BERITA JADWAL KLASEMEN LAINNYA

Baik dan Buruk Jika Liga 1 2021 Digelar Tanpa Degradasi: Benarkah Tidak Kompetitif?

08-05-2021 10:15 | Asad Arifin

Pemain PSM Makassar, Saldy, terjatuh saat berebut bola dengan pemain Borneo FC Samarinda, Hendro Siswanto, pada laga Piala Menpora 2021 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Rabu (31/3/2021). (c) Bola.com/M Iqbal Ichsan Pemain PSM Makassar, Saldy, terjatuh saat berebut bola dengan pemain Borneo FC Samarinda, Hendro Siswanto, pada laga Piala Menpora 2021 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Rabu (31/3/2021). (c) Bola.com/M Iqbal Ichsan

Bola.net - Komite Eksekutif (Exco) PSSI, pada rapat 3 Mei 2021, membuat keputusan Liga 1 musim 2021 digelar tanpa degradasi. Keputusan ini kemudian mendapat reaksi beragam dari publik sepak bola Indonesia.

Penerapan sistem tanpa degradasi membuat Liga 1 musim depan akan diikuti 20 klub. Sebanyak 18 klub yang ada akan ditambah dengan 2 klub peraih status juara dan runner-up Liga 2 2021/2022.

Namun, formula seperti ini masih bersifat sementara karena akan diputuskan pada Kongres PSSI 2022. Sebab, jumlah voters Liga 1 yang tertera di Statuta PSSI adalah 18 tim. Perlu adanya amandemen andai mau mempertahankan situasi seperti ini.

"Kami akan melihat model musim ini akan bagaimana. Kalau memang mempunyai dampak positif, bisa kami pertimbangkan dibawa ke kongres tahunan PSSI pada tahun depan untuk diubah," kata Anggota Exco PSSI, Hasani Abdulgani.

Keputusan penghapusan sistem degradasi ini ternyata menuai pro dan kontra. Meskipun banyak klub yang mendukung, namun ada sedikit klub yang kecewa dengan keputusan tersebut.

Sisi kompetitif dari atmosfer kompetisi Liga 1 2021/2022 menjadi dipertanyakan. Lantas, apa saja plus dan minus dalam menggelar kompetisi tanpa sistem degradasi?

1 dari 2 halaman

Buruk

Nabil Husein (c) BorneoFC Nabil Husein (c) BorneoFC

Bicara kualitas kompetisi, penyelenggaraan Liga 1 2021/2022 tanpa sistem degradasi ternyata lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaat. Nilai kompetitif menjadi berkurang karena tidak ada tekanan yang bernama degradasi.

Presiden Borneo FC Samarinda, Nabil Husein, menyayangkan wacana penyelenggaraan kompetisi tanpa degradasi. Nabil berpendapat, hal itu menjadi kemunduran buat sepak bola Indonesia yang selama ini sudah berjuang untuk menjadi yang terbaik di Asia.

"Borneo FC ingin sepak bola yang jelas aturannya. Tanpa degradasi akan menjadi satu kemunduran pada sepak bola Indonesia," ucap Nabil.

Pernyataan Nabil terasa sangat wajar dan masuk akal. Tak adanya tekanan bernama degradasi bisa membuat klub tak serius dalam berburu kemenangan.

Selain itu semangat kompetitif yang sudah dibangun sejak dulu bakal meluntur. Hal senada juga disayangkan pelatih Bali United, Stefano Cugurra Teco yang menilai klub Liga 2 yang paling dirugikan karena harus memperebutkan hanya dua slot promosi.

"Tidak bagus liga bergulir tanpa degradasi. Saya pikir, klub dari Liga 2 juga mau perwakilannya naik ke Liga 1," tegas Teco.

2 dari 2 halaman

Baik

Barito Putera melakukan protes pada wasit di laga Grup A Piala Menpora 2021 (c) Arief Bagus Prasetiyo Barito Putera melakukan protes pada wasit di laga Grup A Piala Menpora 2021 (c) Arief Bagus Prasetiyo

Komite Eksekutif (Exco) PSSI berdalih mayoritas klub mendukung kompetisi Liga 1 2021/2022 tanpa degradasi karena situasi pandemi COVID-19. Sektor keuangan klub yang paling terdampak di mana tak ada sumber pemasukan dari tiket penonton.

Hal ini terasa wajar mengingat seluruh laga bakal digelar tertutup alias tanpa kehadiran penonton. Jadi, mengambil asal keadilan antara klub kaya dan klub yang punya keuangan minimalis, kompetisi tanpa sistem degradasi dianggap sebagai win-win solution.

"Orang-orang banyak bertanya, kenapa? Kalau orang tak punya klub, susah menceritakannya. Apalagi kalau seorang suporter. Bagi seorang yang punya klub, ini sangat berat. Bagi seorang yang punya perusahaan, hari ini sangat berat karena dampak dari kondisi ini," kata Anggota Exco PSSI, Hasani Abdulgani.

"Ditambah kompetisi musim ini tanpa penonton. Klub tak dapat pemasukan kecuali subsidi dari operator kompetisi. Setelah pertimbangan-pertimbangan itu, klub-klub ini tidak akan maksimal nantinya karena faktor ekonomi tadi. Bisa-bisa kalau kami paksakan, klub bisa mundur," ucap Hasani.

Sementara itu, Barito Putera menjadikan situasi ini sebagai momentum mengembangkan pemain muda masa depan. CEO Barito Putera, Hasnuryadi Sulaiman, menyebut timnya punya kesempatan memberikan jam terbang lebih banyak pada pemain muda, namun tetap memprioritaskan kemenangan dalam pertandingan.

"Mudah-mudahan dengan tidak adanya degradasi, suporter dan masyarakat yang mencintai Barito Putera bisa mengerti. Bukan berarti tidak mengejar kemenangan, akan tetapi kami tidak ingin memberikan kesempatan sebanyak-sebanyak kepada pemain muda untuk bertandingan di atas lapangan," tegas Hasnuryadi.

Disadur dari Bola.com (Penulis: Zulfirdaus Harahap/Editor: Wiwig Prayugi, 8 Mei 2021)

KOMENTAR