BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

5 Pemain yang Menyesal Setelah Datang ke Chelsea

19-09-2019 13:46 |

5 Pemain yang Menyesal Setelah Datang ke Chelsea
Fernando Torres (c) AFP

Bola.net - Sejak diakuisisi Roman Abrahmovic pada tahun 2003, Chelsea menjadi salah satu tim yang cukup diperhitungkan dalam sepak bola. Mereka berhasil menjadi juara di Inggris dan Eropa.

Sekarang Chelsea tidak lagi dianggap sebagai tim semenjana. Hal itu tentu saja berkat kedatangan sejumlah pemain kelas dunia di klub.

Didier Drogba, Frank Lampard, John Terry hingga Eden Hazard merupakan pemain bintang yang pernah menghiasi Stamford Bridge. Mereka meraih kesuksesan yang sangat luar biasa di Chelsea.

Namun, tidak semua pemain bisa menemukan kesuksesan di Chelsea. Bahkan tidak sedikit yang kariernya justru meredup setelah datang ke Chelsea.

Berikut ini lima pemain yang gagal bersinar bersama Chelsea seperti dilansir chelseafclatestnews.com.

1 dari 5 halaman

Loic Remy

Pada musim 2013/14, striker Newcastle Loic Remy sedang berada di puncak permainannya. Setelah mencetak 14 gol dalam 27 pertandingan untuk The Magpies, ia pindah ke Chelsea di bawah Jose Mourinho pada 2014.

Namun, Mourinho tidak banyak memberikan kepercayaan penuh kepada Remy. Alhasil, karier Remy tidak terlalu bagus di Stamford Bridge.

Setelah bermain 47 pertandingan untuk klub dalam tiga musim, Remy hanya mencetak 12 gol dan pergi ke Las Palmas pada tahun 2017. Saat ini, Remy sedang bermain di Ligue 1 bersama Lille.

2 dari 5 halaman

Marko Marin

Marko Marin (c) CFC Marko Marin (c) CFC

Marko Marin tiba di Chelsea pada musim yang sama dengan Eden Hazard. Pemain digadang-gadang akan mejadi pemain bintang di Chelsea karena talenta yang dimilikinya.

Marin tampil menjanjikan di Bundesliga dan dicap sebagai 'Next Lionel Messi' saat Chelsea merekrutnya. Namun, Marin hanya tampil 16 kali untuk Chelsea dan lebih sering dipinjamkan ke klub lain.

Setelah dipinjamkan ke empat klub yang berbeda, Marin meninggalkan Chelsea pada tahun 2016. Pemain berusia 30 tahun itu sekarang bermain bersama Red Star Belgrade.

3 dari 5 halaman

Mateja Kezman

Mateja Kezman (c) PA Mateja Kezman (c) PA

129 gol dalam 176 pertandingan tentunya merupakan prestasi yang mengesankan. Itu adalah angka yang dicatat Mateja Kezman di Eredivisie Belanda dari tahun 2000 hingga 2004.

Meski diminati banyak klub, Kezman memutuskan untuk mengejar kesuksesan di Stamford Bridge. Namun, semua mimpinya pupus setelah tiba di klub.

Kezman bermain 47 kali dan hanya mencetak 7 gol pada musim 2004-05. Dia kemudian hengkang ke Atletico Madrid tetapi setelah tidak bisa membangkitkan kariernya. Dia akhirnya pensiun setelah bermain di Tiongkok.

4 dari 5 halaman

Andriy Shevchenko

Andriy Shevchenko (c) AFP Andriy Shevchenko (c) AFP

Shevchenko adalah salah satu striker terbaik di Eropa saat bermain di AC Milan. Bahkan, sang pemain mampu menyabet Ballon d'Or pada tahun 2004.

Roman Abrahamovic merekrutnya dan berharap bisa melihat penampilan ganasnya di Stamford Bridge. Namun, kenyataannya ternyata tidak demikian.

Di Chelsea, Shevchenko hanya mencetak 27 gol dalam 77 pertandingan dan kariernya di London diganggu cedera. Dia akhirnya kembali ke Milan dengan status pinjaman pada tahun 2008 dan statusnya menjadi permanen setahun kemudian.

5 dari 5 halaman

Fernando Torres

Fernando Torres (c) AFP Fernando Torres (c) AFP

Torres mengguncang Premier League dengan kemampuan mencetak golnya. Kombinasinya dengan kapten Liverpool Steven Gerrard saat itu sangat ditakuti lawan-lawannya.

Ketika Torres memutuskan untuk pindah dan bergabung dengan Chelsea pada 2011, banyak yang terkejut dengan hal itu. Torres memang memenangkan Liga Champions bersama The Blues, tetapi secara pribadi, karier El Nino di sana meredup.

Torres hanya mencetak 45 gol dalam 173 pertandingan untuk Chelsea - statistiknya tidak terlalu impresif seperti saat di Liverpool. Setelah menempati posisi ketiga dalam perebutan Ballon d'Or pada tahun 2008, pesona Torres meredup bahkan saat bermain di AC Milan dan Atletico Madrid.


Deretan Pesepak Bola Wanita Terbaik Dunia

KOMENTAR

Editorial Lainnya