BERITA JADWAL KLASEMEN BUNDESLIGA LAINNYA

Taufik Hidayat, Legenda Badminton Indonesia yang Tak Pernah Juarai All England

30-03-2020 17:35 | Anindhya Danartikanya

Taufik Hidayat (c) AFP/Adek Berry Taufik Hidayat (c) AFP/Adek Berry

Bola.net - Pecinta bulu tangkis pasti tahu benar siapa Taufik Hidayat. Ya, ia adalah legenda bulu tangkis Indonesia, yang sukses meraih begitu banyak gelar juara saat masih aktif bermain. Bahkan medali emas Olimpiade pun berhasil diraihnya. Sayang, ia sama sekali tak pernah merebut gelar juara All England.

Kariernya sebagai pebulu tangkis andalan Indonesia sudah menelurkan prestasi sejak 1997, di mana ia mampu meraih medali emas Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia di Manila untuk nomor perorangan dan medali perak di nomor beregu. Setelah itu, Taufik meraih medali perunggu Kejuaraan Bulutangkis Asia 1998 di Bangkok.

Punya awal karier yang cemerlang, Taufik pun mulai menjadi andalan Indonesia di sejumlah pentas bulu tangkis, termasuk di multi-event, di mana medali emas Asian Games 1998 diraihnya untuk nomor beregu putra.

Setelah itu, dua medali emas SEA Games 1999 diraihnya dari nomor perorangan maupun beregu. Medali emas Kejuaraan Bulu Tangkis Asia pada 2000 yang digelar di Jakarta pun menjadi miliknya, selain mengantar tim putra Indonesia meraih juara Piala Thomas di Kuala Lumpur pada tahun yang sama.

Total 5 medali emas SEA Games, 3 medali emas Kejuaraan Bulu Tangkis Asia, 3 medali Asian Games, 2 kali membawa tim Indonesia meraih Piala Thomas, dan satu kali menyabet medali emas di Kejuaraan Bulu Tangkis Dunia menjadi ragam prestasi yang diraih Taufik.

Tapi, tentu tidak ada yang lebih prestisius dari keberhasilannya meraih medali emas Olimpiade 2004 di Athena, Yunani. Taufik menjadi Olimpian kelima Indonesia dari cabang bulu tangkis, meneruskan sukses Alan Budi Kusuma, Susy Susanti, Rexy Mainaky/Ricky Subagja, dan Tony Gunawan/Candra Wijaya.

Tidak ada yang lebih besar dari prestasi meraih medali emas di level Olimpiade. Hal itu menjadikan Taufik pantas masuk sebagai legenda bulu tangkis Indonesia. Namun, status legenda itu sedikit kurang memuaskan karena pebulu tangkis asal Bandung itu tidak pernah berhasil menjadi juara di All England, turnamen bulu tangkis tertua di dunia.

1 dari 4 halaman

Jadi Runner-up dalam Debut All England

Taufik ikut All England untuk pertama kalinya pada 1999. Talentanya sebagai pebulu tangkis muda berusia 17 tahun memang luar biasa. Taufik menyingkirkan Park Tae-sang asal Korea Selatan, Knowles asal Inggris, Fung Permadi yang membawa nama Chinese Taipei, dan Hoyer Larsen asal Denmark, untuk mencapai babak final.

Semua pertandingan tersebut dilaluinya dengan kemenangan dua gim langsung. Pertarungan sengit pun terjadi di final, di mana Taufik berhadapan dengan andalan Denmark, Peter Gade. Taufik memberikan perlawanan sengit hingga akhirnya harus menyerah 11-15, 15-7, dan 10-15 di pertandingan puncak tersebut.

Keberhasilan Taufik mencapai final All England dalam debutnya dan memberikan perlawanan ketat terhadap Peter Gade tetap harus diacungi jempol.

2 dari 4 halaman

Sampai Final di Tahun Kedua dan Kembali Jadi Runner-up

Sebagai pebulu tangkis muda yang baru saja menyabet dua medali emas di SEA Games 1999, Taufik begitu bersemangat. Hal tersebut kembali ditunjukkannya saat tampil di All England 2000. Performa luar biasa kembali diperlihatkan oleh Taufik dari babak 32 besar hingga semifinal.

Cheng Gang dari China, Kenneth Jonassen dari Denmark, Chen hong dari China, dan Fung Permadi yang saat itu membela Chinese Taipei, berhasil dibungkamnya dengan permainan dua gim langsung.

Namun, sayang Taufik lagi-lagi harus melepas kesempatan menjadi juara di All England seperti tahun sebelumnya. Taufik seakan kehilangan stamina dan kalah dua gim langsung 6-15 dan 13-15 dari pebulutangkis China, Xia Xuanze, di pertandingan final.

3 dari 4 halaman

Tak Pernah Lagi Mencapai Final All England hingga Gantung Raket

Sejak itu, Taufik absen dari All England hingga akhirnya kembali ke turnamen tertua di dunia itu pada 2004. Namun, status runner-up All England 1998 dan 1999 tetap menjadi raihan terbaiknya di turnamen yang digelar di Birmingham, Inggris itu.

Pada 2004, Taufik melaju hingga semifinal hingga kalah oleh Peter Gade di babak empat besar. Kembali absen dan kembali tampil di All England pada 2008, Taufik hanya mencapai perempat final karena kalah dari Lee Chong Wei.

Taufik kembali tampil pada All England 2009. Namun, lagi-lagi Lee Chong Wei membuatnya tersingkir saat kedua pebulutangkis tersebut bertemu di semifinal. Pada 2010, Taufik kembali hanya mencapai perempat final setelah tersingkir oleh Peter Gade lewat pertandingan yang berjalan ketat dan dramatis.

All England 2011 menjadi yang paling pahit bagi Taufik. Tampil sebagai unggulan kedua dalam turnamen tersebut, Taufik justru tersingkir di babak pertama setelah kalah dari pebulu tangkis Jepang, Kazushi Yamada.

Namun, ketika tampil bukan sebagai unggulan di All England 2012, Taufik seakan kembali mampu memperlihatkan permainan terbaiknya meski akhirnya harus terhenti di babak perempat final setelah kalah dari Lin Dan.

Sementara dalam keikutsertaan terakhirnya di All England sebelum gantung raket, Taufik hanya tampil satu kali di Birmingham. Pebulu tangkis Indonesia itu kalah dua gim langsung dari tunggal putra Jepang, Sho Sasaki, di babak pertama All England 2013.

Disadur dari: Bolacom/Penulis: Benediktus Gerendo Pradigdo/Editor: Benediktus Gerendo Pradigdo/Dipublikasi: 28 Maret 2020

4 dari 4 halaman

Video: Match Highlight - Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe vs Marcus Gideon/Kevin Sanjaya

KOMENTAR