BERITA JADWAL KLASEMEN LAINNYA

6 Pemain yang Menyesal Tinggalkan Liverpool

18-10-2021 14:54 | Aga Deta

6 Pemain yang Menyesal Tinggalkan Liverpool
Pemain Liverpool merayakan gol Roberto Firmino ke gawang Watford di lanjutan Premier League, Sabtu (16/10/21) malam WIB. (c) AP Photo

Bola.net - Liverpool tidak diragukan lagi adalah salah satu klub terbesar di Inggris. The Reds punya prestasi yang bagus baik di pentas domestik maupun Eropa.

Liverpool punya koleksi 19 gelar liga. Klub yang bermarkas di Anfield tersebut juga sudah memenangkan enam gelar Liga Champions.

Pemain-pemain seperti Kenny Dalglish, Steven Gerrard, Xabi Alonso dan Pepe Reina pernah menjadi bagian dari kesuksesan Liverpool. Mereka membantu The Reds menuju ke tangga juara.

Namun, seperti klub-klub lainnya, Liverpool juga sering ditinggal para pemainnya. Namun, tidak sedikit yang kemudian menyesal karena telah mengambil keputusan tersebut.

Berikut enam pemain Liverpool yang menyesal setelah meninggalkan klub.

1 dari 6 halaman

Georginio Wijnaldum

Aksi Georginio Wijnaldum pada laga melawan Club Brugge di matchday pertama fase grup Liga Champions 2021/2022 (c) AP Photo
Aksi Georginio Wijnaldum pada laga melawan Club Brugge di matchday pertama fase grup Liga Champions 2021/2022 (c) AP Photo

Georginio Wijnaldum meninggalkan Liverpool pada musim panas tahun ini setelah kontraknya habis. Dia kemudian memutuskan bergabung ke PSG secara gratis.

Tetapi kariernya di PSG tidak sesuai harapan kesulitan bersaing di Paris. Wijnaldum mengaku tidak begitu senang dengan situasinya saat ini.

"Saya tidak bisa mengatakan saya benar-benar bahagia karena situasinya tidak seperti yang saya inginkan," kata Wijnaldum kepada NOS.

"Tapi itulah sepak bola dan saya harus belajar menghadapinya. Saya seorang pejuang. Saya harus tetap positif dan bekerja keras untuk membalikkan keadaan."

2 dari 6 halaman

Philippe Coutinho

Pemain Barcelona Philippe Coutinho. (c) AP Photo
Pemain Barcelona Philippe Coutinho. (c) AP Photo

Philippe Coutinho memaksa untuk pindah dari Liverpool pada musim panas 2017. Pemain asal Brasil tersebut akhirnya bergabung dengan Barcelona enam bulan kemudian.

Coutinho datang ke Camp Nou dengan biaya transfer sebesar 135 juta euro. Namun, dia mungkin tidak berharap melakukannya.

Karier Coutinho bersama Barcelona bisa dibilang tidak berjalan mulus. Dia dinilai kesulitan beradaptasi dan sering mengalami cedera.

Pada 2019, Coutinho bahkan sempat dipinjamkan ke Bayern Munchen untuk mengembalikan performa terbaiknya. Coutinho hanya mencetak 24 gol dari 97 penampilan untuk Blaugrana.

3 dari 6 halaman

Emre Can

Emre Can (c) AFP
Emre Can (c) AFP

Emre Can merupakan salah satu pemain andalan Jurgen Klopp di Liverpool. Meski begitu, dia masih ingin mencari tantangan baru.

Can akhirnya pindah ke Juventus pada 2018 setelah kontraknya habis. Sayang, petualangannya bersama Si Nyonya Tua tidak berjalan baik.

"Saya hanya seorang pria ambisius yang selalu ingin bersaing di level tertinggi, tetapi saya juga belajar dari masa sulit ini ketika segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang saya harapkan," kata Can kepada Kicker.

"Saya tidak bermain game sejak awal, jadi saya tidak senang, tapi saya akan tetap kuat dan terus bekerja pada diri saya sendiri."

4 dari 6 halaman

Peter Crouch

Peter Crouch (c) AFP
Peter Crouch (c) AFP

Peter Crouch membela Liverpool selama tiga tahun setelah didatangkan dari Southampton pada tahun 2005. Namun, dia tidak menjadi pilihan utama di bawah Rafael Benitez.

Crouch akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Portsmouth pada 2008. Namun, dia mengaku meninggalkan Liverpool adalah penyesalan terbesarnya dalam sepak bola.

"Ini adalah sesuatu yang telah banyak saya pikirkan. Akan sangat brilian untuk menjadi pemain satu klub atau menghabiskan 10 tahun di tempat tertentu," ujar Crouch kepada Daily Mail.

"Penyesalan klub terbesar saya adalah meninggalkan Liverpool terlalu dini, tetapi keadaan berarti saya tidak punya banyak pilihan.

5 dari 6 halaman

Michael Owen

Michael Owen (c) AFP
Michael Owen (c) AFP

Michael Owen merupakan salah satu striker terbaik Inggris saat bermain bersama Liverpool. Dia bahkan sukses meraih gelar Ballon d'Or pada tahun 2001.

Namun, Owen memutuskan untuk bergabung dengan Real Madrid pada 2004. Setelah gagal bersinar di Spanyol, Owen beberapa kali berharap agar bisa bergabung kembali dengan Liverpool.

"Pada setiap tahap – setiap musim panas – saya menelepon Carra (Jamie Carragher) yang menyuruhnya menemukan cara agar saya bisa kembali," kata Owen di buku Ring of Fire.

"Apakah Rafa menginginkan saya?'. 'Apakah Kenny menginginkan saya? Apakah Brendan menginginkan saya?’ Keadaanlah yang menghentikannya."

"Setiap kali saya tersedia, Liverpool memiliki terlalu banyak striker. Dan ketika Liverpool menginginkan saya, saya cedera. Pada akhirnya, saya bukan pemain seperti sebelumnya dan mereka tidak menyukai saya. Saya tidak cukup baik."

6 dari 6 halaman

Ryan Babel

Penyerang Ajax Amsterdam Ryan Babel berebut bola dengan bek Getafe, Allan Nyom. (c) AP Photo
Penyerang Ajax Amsterdam Ryan Babel berebut bola dengan bek Getafe, Allan Nyom. (c) AP Photo

Ryan Babel menunjukkan sekilas kualitasnya saat di Liverpool. Namun, dia memutuskan untuk hengkang ke Hoffenheim pada tahun 2011.

Kepindahan Babel ke Jerman dimotivasi oleh keinginan untuk bermain secara lebih teratur. Akan tetapi, dia menyesal meninggalkan Liverpool.

“Saya menghabiskan hampir empat tahun di Liverpool di bawah asuhan Rafa Benitez dan Kenny Dalglish. Ketika saya pergi dan bermain di Jerman, di mana TSG Hoffenheim telah menjadi kekuatan besar, itu menjadi penyesalan terbesar dalam karir saya," ungkap Babel.

“Satu-satunya alasan saya pergi adalah karena saya ingin memiliki lebih banyak menit bermain untuk mempertahankan tempat saya di tim Belanda, tetapi Anda tidak menyadari betapa mendominasi gaya bermain di Liverpool sampai Anda bermain di tim dan liga yang berbeda.

“Saya dibesarkan dengan sepak bola yang sangat menyerang di Ajax. Di akademi, Anda belajar bermain seperti itu. Ketika saya pindah ke Liverpool, itu persis sama. Sudah menjadi DNA klub untuk memainkan sepak bola menyerang.”

KOMENTAR

Editorial Lainnya