BERITA JADWAL KLASEMEN LAINNYA

1987, 1999, dan 2006: Selanjutnya 2021, PSIS Semarang?

22-09-2021 14:46 | Asad Arifin

Bek PSIS, Riyan Ardiansyah merayakan gol kemenangan kontra Persela pada pekan pertama BRI Liga 1 2021/2022 di Stadion Wibawa Mukti, Sabtu (04/09/2021) (c) Bola.net/Bagaskara Lazuardi
Bek PSIS, Riyan Ardiansyah merayakan gol kemenangan kontra Persela pada pekan pertama BRI Liga 1 2021/2022 di Stadion Wibawa Mukti, Sabtu (04/09/2021) (c) Bola.net/Bagaskara Lazuardi

Bola.net - PSIS Semarang menunjukkan performa yang apik pada pekan-pekan awal BRI Liga 1 2021/2022. Mahesa Jenar kini berada di puncak klasemen sementara dengan tujuh poin yang diraih hingga pekan ke-3 BRI Liga 1.

PSIS punya kans mengulangi kejayaannya seperti yang pernah di torehkan sebagai tim terbaik di Indonesia. Diketahui PSIS menjadi satu diantara tim di Indonesia yang punya sejarah panjang. Gelar juara, status kuda hitam, serta inkonsistensi pernah dilalui tim yang lahir pada 18 Mei 1932.

PSIS pernah mengalami pasang surut di era perserikatan dengan titel juara, bahkan sempat lama berkutat di kasta kedua. Musim 2017 menjadi momentun kembalinya PSIS sebagai wakil Jateng di Liga 1 dan kini terus berbenah untuk prestasi terbaik.

Berikut adalah beberapa pencapaian PSIS Semarang, sang jagoan Jawa Tengah dalam catatan angka. Berikut ulasannya:

1 dari 4 halaman

1987

Logo PSIS Semarang (c) Bola.com/Dody Iryawan
Logo PSIS Semarang (c) Bola.com/Dody Iryawan

PSIS Semarang pertama kali menorehkan masa kejayaannya di tahun 1987. Gelar juara Liga Indonesia Perserikatan untuk pertama kali diraih Mahesa Jenar ketika itu dengan menumbangkan Persebaya Surabaya di Stadion Utama Senayan Jakarta.

Pertandingan melawan Persebaya yang merupakan musuh bebuyutan PSIS, berjalan dalam tempo yang tinggi dan ketat. Hingga sebuah gol akhirnya tercipta pada menit ke-77 untuk PSIS Semarang.

Gol tunggal kemenangan Mahesa Jenar dilesakkan oleh Saiful Amri memanfaatkan umpan tarik Budi Wahyono. Penjaga gawang Persebaya, Putu Yasa hanya mampu menyaksikan gawangnya bobol.

Sebuah pencapaian yang menjadi kenangan istimewa bagi publik sepak bola Kota Lunpia. Gelar juara yang merupakan buah kesabaran dalam skuad PSIS kala itu.

2 dari 4 halaman

1999

Tugiyo (c) Bola.com/Dody Iryawan
Tugiyo (c) Bola.com/Dody Iryawan

9 April 1999 atau tepat 22 tahun yang lalu, PSIS Semarang mampu menjadi tim terbaik di tanah air. Mahesa Jenar menjuarai Ligina tahun 1999 dengan mengalahkan Persebaya Surabaya pada partai final.

Perjalanan PSIS Semarang di musim 1999 hampir mirip dengan kiprah Timnas Denmark yang menjuarai Piala Eropa di tahun 1992. Tidak ada yang mengira Denmark bisa keluar sebagai kampiun hingga menyandang predikat tim dinamit.

Tidak ada yang memprediksi PSIS bakal keluar sebagai juara, karena cukup kesulitan sejak fase penyisihan grup, babak 10 besar, hingga fase gugur. Menariknya, PSIS selalu bertemu Persebaya di setiap fase yang sekaligus rival abadinya.

Pada babak penyisihan, PSIS yang kala itu dilatih Eddy Paryono menduduki peringkat kedua di bawah Persebaya. Kemudian masuk ke babak sepuluh besar yang terbagi menjadi dua grup, lagi-lagi PSIS berada di bawah Persebaya.

