I. Status yoyo mereka jalani hingga Liga Indonesia bergulir pada 1994/1995.

Sejak 1994/1995 hingga 2004, prestasi Mutiara Hitam di Divisi Utama biasa-biasa saja. Mengandalkan produk-produk lokal dan beberapa pemain asing bagus, Persipura dikenal sebagai klub yang mengganggu kemapanan tim-tim tradisional Indonesia.

Namun, semua berubah pada 2005. Menjalani 34 pertandingan di wilayah timur, Persipura mencatatkan 46 poin dari 26 laga untuk menjadi pemuncak klasemen akhir fase grup. Sukses itu berlanjut di babak 8 besar dengan menyapu bersih semua pertandingan. Kemudian, di final, Mutiara Hitam mempermalukan Persija.

Setelah itu, kecepatan mesin Persipura tidak bisa dibendung. Mereka juara lagi pada 2008/2009, 2010/2011, 2013 dan menjadi runner-up pada 2009/2010, 2011/2012, 2014. Bahkan, saat ISC 2016 digelar saat Indonesia dihukum FIFA, Mutiara Hitam berhasil menjadi tim terbaik.

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR