BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Kaleidoskop Ballon d'Or dan FIFA Best 2019: Kembali ke Pelukan Lionel Messi

28-12-2019 10:30 | Richard Andreas

 (c) AP Photo (c) AP Photo

Bola.net - Tahun 2019 layak dianggap sebagai tahunnya Lionel Messi. Megabintang Barcelona ini kembali menyandang status pesepak bola terbaik di dunia yang ditegaskan lewat dua penghargaan individu tertinggi: The Best FIFA Men's Player dan Ballon d'Or.

Mengawinkan dua penghargaan ini umum terjadi dalam satu tahun kalender. Tahun 2018 lalu ada Luka Modric yang meraih keduanya, gelandang 34 tahun ini menjalani musim luar biasa bersama Real Madrid dan Kroasia.

Kini, dua penghargaan prestisius itu kembali ke tangan Lionel Messi. Kemenangan Messi sempat memicu perdebatan, sebab dia dinilai tidak benar-benar sukses perihal meraih trofi.

Namun, ada banyak alasan lain untuk memilih Messi sebagai yang terbaik. Baca selengkapnya di bawah ini ya, Bolaneters!

1 dari 3 halaman

The Best FIFA Men's Player 2019

Penghargaan pemain terbaik versi FIFA ini dimulai lebih dahulu. Ada daftar 10 pemain yang dirilis pada 31 Juli 2019, lalu mengerucut jadi tiga finalis pada 2 September 2019.

Seperti biasa, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sukses menembus kandidat tiga besar tersebut. Kali ini ada Virgil van Dijk yang menemani dua pemain terbaik di dunia itu.

Sebelum Messi resmi jadi pemenang, adalah Van Dijk yang jadi favorit banyak orang. Dia menjalani musim yang luar biasa bersama Liverpool dengan menjuarai Liga Champions dan nyaris mewujudkan mimpi di Premier League.

Biar begitu, pada akhirnya tetap Messi yang terpilih. La Pulga meraih 45 poin, diikuti Van Dijk dengan 38 poin, dan Ronaldo dengan 36 poin.

"Saya sangat senang bisa menerima penghargaan ini. Seperti yang selalu saya katakan, penghargaan individu selalu jadi nomor dua bagi saya sebab hanya tim yang paling penting," ungkap Messi di laman resmi FIFA.

Kemenangan Messi mengundang keraguan. Dia hanya bisa membantu Barcelona meraih trofi La Liga, gagal di Liga Champions dan Copa del Rey.

Trofi La Liga itu bahkan terasa hambar karena kegagalan di Liga Champions yang begitu menyakitkan. Blaugrana dihajar Liverpool 0-4 di Anfield pada leg kedua partai semifinal, Messi bahkan tidak berdaya melawan.

Messi bahkan tidak membantah. Dia mengakui musim itu terasa aneh, sebab kekalahan dari Liverpool telah mengubah segalanya.

"Ini musim yang aneh [2018/19]. Kami sempat menjalani musim fantastis sebagai tim tetapi satu pertandingan mengubah segalanya [kekalahan dari Liverpool]. Itu melahirkan kekecewaan besar sehingga kami tidak bisa menganggap penting Liga dan kami tidak bersiap dengan baik untuk final Copa del Rey," lanjut Messi.

Messi mungkin mengakui musimnya aneh, tapi dunia tetap mengakuinya sebagai yang terbaik. Entah sudah berapa kali Messi menyelamatkan Barca dari kekalahan atau permainan buruk, perannya itulah yang jadi tolok ukur utama.

Setiap tahun, perdebatan perihal tolok ukur pemain terbaik ini selalu menarik. Ada yang menilai trofi sebagai patokan utama, sebagian lain menilai musim secara keseluruhan. Kali ini, Messi dinilai terbaik berkat penilaian satu musim penuh.

2 dari 3 halaman

Ballon d'Or 2019

Akhir tahun 2019, tepatnya pada 2 Desember kemarin, Messi melengkapi torehannya dengan meraih Ballon d'Or ke-6 sepanjang kariernya. Trofi ini kembali membawa Messi mengungguli Ronaldo yang sudah mengoleksi 5 Ballon d'Or.

Sama seperti penghargaan versi FIFA, Messi dan Ronaldo ditemani Van Dijk dalam tiga besar. Kali ini Ronaldo tertinggal jauh dari dua rivalnya, sementara Messi hanya unggul tipis dari Van Dijk.

Tercatat, Messi meraih 686 poin di peringkat pertama, Van Dijk mengekor dengan 679 poin, dan Ronaldo dengan 476 poin. Tolok ukur Ballon d'Or sedikit lebih ketat ketimbang FIFA Best, satu poin sangat berarti.

Sama seperti penghargaan versi FIFA, Ballon d'Or ke-6 Messi pun memicu perdebatan. Argumennya serupa, Messi dianggap tidak layak karena torehan trofi yang biasa-biasa saja.