Lolos ke semifinal, PSIS harus berhadapan tim raksasa Persija Jakarta pada 1 April 1999 di Stadion Utama Senayan. Gol tunggal kemenangan PSIS ditentukan oleh Ebanda Timothy yang sekaligus untuk mengenang tragedi Lenteng Agung yang menewaskan 11 anggota suporter PSIS.

Di partai puncak, PSIS bertemu Persebaya Surabaya yang di atas kertas lebih diunggulkan. Bajul Ijo memiliki materi pemain yang mentereng seperti Aji Santoso, Hendro Kartiko, Uston Nawawi, Bejo Sugiantoro, hingga Eri Irianto.

Berkat permainan sabar dan kekompakan, PSIS mampu mempecundangi Persebaya. Gol semata wayang Tugiyo menjelang berakhirnya pertandingan, membuat PSIS berpesta.

3 dari 4 halaman

2006

Tujuh tahun kemudian atau tepatnya musim 2006, PSIS nyaris menyegel gelar juara ketiganya sepanjang sejarah. Sayangnya pada laga final, PSIS harus mengakui kekalahan dari Persik Kediri.

Di musim itu, PSIS memiliki skuat yang cukup dahsyat. Dibesut pelatih senior Sutan Harhara dengan langsung membuat PSIS tampil impresif di setiap pertandingan, hingga melaju jauh ke partai puncak.

Sutan Harhara ditunjuk menggantikan Bambang Nurdiansyah yang mempersembahkan gelar juara ketiga pada musim 2005. Dengan skuat warisan Banur, PSIS dipoles dengan masuknya sejumlah pemain penuh potensi.

PSIS menjalani perjalanan kompetisi dengan cukup mulus. Diawali menjadi peringkat ketiga di fase grup barat untuk lolos ke babak delapan besar. PSIS kembali menjadi runner-up dan lolos ke semifinal.

Tiket babak final diraih PSIS dengan menumbangkan Persekabpas Pasuruan, dan menentang Persik Kediri di partai puncak. Sayangnya PSIS harus menerima trofi runner-up setelah gol tunggal Cristian Gonzales membawa Persik menjuarai Liga Indonesia 2006.

4 dari 4 halaman

2021

Penyerang PSIS Semarang, Hari Nur Yulianto, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Barito Putra pada laga Piala Menpora di Stadion Manahan, Solo, Minggu (21/3/2021).  (c) Bola.net/M Iqbal Ich
Penyerang PSIS Semarang, Hari Nur Yulianto, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Barito Putra pada laga Piala Menpora di Stadion Manahan, Solo, Minggu (21/3/2021). (c) Bola.net/M Iqbal Ich

BRI Liga 1 2021/2022 telah melewati pekan ketiga. PSIS Semarang di luar prediksi, mampu menduduki peringkat pertama klasemen berkat kemenangan meyakinkan atas Persiraja Banda Aceh 3-1, Sabtu (18/9/2021).

Laskar Mahesa Jenar (julukan PSIS) untuk sementara kukuh di posisi teratas dengan nilai tujuh, hasil dua kemenangan dan satu kali imbang. PSIS punya nilai sama dengan tiga tim lainnya yaitu; Bhayangkara FC, Bali United, dan Persib Bandung.

Namun Hari Nur Yulianto dan kawan-kawan punya selisih gol yang lebih baik yaitu 3 gol (memasukkan 6 dan kemasukan 3). Adapun tiga tim yang punya nilai sama lainnya memiliki Sama-sama memiliki selisih dua gol. Praktis membuat PSIS berhak menempati peringkat pertama.

Pencapaian yang didapat PSIS saat ini bukanlah sebuah kebetulan atau keberuntungan, namun memang mereka telah siap mengarungi kompetisi dengan baik. Mulai dari bekal apik yang didapat saat di turnamen pramusim Piala Menpora 2021, hingga pematangan selama program latihan.

Menumbangkan Persela Lamongan di laga pembuka, memaksa imbang Persija Jakarta dalam posisi tertinggal dua gol, hingga menang meyakinkan atas Persiraja, adalah gambaran kekuatan PSIS saat ini yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sosok Imran Nahumarury juga berhasil mempertahankan suasana tim meski PSIS tanpa pelatih kepala, ketika Dragan Djukanovic memutuskan mundur menjelang bergulirnya Liga 1. Imran menunjukkan taktik menawan dan sukses memaksimalkan potensi para pemain muda PSIS.

Disadur dari Bola.com: Vincentius Atmaja/Gregah Nurikhsani, 22 September 2021

KOMENTAR