BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Kiprah Mochamad Iriawan di PSSI dan 5 Keputusan Kontroversial yang Dibuat

23-01-2021 12:43 | Asad Arifin

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan (c) Bola.net/Fitri Apriani Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan (c) Bola.net/Fitri Apriani

Bola.net - Lebih dari satu tahun Mochamad Iriawan menjabat sebagai ketua umum PSSI. Dia resmi terpilih pada 2 November 2019 lalu. Sosok yang disapa Iwan Bule itu berada di pucuk pimpinan PSSI ketika situasi berjalan dengan sulit.

Mochamad Iriawan menghadirkan harapan baru buat sepak bola Indonesia. Saat terpilih sebagai Ketua Umum PSSI, Iriawan ketika itu berpangkat Komisaris Jenderal Polisi dan bertugas sebagai Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional.

Setelah sebulan menjabat, Mochamad Iriawan hampir mencetak sejarah ketika Timnas Indonesia U-22 tampil di SEA Games 2019. Maklum, ketika itu cabang olahraga sepak bola sudah lama sekali tidak meraih medali emas di pesta olahraga antarnegara Asia Tenggara itu.

Namun, ketika itu Timnas U-22 kembali harus menunda impian meraih medali emas SEA Games. Pasukan Indra Sjafri takluk 0-3 dari Vietnam di final dan harus puas meraih medali perunggu.

Publik makin menggantungkan harapan besar akan sepak bola Indonesia di bawah pimpinan Iriawan. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.

Sampai setahun lebih memimpin PSSI, Mochamad Iriawan belum mampu menghadirkan prestasi untuk sepak bola Indonesia. Justru Iriawan tercatat mengeluarkan sejumlah keputusan-keputusan yang dianggap kontroversial. Apa saja?

1 dari 5 halaman

Penunjukkan Shin Tae-yong

Shin Tae-yong resmi diperkenalkan sebagai pelatih Timnas Indonesia, Sabtu (28/12/2019) (c) Bola.net/Fitri Apriani Shin Tae-yong resmi diperkenalkan sebagai pelatih Timnas Indonesia, Sabtu (28/12/2019) (c) Bola.net/Fitri Apriani

Mochamad Iriawan langsung membuat kebijakan kontroversial pada awal masa jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Pria yang akrab disapa Iwan Bule itu resmi menunjuk Shin Tae-yong sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 28 Desember 2019.

Pelatih asal Korea Selatan itu diikat dengan kontrak berdurasi empat tahun. Tak hanya menukangi Timnas Indonesia, Shin Tae-yong diberi tugas lain sebagai manajer pelatih Timnas Indonesia kelompok umur.

"Shin Tae-yong dipilih Komite Eksekutif PSSI dengan berbagai pertimbangan dan masukan dari Departemen Teknik PSSI serta sejumlah pelatih. PSSI ingin membangun tim nasional yang solid dan berprestasi. Hal ini tentu saja tidak dilakukan secara instan, namun terukur dengan program kepelatihan yang disusun tim pelatih," kata Mochamad Iriawan ketika itu.

Padahal, ketika itu PSSI intens melakukan pendekatan dengan Luis Milla sebelum menunjuk Shin Tae-yong. Namun, pada akhirnya PSSI lebih memilih Shin Tae-yong ketimbang Luis Milla.

Pertimbangannya adalah Shin Tae-yong sudah berpengalaman sebagai pelatih kelas Piala Dunia ketika menukangi Timnas Korea Selatan pada edisi 2018. Iriawan ketika itu berharap Shin Tae-yong bisa membentuk Timnas Indonesia U-19 yang tangguh mengingat Indonesia merupakan tuan rumah Piala Dunia U-20 2021.

"Target objektifnya adalah mempersiapkan Timnas Indonesia yang akan tampil di Piala Dunia U-20 pada 2021, di mana Indonesia menjadi tuan rumah," tegas Mochamad Iriawan.

2 dari 5 halaman

Drama Jersey Timnas

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan (Kiri) saat peluncuran Jersey Tandang Timnas Indonesia (c) Bola.net/Fitri Apriani Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan (Kiri) saat peluncuran Jersey Tandang Timnas Indonesia (c) Bola.net/Fitri Apriani

Setelah menunjuk Shin Tae-yong, PSSI di bawah pimpinan Mochamad Iriawan kembali melakukan kontroversi dalam pemilihan jersey untuk Timnas Indonesia pada awal 2020. Maklum, ketika itu kerja sama dengan apparel Nike sudah habis.

Situasi itu membuat apparel asal Thailand, Warrix, tiba-tiba memperkenalkan contoh jersey Timnas Indonesia pada 12 Januari 2020. Bahkan, pada pemusatan latihan Timnas U-19 di Cikarang, ketika itu tim sudah menggunakan seragam latihan dari Warrix.

