BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Opini: Dilema European Super League Buat Fans - Tetap Dukung Klub Idola atau Berpaling?

20-04-2021 12:56 | Yaumil Azis

European Super League. (c) bola European Super League. (c) bola

Bola.net - Polemik European Super League jadi pusat perhatian penikmat sepak bola di seluruh dunia dalam beberapa hari terakhir. Tidak heran, sebab wacana digelarnya kompetisi tersebut menghasilkan kontroversi dan ditentang oleh banyak pihak.

Semua bermula ketika The New York Times merilis laporan soal 12 klub yang dipastikan ambil andil dalam pagelaran European Super League. 12 klub tersebut dikenal sebagai raksasa baik di benua Eropa juga di kancah domestik.

Dua induk sepak bola, UEFA dan FIFA, paling menentang digelarnya European Super League. Selain karena sudah ada Liga Champions dan Liga Europa, keduanya menganggap European Super League terlalu eksklusif untuk klub-klub besar dan mencederai konsep kompetisi terbuka, di mana tim kecil juga bisa ikut berpartisipasi di dalamnya.

Itu terbukti dari regulasi European Super League. Kompetisi ini rencananya bakal diikuti 20 tim. Akan tetapi, 15 tim di antaranya diberikan tempat permanen di dalam klasemen. Ke-15 tim itu nantinya bakal disebut sebagai 'pendiri' kompetisi dan terus keguyuran uang dari hak siar serta sumber pemasukan lainnya.

European Super League mengundang banyak reaksi keras nan negatif dari berbagai kalangan. Lantas, bagaimana fans klub harus menyikapi situasi ini?

1 dari 4 halaman

ESL Runtuhkan Semangat Sepak Bola

Tidak bisa dimungkiri, ESL sangat erat kaitannya dengan uang. Kompetisi ini seakan-akan mengkonfirmasi bahwa industri sepak bola di era sekarang sudah tidak lagi memiliki nilai-nilai penting seperti semangat dan integritas dalam bersaing.

Pada akhirnya, sepak bola hanyalah produk hiburan sementara. Gary Neville selaku mantan pemain Manchester United paling lantang mengingatkan kepada masyarakat bahwa nilai-nilai yang selama ini dijunjung di dunia sepak bola akan hilang dengan kehadiran ESL.

"Kami harus menghentikan ini. Mereka menciptakan monopoli, toko yang terutup, sebuah turnamen yang menjamin mereka ikut. Mereka merebut kejujuran dan integritas dalam kompetisi kami," katanya kepada Sky Sports.

"Apa sih gunanya? Mereka mengambil segalanya dari negara kami. Piramidanya, ketulusan kompetisinya. Kejujuran dan integritas kompetisi yang kami hargai, mereka merebutnya begitu saja," pungkas Neville.

2 dari 4 halaman

Mendukung Klub Idola = Mendukung ESL

Problematikanya, peserta European Super League adalah klub-klub raksasa yang memiliki banyak penggemar. Klaim ini bisa dengan sangat mudah dibuktikan dari jumlah pengikut klub di media sosial ternama.

Sampai tulisan ini dibuat, Real Madrid, di mana Florentino Perez selaku presiden juga dikenal sebagai penggagas European Super League, memiliki pengikut sebanyak 97,1 juta orang di Instagram. Disusul Barcelona yang memiliki pengikut 95,9 juta orang. Inter Milan menjadi klub dengan jumlah pengikut paling sedikit. Tapi angkanya pun masih fantastis, 6,5 juta orang.

Dengan logika berpikir dasar, mendukung klub idola sama saja dengan mendukung digelarnya European Super League. Artinya, fans mendukung dengan sepenuh hati hilangnya nilai-nilai penting dalam dunia sepak bola seperti yang telah dijabarkan pada poin pertama.

Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan oleh fans? Mengakui sepak bola sebagai produk penghasil uang di dunia hiburan dengan mendukung tim idola di ESL, atau ikut arus pertentangan seperti kebanyakan orang?

3 dari 4 halaman

Mendukung ESL? Kenapa Tidak?

Memangnya kenapa kalau mendukung ESL? Mungkin, Bolaneters akan berpikir demikian. Pada akhirnya, European Super League menjanjikan banyak hal yang berkaitan dengan kelangsungan hajat klub-klub kesayangan mereka.

Klub membutuhkan uang agar tetap hidup. Demikian juga dengan para pemain yang sudah dari sananya punya kebutuhan manusia pada umumnya. Kalau klub tidak memikirkan uang, para pemain bisa dibayar pakai apa?

Dari artikel Analisis: Jangan Keburu Marah, Yuk Pahami Super League Sepenuhnya, kita bisa lihat kalau sumber pemasukan klub sangat terbatas. Sekilas tampak cukup, sampai mata mengalihkan pandangannya ke Barcelona yang sedang dipusingi oleh masalah keuangan.

Kita sudah diperlihatkan bagaimana Real Madrid harus mengikat kencang pinggangnya dengan tidak membeli satupun pemain di bursa transfer musim panas lalu. Florentino Perez mengungkapkan bahwa klub sedang mengalami kerugian sebesar 400 juta euro.

European Super League menjanjikan uang dengan total sebesar 3,5 miliar euro di muka untuk klub-klub yang berpartisipasi. Siapa yang tidak tergiur? Apalagi di tengah situasi pandemi yang membuat klub-klub raksasa tersebut sengsara. Ikut European Super League adalah pilihan realistis buat klub-klub besar agar bisa bertahan hidup.

4 dari 4 halaman

Harus Berpaling ke Mana?

Peserta ESL adalah klub-klub raksasa, yang dipenuhi oleh pemain-pemain bertalenta dan memiliki sederet gelar membanggakan di kabinet juaranya. Termasuk Arsenal, meski belakangan ini kabinet trofinya tidak mengalami penambahan yang signifikan.

Kalau memang enggan mendukung ESL beserta rusaknya nilai-nilai dalam dunia sepak bola, Bolaneters bisa berpaling mendukung tim lain. Masalahnya, berpaling ke mana?

Bolaneters mungkin bisa berpaling ke PSG. Mereka adalah tim raksasa Eropa yang sedang menimbun banyak piala di kabinetnya, Akan tetapi, kebanyakan piala tersebut berasal dari kompetisi domestik yang secara praktik sudah menjadi milik Les Parisiens.

Bicara soal persaingan di kancah domestik, klub-klub Bundesliga mungkin bisa menjadi opsi terbaik. Saat ini, kompetisi tersebut sedang naik daun karena tidak lagi dikuasai sepenuhnya oleh Bayern Munchen. Borussia Dortmund dan RB Leipzig belakangan mulai memberikan perlawanan sepadan.

Sisa tim Premier League dan Serie A juga bisa menjadi opsi. AS Roma dan Atalanta sepertinya takkan ikut dalam European Super League. Begitu juga dengan Leicester City. Apa mungkin mendukung West Ham yang sedang bersinar bersama Jesse Lingard dan Declan Rice? Sah-sah saja.

*Catatan: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis, tidak terkait dengan pandangan media

KOMENTAR