Uniknya, Van Dijk yang selalu jadi nomor dua mengakui Messi sebagai yang terbaik. Van Dijk memang kecewa, tapi dia tahu hanya Messi yang pantas meraih trofi bergengsi individual tersebut.

Ini merupakan Ballon d'Or pertama Messi setelah absen selama tiga edisi terakhir. La Pulga terakhir meraihnya pada tahun 2015, lalu dihentikan Ronaldo pada tahun 2016 dan 2017, diselingi Luka Modric pada tahun 2018, dan kembali ke pelukan Messi tahun 2019 ini.

Messi boleh jadi menomorduakan penghargaan individual, tapi dia pun merasa kecewa ketika Ronaldo menyamai torehan Ballon d'Or ke-5 pada tahun 2017 lalu.

"Di sisi lain, saya menikmati lima trofi milik saya dan menjadi satu-satunya pemain yang melakukannya. Ketika Cristiano menyamainya, saya akui saya merasa sedikit sakit hati. Saya tak lagi sendirian di puncak. Namun, itu masuk akal walau menyenangkan ketika saya masih memiliki lima trofi sendirian," ujar Messi.

Jika mengamati kembali kemenangan Ronaldo dan Modric, mulai terbaca pola Ballon d'Or yang tidak dimenangkan Messi. Rumusnya sederhana: Messi dianggap nomor satu dan akan selalu menang, bagaimanapun musimnya berjalan. Alhasil, satu-satunya cara menghentikan dominasi Messi adalah dengan meraih trofi-trofi bergengsi, seperti yang dilakukan Ronaldo dan Modric pada era kejayaan Real Madrid.

Messi pun tidak bisa membantah asumsi tersebut. Dia tahu tolok ukur Ballon d'Or berubah-ubah, sebab ada banyak orang di seluruh dunia yang terlibat dalam pemungutan suara.

"Apakah saya merasa diperlakukan tidak adil? Tergantung Anda yang menilainya, apakah Ballon d'Or diberikan kepada pemain terbaik atau pemain yang menikmati musim terbaik," ujar Messi.

"Hal itu juga bergantung pada selera pribadi. Beberapa orang memilih Cristiano, beberapa lainnya memilih saya, atau Neymar, atau Kylian Mbappe. Mereka punya hak untuk memilih satu pemain yang paling mereka sukai."

Messi boleh jadi bersikap netral, tapi statistik tidak bisa berbohong. Ada banyak alasan untuk menyebut Messi sebagai pemain terbaik.

3 dari 3 halaman

Alasan Messi Jadi yang Terbaik

Menuntun Barca Menjuarai La Liga

  • Trofi La Liga 2018/19 merupakan trofi ke-34 sepanjang karier Messi, dia merupakan pemain Barcelona dengan torehan trofi terbanyak sepanjang sejarah.

Meraih Pichichi ke-6

  • Leo Messi kembali menjadi top scorer La Liga 2018/19, dengan torehan 36 gol dari 34 pertandingan. Ini merupakan gelar Pichichi keenamnya, menyamai torehan Telmo Zarra di puncak.

Golden Shoe ke-6

  • 36 gol Messi di La Liga pun membuatnya jadi nomor satu di Eropa. Dia mendapatkan sepatu emas dengan torehan 72 poin. Tiga musim beruntun, kali ini yang nomor enam.

Top Scorer Liga Champions

  • Tidak hanya di La Liga, Messi pun berjaya di Liga Champions perihal mencetak gol. Dia mengoleksi 12 gol hanya dalam 10 pertandingan, bahkan gol tendangan bebasnya ke gawang Liverpool terpilih sebagai yang terbaik.

Top Assist di La Liga

  • Messi tidak hanya jago perihal mencetak gol, dia pun meladeni rekan-rekannya dengan 13 assists di La Liga musim 2018/19.

Catatan Luar Biasa

  • Sepanjang tahun 2019, Messi telah mencetak 41 gol dalam 44 pertandingan. Dia hanya tertinggal satu gol dari Robert Lewandowski, plus 15 assists. Di antara puluhan gol tersebut, Messi menorehkan 3 hattrick dan 7 brace.

Gol Tendangan Bebas

  • Messi sukses mencetak 52 gol tendangan bebas sepanjang kariernya: 46 bersama Barca, 6 untuk Argentina.

700 dan 600

  • Messi telah melewati 700 penampilan bersama Barcelona, hanya kalah dari Xavi Hernandez (767) yang mungkin bakal segera tersalip. Dia pun telah mencetak 614 gol untuk Blaugrana, terbanyak sepanjang sejarah.

Medali Perunggu Copa America

  • Meski Argentina gagal menjuarai Copa America, Messi tetap layak dianggap sebagai salah satu pemain terbaik. Argentina dikalahkan Brasil di semifinal, tapi bisa mengalahkan Chile di perebutan tempat ketiga.

Kemenangan Terbanyak

  • Di semua kompetisi, Messi mencatatkan 496 kemenangan untuk Barcelona. Dia telah menyalip Xavi perihal pemain Barca dengan torehan kemenangan terbanyak.

KOMENTAR