Namun, sehari berselang Mochamad Iriawan membantah pihaknya telah menjalin kerjasama dengan Warrix. Hingga akhirnya pada 8 Februari 2020, PSSI memperkenalkan Mills sebagai apparel resmi Timnas Indonesia.

"Untuk seragam Timnas Indonesia, akhirnya kami memutuskan untuk memakai buatan lokal. Alasannya, pertama bahannya lebih bagus. Kedua, kami ingin memajukan produk lokal. Apa bedanya usaha mikro kecil dan menengah di Thailand dengan di sini. Maka dari itu, kami memilih produk Indonesia," kata Iwan Bule, 8 Februari 2020.

3 dari 5 halaman

Aroma Nepotisme

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PSSI, Maaike Ira Puspita (c) PSSI Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PSSI, Maaike Ira Puspita (c) PSSI

PSSI mengangkat Maaike Ira Puspita sebagai Wakil Sekjen PSSI pada 16 Januari 2020. Keputusan itu mencuri perhatian dari publik karena Mochamad Iriawan dituding melakukan nepotisme di struktural PSSI.

Maklum, Maaike Ira Puspita merupakan adik ipar dari Mochamad Iriawan. Namun, Wakil Ketua Umum PSSI, Cucu Somantri, ketika itu berdalih pihaknya mengangkat Maaike dengan latar belakang kualitasnya.

"PSSI menghadapi banyak agenda pada 2020. Maka dari itu, kami memerlukan posisi wasekjen. Dengan pengalamannya di administrasi, Ira akan membantu percepatan kegiatan-kegiatan kami di kesekjenan," imbuh Cucu.

Publik kembali merasakan kecurigaan setelah Ratu Tisha mundur dari jabatannya sebagai Sekjen PSSI pada 14 April 2020. Maaike ketika itu diisukan bakal naik ke posisi Sekjen PSSI.

Namun, belakangan PSSI menunjuk Yunus Nusi sebagai Plt Sekjen PSSI yang terus berlangsung sampai saat ini. Adapun Maaike tetap menempati posisinya sebagai Wakil Sekjen PSSI.

4 dari 5 halaman

Penundaan Kompetisi

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan (c) Bola.net/Fitri Apriani Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan (c) Bola.net/Fitri Apriani

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh kompetisi di Indonesia. Iriawan bahkan menyebut situasi tersebut dengan keadaan kahar akibat pandemi COVID-19 yang mulai menyerang Indonesia.

"Kompetisi Shopee Liga 1 dan Liga 2 untuk sementara waktu dihentikan. Pencabutan atas penghentian Shopee Liga 1 dan Liga 2 akan menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai penyebaran COVID-19 di Indonesia," kata Iriawan ketika itu.

Kabar ini bak petir di siang bolong untuk klub-klub sepak bola di Indonesia. Mayoritas klub kaget karena PSSI tak bisa memberikan kepastian sampai kapan kompetisi akan dihentikan.

Ketika itu, Shopee Liga 1 baru memainkan tiga pekan pertandingan. Adapun Liga 2 baru bermain satu pertandingan karena keputusan penundaan ini terjadi setelah pembukaan musim 2020.

5 dari 5 halaman

Pembatalan Kompetisi

Para pemain dan wasit Shopee Liga 1 2020 (c) Liputan6.com/Johan Tallo Para pemain dan wasit Shopee Liga 1 2020 (c) Liputan6.com/Johan Tallo

Setelah beberapa kali ditunda, PSSI resmi memutuskan untuk membatalkan lanjutan kompetisi sepak bola Indonesia Shopee Liga 1 2020 dan Liga 2 2020 pada Rabu (20/1/2021). Keputusan itu diambil setelah disepakati dalam rapat Komite Eksekutif (Exco).

"Berdasarkan masukan dan kemudian Exco PSSI membahasnya, akhirnya diputuskan soal kejelasan Shopee Liga 1 dan Liga 2. Exco memutuskan untuk membatalkan Shopee Liga 1 dan Liga 2 2020," kata Ketua PSSI, Mochamad Iriawan.

Pembatalan ini membuat klub lega karena mendapatkan kepastian setelah beberapa bulan menanti keputusan. Namun, sisi lainnya pembatalan kompetisi elite Indonesia ini turut membawa dampak negatif.

Keputusan ini tentu saja terbilang berani diambil Mochamad Iriawan. Beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, justru mampu menyelesaikan musim 2020 dan saat ini sudah bersiap memulai musim baru.

Meski demikian, keputusan ini menjadi yang terbaik bisa dilakukan pada situasi pandemi COVID-19. Keputusan ini diharapkan bisa diterima dan dicermati dengan bijak oleh semua pihak yang terdampak.

Disadur dari Bola.com (Penulis: Zulfirdaus Harahap/Editor: Benediktus Gerendo, 23 Januari 2021)

KOMENTAR