3 Alasan Julian Nagelsmann Cocok Gantikan Jose Mourinho di Tottenham

Aga Deta | 2021-03-01 17:55
Pelatih RB Leipzig, Julian Nagelsmann meluapkan kegembiraan usai singkirkan MU di Liga Champions, Rabu (9/12/2020) dini hari. (c) AP Photo

Bola.net - Julian Nagelsmann saat ini merupakan pelatih RB Leipzig. Namun, pelatih asal Jerman itu disebut-sebut sangat pantas untuk menggantikan Jose Mourinho di Tottenham.


Julian Nagelsmann merupakan satu di antara pelatih muda berbakat di Eropa. Berkat taktik yang diterapkannya, RB Leipzig berhasil lolos ke semifinal Liga Champions dan akan bersua tim mapan Paris Saint-Germain.

Sukses mendongkrak performa 1899 Hoffenheim membuat Nagelsmann diincar Leipzig. Dia akhirnya resmi duduk di kursi pelatih Die Roten Bullen pada 21 Juni 2019.

Julian Nagelsmann menggantikan peran Ralf Rangnick, yang ditunjuk menjabat sebagai Direktur Utama Sepak Bola Global Red Bull GmbH. Bersama RB Leipzig, Nagelsmann sepakat menandatangani kontrak berdurasi empat musim.

Di bawah asuhan Julian Nagelsmann, Leipzig mampu tampil impresif. Dari 80 pertandingan di seluruh ajang, Die Roten Bullen berhasil meraih 48 kemenangan, 19 hasil imbang, dan menelan 13 kekalahan.

Torehan tersebut membuat RB Leipzig finis di peringkat ketiga klasemen Bundesliga musim ini dengan nilai 66. Selain itu, Leipzig juga berhasil lolos ke semifinal Liga Champions dan akan bersua Paris Saint-Germain di Estadio da Luz, Rabu (19/8/2020) dini hari WIB.

Berikut ini tiga alasan mengapa Julian Nagelsmann cocok menjadi manajer Tottenham Hotspur.

1 dari 3 halaman

Tottenham Hotspur Biasa Dilatih Manajer Muda

Mungkin banyak yang merasa kalau Tottenham Hotspur sudah seharusnya dilatih oleh manajer yang kenyang pengalaman seperti Jose Mourinho. Namun di sisi lain, Spurs menjelma menjadi tim kuat Liga Inggris ketika dilatih oleh manajer muda.

Andre Villas-Boas dan Mauricio Pochettino jadi bukti sahih betapa para manajer muda punya andil menerbangkan Tottenham ke jajaran elite Liga Inggris.

Villas-Boas meninggalkan klub dengan persentase kemenangan liga tertinggi di antara manajer Tottenham mana pun di era Premier League.

Nagelsmann yang baru berusia 33 tahun, masuk kriteria ini. Terlebih, ia juga punya modal bagus dengan catatan impresif bersama Hoffenheim dan RB Leipzig.

2 dari 3 halaman

Doyan Bereksperimen

Dulu, Tottenham Hotspur akrab dengan formasi 4-4-2 dan 4-4-1-1. Era Niko Kranjcar dan Luka Modric, ditambah dengan sokongan Sandro sebagai penyeimbang, Spurs merupakan tim yang solid.

Revolusi di Tottenham berlanjut seiring bergantinya pelatih, mulai dari 4-2-3-1, hingga 4-4-2 diamond. Namun pondasi utamanya tetaplah 4-4-2 dengan kreativitas di sayap seperti diperagakan Gareth Bale hingga Aaron Lennon.

Julian Nagelsmann, sepanjang musim lalu, terbiasa menggunakan formasi 4-4-2, meski musim ini doyan memakai formasi 3-4-2-1, 4-2-3-1, dan 4-3-2-1. Kepercayaan dirinya menggunakan formasi beragam jadi nilai plus.

Skuad Tottenham musim ini terbilang fleksibel dengan menumpuknya gelandang mulai dari Steven Bergwijn, Lucas Moura, hingga Erik Lamela. Nagelsmann diyakini bisa leluasa bereksperimen dengan komposisi pemain yang ada.

3 dari 3 halaman

Usung Perubahan

Kekuatan lain Nagelsmann adalah kemampuannya mengolah sumber daya pemain. Bekal ini didapat karena ia pernah menjadi talent scout buat Thomas Tuchel.

Julian Nagelsmann menyebut jika eks pelatih Bayern Munchen, Pep Guardiola, sebagai sumber inspirasi. Akan tetapi, Nagelsmann mengakui jika Thomas Tuchel justru memiliki pengaruh besar dalam kariernya di dunia pelatih.

Ketika Tuchel menangani Augsburg II pada musim 2007/2008, Nagelsmann menjabat sebagai assisten pelatih. Thomas Tuchel memberi tugas kepada Julian Nagelsmann untuk mencari lawan yang akan dihadapi Augsburg II.

"Itulah cara saya melatih. Saya belajar banyak dari dia (Thomas Tuchel)," ucap Nagelsmann.

Sumber: Berbagai sumber

Disadur dari: Bola.com/Penulis Gregah Nurikhsani
Published: 26 Februari 2021

KOMENTAR

BERIKAN KOMENTAR