BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Jejak Kepelatihan Alfred Riedl di Liga Indonesia

09-09-2020 10:06 | Gia Yuda Pradana

Alfred Riedl (c) Bola.net/Fitri Apriani Alfred Riedl (c) Bola.net/Fitri Apriani

Bola.net - Karier kepelatihan Alfred Riedl terbilang panjang. Sebanyak 15 tim dan sembilan negara pernah disinggahinya. Mantan pelatih legendaris Timnas Vietnam ini juga sempat meninggalkan jejak di Liga Indonesia.

Alfred Riedl lekat dengan sepak bola Indonesia. Dia pernah tiga kali melatih Timnas Indonesia pada 2010-2011, 2013-2014, dan 2016. Catatan itu belum termasuk ketika ia memoles Timnas Indonesia versi Komite Penyelamatan Sepak Bola Indonesia (KPSI) pada 2012.

Pesona Alfred Riedl sebagai pelatih bertangan dingin juga bikin sejumlah klub Liga Indonesia terpukau. PSM Makassar penah ketiban berkah ketika ditangani pria Austria itu untuk Indonesia Super League (ISL) 2015.

Namun, kebersamaan PSM dengan Alfred Riedl hanya bertahan seumur jagung. Dia tiba-tiba pulang kampung sesaat sebelum kompetisi dimulai.

Ceritanya, Alfred Riedl meminta manajemen PSM mendatangkan Hans-Peter Schaller, mantan pelatih Persib Balikpapan, untuk menjadi asistennya di ISL 2015.

Di masa persiapan kompetisi, Alfred Riedl membawa PSM ke Surabaya untuk menggelar sejumlah pertandingan uji coba melawan Persegres Gresik United dan Persepam Pamekasan pada medio Februari 2015. Dia berhasil membawa tim berjulukan Pasukan Ramang itu menyapu bersih dua pertandingan latih tanding tersebut.

Drama dimulai di sini. Ketika pulang dari Surabaya, Alfred Riedl mulai menunjukkan tanda-tanda keanehan. Masih sempat menggelar latihan di Makassar, ia meminta izin kepada manajemen untuk mudik ke Austria guna mengecek kesehatannya. Lampu hijau dari PSM didapatkannya, ia kembali ke Austria pada 20 Februari 2015 dan cuti melatih delapan hari.

Alfred Riedl memercayai Peter Schaller untuk memimpin latihan PSM selagi dirinya masih berada di Austria.

Itulah terakhir kali batang hidung Alfred Riedl kelihatan di Makassar. Dia tidak pernah kembali lagi sesuai janjinya. Pada 6 Maret 2015, melalui email, ia mengabarkan kepada manajemen PSM bahwa kondisinya belum stabil dan disarankan untuk tetap tinggal di Austria oleh dokter.

Puncaknya terjadi pada 16 April 2015. Alfred Riedl mengirim surat pengunduran diri sebagai pelatih kepala PSM dan merekomendasi Peter Schaller untuk menggantikan perannya.

Pengunduran diri Alfred Riedl terjadi setelah PSM memainkan dua pertandingan ISL pada awal April 2015. Sekitar sebulan berselang, kompetisi dihentikan akibat pembekuan PSSI oleh Imam Nahrawi yang kala itu menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).

1 dari 3 halaman

Diumumkan sebagai Pelatih oleh Persebaya

Alfred Riedl (c) Bola.net/Fitri Apriani Alfred Riedl (c) Bola.net/Fitri Apriani

23 Agustus 2019, Persebaya Surabaya mengumumkan Alfred Riedl sebagai pengganti Djadjang Nurdjaman di kursi pelatih. Pekerjaan ini menjadi yang pertama untuknya setelah vakum selama tiga tahun.

"Mantan pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl, telah mencapai kesepakatan dengan Persebaya untuk menjadi pelatih kepala Bajul Ijo. Dia akan segera tiba di Surabaya setelah menyelesaikan beberapa urusan administrasi di negaranya," tulis Persebaya Surabaya dalam akun instagram @officialpersebaya.

Namun, Alfred Riedl tidak pernah benar-benar datang ke Surabaya.

Sebulan setelah pengumuman itu, Persebaya membatalkan kontrak Alfred Riedl. Dia disebutkan harus menjalani operasi jantung sehingga tidak dimungkinkan untuk melatih Bajul Ijo.

"Saya harus mengabarkan tentang keadaan kesehatan sekarang. Saya telah memeriksakan diri di rumah sakit di Vienna, sekaligus membahas aktivitas saya ke depan. Ternyata, dalam dua pekan saya harus menjalani lagi operasi bypass. Ini kabar buruk buat saya, juga buat Persebaya. Tapi, kesehatan harus saya utamakan," imbuh Alfred Riedl.

Klaim Persebaya dibantah oleh Alfred Riedl. Dia mengaku tidak menjalani operasi bypass jantung. Dia hanya mengalami varises atau pembengkakan atau pelebaran pembuluh darah vena di kakinya.

"Saya perlu mengoreksi beberapa informasi. Mungkin ada beberapa masalah komunikasi dengan Persebaya Surabaya. Saya tidak pernah menjalani operasi jantung. Jantung saya baik-baik saja dan tidak ada masalah," kata Alfred Riedl kepada Bola.com, 16 Oktober 2019.

