BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

3 Klub yang Melakukan Bisnis Terburuk di Bursa Transfer Musim Panas 2019

10-09-2019 16:05 | Aga Deta

3 Klub yang Melakukan Bisnis Terburuk di Bursa Transfer Musim Panas 2019
Matthijs De Ligt (c) Juventus.com

Bola.net - Bursa transfer musim panas kemarin diwarnai dengan beberapa kejutan. Itu termasuk sejumlah klub yang mengeluarkan dana yang sangat besar untuk membeli pemain baru.

Jendela transfer telah dibuka pada 1 Juli dan klub memiliki dua bulan untuk menyelesaikan transaksi transfer.

Jendela transfer memberi klub peluang yang cukup untuk memperkuat area kelemahan, serta melepas pemain yang tidak diinginkan. Perputaran pemain yang cepat secara signifikan mengerek harga pasar.

Dengan jendela yang ditutup, klub harus puas dengan apa yang mereka miliki sampai kesempatan lain muncul ketika jendela musim dingin dibuka pada bulan Januari.

Ada klub yang melakukan bisnis yang luar biasa selama musim panas, ada juga tidak.

Pada bagian ini, situs Sportskeeda menyoroti tiga klub yang menjalankan bisnis transfer terburuk selama musim panas ini. Mereka terlalu banyak mengumbar uang dan melepas pemain yang semestinya bisa jadi andalan mengarungi persaingan musim 2019-2020 ini. Klub mana saja yang melakukan blunder transfer?

1 dari 3 halaman

Juventus

Matthijs De Ligt (c) AP Photo Matthijs De Ligt (c) AP Photo

Juventus menghebohkan bursa transfer saat mereka sukses menyakinkan properti berharga Ajax Amsterdam, Matthijs de Ligt, untuk bermain bersama mereka selama lima tahun.

Namun, belakangan pembelian pemain andalan Timnas Belanda yang senilai 75 juta euro dinilai sebagai sebuah kerugian. Pemain berusia 19 tahun itu, di awal Serie A terlihat kesulitan beradaptasi dengan sistem permainan Juventus.

Ia tidak menawarkan ketenangan di lini belakang, seperti yang biasa dilakukan kapten Juventus, Giorgio Chiellini, yang tengah cedera panjang. Ia melakukan sejumlah blunder saat Juventus berjumpa salah satu rival utamanya Napoli akhir pekan lalu.

Bianconerri juga dinilai melakukan kesalahan dengan merekrut, Aaron Ramsey dan Adrien Rabiot, dengan status bebas transfer. Keduanya punya masalah dengan kebugaran dan disiplin. Karier mereka diprediksi pendek di Turin.

Demikian pula Danilo. Ia pemain yang dinilai bukan kelas Juventus. Saat bermain di Real Madrid dan Manchester City, Danilo kesulitan menembus posisi inti. Banderol transfer 37 juta euro kemahalan. Apalagi Juventus harus melepas Joao Cancelo ke Citizens.

Juventus juga dianggap blunder dengan melepas penyerang wonderkid, Moise Kean, ke Everton. Ia dihargai kemurahan, hanya 32 juta euro.

Juventus semestinya berjuang keras mendapatkan Romelu Lukaku dan Mauro Icardi untuk menambah daya gereget lini depan.

Maurizio Sarri saat ini hanya punya stok penyerang dengan usia rata-rata 33. Tak ideal buat memenangi persaingan Serie A dan Liga Champions.

2 dari 3 halaman

Manchester United

Harry Maguire (c) AP Photo Harry Maguire (c) AP Photo

Manchester United amburadul sejak kepergian Sir Alex Ferguson, dan kejatuhan mereka diperparah strategi transfer yang amat buruk.

Klub secara masif menyudahi musim lalu dengan pencapaian mengecewakan (posisi ke-6 Premier League) hanya membeli tiga pemain baru: dua anak muda yang belum diuji di Aaron Wan-Bissaka dan Daniel James, serta Harry Maguire dengan banderol yang amat mahal.

Setan Merah melepas Alexis Sanchez ke Inter Milan dengan status pinjaman. Man United pun masih menanggung gajinya.

Klub tersebut juga melepas Matteo Darmian (Parma) serta Chris Smalling (AS Roma). Nama terakhir adalah pemain senior yang tenaganya masih bisa dimaksimalkan melapis Harry Maguire dan Victor Lindelof.

Yang lebih membingungkan adalah keputusan untuk membiarkan Romelu Lukaku pergi ke Inter Milan.

Pemain berusia 26 tahun itu mungkin musim lalu mengalami masa-masa sulit berkaitan dengan produktivitas dan kebugaran, namun hal itu tak mengilangkan fakta ia striker hebat yang punya reputasi mentereng di Premier League.

Dia adalah satu dari hanya tiga pemain aktif yang mencetak lebih dari 100 gol di Liga Inggris. Lukaku juga pencetak gol sepanjang masa untuk tim nasional Belgia.

Antonio Conte yang tahu reputasi mentereng Lukaku, merasa mendapat berkah. Ia pun bisa tersenyum melihat performa sang pemain di dua laga awal Serie A.

Ole Gunner Solskjaer bersikukuh bahwa ia butuh penyerang yang dinamis tidak seperti Lukaku yang terlalu kaku berubah posisi. Namun, realitanya Manchester United punya stok penyerang yang terbatas: Anthony Martial, Marcus Rashford, Daniel James dan Mason Greenwood. Mayoritas di antara mereka belum teruji kualitasnya.

3 dari 3 halaman

Real Madrid

Bintang Real Madrid, Eden Hazard (c) AP Photo Bintang Real Madrid, Eden Hazard (c) AP Photo

Merogoh kocek tak kurang dari 300 juta euro, Real Madrid dinilai memilih pemain-pemain baru yang salah.

Real Madrid membuat terobosan besar di pasar, mendatangkan lima pemain baru sebelum pertengahan Juli, dan efeknya skuat tim surplus.

Zinedine Zidane berulangkali mengungkapkan niatnya membuang sejumlah pemain untuk menyeimbangkan skuat. Gareth Bale salah satunya.

Namun, presiden klub Florentino Perez selalu menjadi penggemar mantan pemain Tottenham itu, dan menentang niat Zidane membuang Bale.

Zidane akhirnya pasrah tetap mempertahankan Bale dan James Rodriguez, pemain yang diinginkannya karena Real Madrid juga gagal mendapatkan gelandang serang idaman sang mentor, Paul Pogba.

Lini tengah Real Madrid jadi sektor yang terlemah, karena Luka Modric dan Toni Kroos tidak lagi seperti dulu, dan Zidane menyadari hal itu. Fokus utamanya melakukan perombakan sektor kedua.

Ia sempat mengincar, Donny van de Beek dan Bruno Fernandes, namun negosiasi yang digeber El Real buntu.

Apesnya, pembelian termahal Real Madrid, Eden Hazard, cedera di awal musim. Performa tim terlihat tertatih-tatih.

Real Madrid pun pantas menyesal melego Dani Ceballos ke Arsenal. Di klub barunya sang gelandang serang tampil memesona.

Sumber asli: Sportskeeda
Disadur dari: Bola.com/Penulis Ario Yosia/Editor Ario Yosia
Published: 5 September 2019


10 Pesepak Bola Muslim Berprestasi Saat Ini

KOMENTAR

Editorial Lainnya