BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Dari Era Perserikatan Hingga Liga Indonesia, Ini 5 Stopper Lokal Berkelas di PSM Makassar

12-07-2020 22:46 | Dimas Ardi Prasetya

Abdul Rahman berduel udara dengan pemain Becamex Binh Duong. (c) Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan Abdul Rahman berduel udara dengan pemain Becamex Binh Duong. (c) Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan

Bola.net - PSM Makassar merupakan salah satu tim besar di Indonesia dan kerap diperkuat oleh bek lokal berkelas.

PSM merupakan tim yang dikenal kerap menampilkan permainan cepat dan keras. Karakter petarung dan militan melekat kental pada pemain berdarah Makassar, khususnya para bek tengah Juku Eja.

Tampilan bek yang tanpa kompromi dalam mengawal striker lawan kerap jadi tontonan yang menghibur suporter PSM Makassar. Baik di era Perserikatan sampai Liga Indonesia.

Di era Perserikatan, PSM memunculkan sederet stoper yang menonjol seperti Santja Bachtiar, Makmur Chaeruddin, Idris Mappakaya, John Simon, Saleh Ramadaud, Hafied Ali, Musdan Latandang, Josef Wijaya, Anwar Liko dan Mustafa Umarella.

Pada era ini, PSM meraih berbagai trofi di level nasional. Di antaranya lima kali juara Perserikatan yakni 1956–1957, 1957–1959, 1964–1965, 1965–1966 dan 1991–1992.

Juku Eja juga berjaya di sejumlah turnamen besar di tanah air kala itu seperti Piala Jusuf (1965, 1967, 1975, 1978, 1980, 1984), Piala Soeharto (1974 dan Piala Tugu Muda (1980). Tradisi memunculkan stopper tangguh tetap terjaga saat kompetisi Perserikatan dan Galatama disatukan menjadi Liga Indonesia.

Nama-nama seperti Syamsuddin Batola, Ronny Ririn, Yeyen Tumena, Alibaba, Charis Yulianto, Jack Komboy, Hamka Hamzah sampai Abdul Rahman Sulaeman tampil menonjol bersama PSM. Raihan trofi juara PSM di era ini terjadi pada Liga Indonesia 1999-2000 dan Piala Indonesia 2018-2019.

Peran para stopper ini sangat sentral dan kental mewarnai perjalanan PSM Makassar di kompetisi sepak bola Tanah Air. Dengan gelar dan popularitas di mata suporter sebagai acuannya, berikut nama-nama bek lokal berkelas di PSM Makassar dari era perserikatan hingga Liga Indonesia.

1 dari 5 halaman

John Simon

Bek berdarah Tionghoa ini berperan penting di PSM saat menguasai Perserikatan pada pengujung 1950-an dan awal 1960-an. Tak hanya menjadi pilar Juku Eja, stopper yang dikenal dengan tekel dan kejeliannya membawa arah bola ini juga menjadi pilihan utama Tony Poganick, pelatih tim nasional Indonesia.

Di PSM, John adalah duet yang ideal buat Santja Bachtiar atau Makmur Chaeruddin. Sementara di Timnas Indonesia, John jadi pemain starter reguler bersama Iljas Haddade.Sayang, karier cemerlang John Simon ternoda skandal Senayan pada 1962.

Bersama sembilan pemain lainnya, Iljas Hadade, Pietje Timisela, Omo Suratmo, Rukma Sudjana (kapten), Sunarto, Wowo Sunaryo (Persib), Manan, Rasjid Dahlan (PSM Makassar), dan Andjiek Ali Nurdin (Persebaya), ia dicoret dari timnas yang dipersiapkan menghadapi Asian Games 1962. John dan kawan-kawan diduga terlibat suap saat Timnas Indonesia beruji coba dengan Malmoe (Swedia), Timnas Thailand, Yugoslavia, dan Ceko.

Tanpa pilarnya, Indonesia yang berambisi juara setelah meraih perunggu pada Asian Games 1958 akhirnya harus tersingkir pada penyisihan grup.

2 dari 5 halaman

Yosef Wijaya

Seperti John Simon, Yosef Wijaya juga berasal dari keturunan Tionghoa. Kompetisi internal PSM yang ketat dan sengit membuat militansi dan nyali Yosef saat mengawal striker lawan tergali optimal.

Namanya mulai mencuat pada Perserikatan musim 1983 saat membawa PSM lolos empat besar. Musim berikutnya yakni pada 1985, duetya bersama Mustafa Umarella jadi tembok tangguh PSM. Kala itu, PSM menyandang di status juara tanpa mahkota.

Juku Eja mengalahkan PSMS Medan dan Persib Bandung di enam besar. Tapi, justru PSMS dan Persib yang lolos ke laga final. PSM kalah selisih gol dari Persib yang sama-sama mengoleksi poin 6. Adapun PSMS ke final dengan raihan 7 poin.