"Saya menjalani operasi bypass sekitar tujuh pekan lalu. Itu dilakukan untuk mengalirkan darah ke ginjal saya yang harus ditransplantasi. Serta, saya juga punya masalah pada arteri kaki."

"Sayangnya, upaya bypass tidak berfungsi, artinya terhambat. Saya masih punya jadwal ke rumah sakit untuk menjalani bypass lainnya, juga ada pemeriksaan ginjal dan kaki. Jadi, sangat sederhana. Saya sangat menyesal tidak bisa bergabung dengan Persebaya. Padahal, itu akan menjadi tantangan yang sangat menarik buat saya," ucap Alfred Riedl.

Asisten Alfred Riedl, Wolfgang Pikal, naik pangkat menjadi pelatih kepala Persebaya setelah pembatalan kontrak tersebut. Hanya bertahan selama beberapa pekan, pria Austria itu menyerah dan meletakkan jabatannya.

"Saya mau bilang terima kasih untuk Persebaya, saya mau bilang terima kasih untuk manajemen dan pemain Persebaya. Pada 30 Oktober 2019, saya mundur sebagai pelatih kepala Persebaya," ucap Pikal melalui akun Instagram Persebaya.

"Ini memang tanggung jawab saya sebagai head coach, ini resiko pekerjaan pelatih, dan saya berharap Persebaya bisa maju lagi. Persebaya adalah tim luar biasa, manajemen juga luar biasa. All the best untuk masa depan Persebaya," jelasnya.

2 dari 3 halaman

Digosipkan ke Persib dan Persija

Alfred Riedl (c) Bola.net/Fitri Apriani Alfred Riedl (c) Bola.net/Fitri Apriani

Persib Bandung darurat pelatih untuk mengarungi Shopee Liga 1 2018. Setelah Djadjang Nurdjaman dipecat dan kontrak Emral Abus tidak diperpanjang, tim berjulukan Pangeran Biru itu dikaitkan dengan sejumlah nama beken.

Mulai dari Robert Alberts, Milomir Seslija hingga Alfred Riedl digosipkan menjadi kandidat pelatih Persib. Namun, pilihan tidak jatuh kepadanya.

"Ya, saya mendengar kabar itu. Tapi saya tidak sedang dalam proses komunikasi dengan Persib. Pernah terjalin komunikasi dengan Persib, namun sudah terhenti sejak Mei atau Juni 2017," imbuh Alfred Riedl kepada Bola.com medio November 2017.

"Mereka klub yang sangat bagus dengan banyak pemain berkualitas. Bisa dibilang sekarang baterai saya sudah penuh setelah dicas sehingga saya siap kembali ke Indonesia. Saya juga sudah menitip pesan pada beberapa orang di Indonesia, menegaskan saya sangat ingin kembali berkiprah di sepak bola Indonesia," tuturnya.

Selain Persib, Alfred Riedl pernah dihubungkan dengan Persija Jakarta pada awal 2019. Dia dilirik oleh direktur tim ibu kota kala itu, Gede Widiade, sebagai pengganti Stefano Cugurra Teco yang hijrah ke Bali United.

"Saya sudah melakukan pendekatan, dan saya berkeinginan untuk meminta kepada pemegang saham Persija untuk pelatih baru, antara Alfred Riedl dan Ivan Kolev," ujar Gede medio Januari 2019.

"Saya mengidolakan cara melatih mereka. Saya melihat bagaimana mereka memperlakukan pemain seperti anak sendiri. Saya melihat bagaimana Alfred Riedl merangkul pemain, begitu pula dengan cara Ivan Kolev. Saya suka cara mereka melatih, dan saya sudah mengirimkan surat penawaran," imbuhnya.

Namun, pendekatan Gede hanya sebatas isapan jempol belaka. Alfred Riedl mengaku tidak pernah ditawari posisi pelatih Persija.

"Sejauh ini saya tidak berhubungan dengan Mr. Gede. Setelah menerima surat penawaran atau penawaran langsung, saya kemungkinan baru bisa berkomentar," terang Alfred Riedl pada Januari 2019.

3 dari 3 halaman

Jejak Karier Kepelatihan Alfred Riedl

Alfred Riedl (c) Bola.com/Vitalis Yogi Trisna Alfred Riedl (c) Bola.com/Vitalis Yogi Trisna
  • 1989-1990: Wiener Sport-Club (Austria)
  • 1990-1991: Timnas Austria
  • 1991-1993: Favoritner AC (Austria)
  • 1993-1994: Olympique Khouribga (Maroko)
  • 1994-1995: El Zamalek (Mesir)
  • 1997-1998: Timnas Liechtenstein
  • 1998-2000: Timnas Vietnam
  • 2001: Khatoco Khanh Hoa (Vietnam)
  • 2001-2003: Al Salmiya (Kuwait)
  • 2003-2004: Timnas Vietnam
  • 2004-2005: Timnas Palestina
  • 2005-2007: Timnas Vietnam
  • 2008-2009: Haiphong FC (Vietnam)
  • 2009-2010: Timnas Laos
  • 2010-2011: Timnas Indonesia
  • 2013-2014: Timnas Indonesia
  • 2015: PSM Makassar
  • 2016: Timnas Indonesia
  • 2019: Persebaya Surabaya.

Disadur dari: Bola.com/Muhammad Adiyaksa/Yus Mei Sawitri

Published: 9 September 2020

KOMENTAR