Seperti diketahui PSMS akhirnya jadi juara setelah mengalahkan Persib via adu penalti. Berkat aksinya bersama PSM, Yosef yang juga kapten PSM ini sempat dipanggil memperkuat Timnas Indonesia pada laga uji coba. Tujuh tahun kemudian, Yosef akhirnya menuntaskan kariernya dengan membawa PSM meraih trofi juara Perserikatan 1991-1992. Di semifinal, PSM mengalahkan Persib 2-1. Juku Eja akhirnya meraih juara setelah menekuk PSMS Medan dengan skor sama di laga final.

3 dari 5 halaman

Alibaba

Alibaba menjadi idola suporter PSM dengan penampilan tanpa kompromi di lapangan hijau. Pada Liga Indonesia 1995-1996, sosok Alibaba lebih menonjol dari dua rekannya di lini belakang, Yeyen Tumena dan Marcio Novo.

Musim itu, bersama PSM, Alibaba menembus final menghadapi Mastrans Bandung Raya. Namun, penampilan Juku Eja seperti mengalami antiklimaks dan akhirnya kalah 0-2.

Pada tahun yang sama, PSM juga gagal meraih juara di Piala Bangabandhu. Setelah tampil memukau sampai semifinal, PSM akhirnya takluk 1-2 dari tim nasional Malaysia.

Padahal, pada turnamen itu, Izaac Fatari dan Musa Kallon menjadi top scorer. Sedang Luciano Leandro menjadi pemain terbaik. Empat tahun kemudian, Alibaba akhirnya meraih trofi juara bersama PSM di Liga Indonesia 1999-2000.

Di pengujung kariernya sebagai pemain, Alibaba sempat berkiprah di Liga Champions Asia dan menembus perempat final ajang itu pada 2001.

Setelah gantung sepatu, Alibaba sempat menjadi asisten pelatih PSM sebelum akhirnya memilih fokus menjadi dosen pada sejumlah perguruan tinggi di Makassar. Pada Juli 2019, Alibaba yang bergelar Doktor Ilmu Manajemen ini mengembuskan nafas terakhirnya akibat penyakit dalam.

4 dari 5 halaman

Ronny Ririn

Ronny Ririn adalah penerus Alibaba di PSM. Karakternya hampir sama. Ronny awalnya bermain sebagai bek kanan. Tapi, sejalan dengan menurunnya penampilan Alibaba, Ronny kerap menggantikan peran seniornya itu pada posisi bek tengah di Liga Indonesia 1999-2000.

Malah, pada beberapa partai, keduanya menjadi tembok tangguh Juku Eja bersama bek asing Charles Lionga dan Joseph Lewono (Kamerun). Berkat penampilan PSM di Liga Indonesia 1999-2000, Ronny masuk dalam skuat tim nasional Indonesia di Piala Asia 2000.

Penampilannya yang garang di lapangan tapi santun dalam keseharian membuat Ronny jadi panutan bek muda Makassar. Termasuk Hamka Hamzah yang tanpa sungkan mengakui Ronny sebagai idolanya. Terbukti jersey nomor 23 yang melekat pada Ronny bersama PSM dipakai Hamka. Belakangan nomor 23 jadi trade mark Hamka di pentas Liga Indonesia.

5 dari 5 halaman

Abdul Rahman Sulaeman

Meski berdarah Bugis-Makassar Abdul Rahman lebih banyak menghabiskan karier sepak bola di perantauan. Ia meninggalkan Makassar saat usianya masih 16 tahun dan bergabung di Diklat Ragunan.

Selepas dari Diklat Ragunan, ia memperkuat sejumlah klub, di antaranya Persita Tangerang, Pelita Jaya, Semen Padang, Sriwijaya FC, Persib Bandung, Karketu Dili (Timor Leste) dan Bali United.

Rahman kembali ke Makassar jelang Liga 1 2018. Pelatih PSM saat itu, Robert Alberts memplotnya sebagai pengganti Hamka yang hengkang ke Sriwijaya FC. Pada musim pertamanya, Rahman yang berduet dengan Steven Paulle di posisi stoper nyaris membawa Juku Eja juara.

Di akhir kompetisi, PSM hanya berselisih satu poin dari sang juara, Persija Jakarta yang mengoleksi 62 angka. Setahun berikutnya, Rahman yang berduet dengan Aaron Evans di sektor bek tengah mempersembahkan trofi juara Piala Indonesia 2018-2019 buat PSM.

Secara pribadi, ini trofi ketga buat bek yang membawa Timnas Indonesia U-23 meraih medali perak cabang sepakbola Sea Games 2011. Sebelumnya, bersama Semen Padang, Rahman meraih trofi juara Liga Primer Indonesia 2011-2012 dan gelar Liga Super Indonesia 2014 saat berkostum Persib Bandung.

Disadur dari: Bola.com/Penulis Abdi Satria/Editor Yus Mei Sawitri
Published: 12 Juli 2020

KOMENTAR